BACAMALANG.COM – Perjuangan warga Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk bangkit setelah diguncang gempa bumi bermagnitudo (M) 7,7 masih panjang. Ribuan warga hingga kini masih bertahan di pengungsian, sementara kebutuhan dasar terus meningkat.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis (3/9/2026) pukul 09.00 WIB, gempa yang berpusat di wilayah Flores, Timur Laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, menyebabkan 127 orang meninggal dunia dan 1.712 orang mengalami luka-luka.
Sementara itu, sebanyak 181.354 warga masih mengungsi akibat dampak bencana tersebut.
Kerusakan rumah juga tercatat sangat besar. Data BNPB per 1 September 2026 pukul 17.00 WIB mencatat 97.215 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 27.294 rumah rusak berat, 22.137 rusak sedang, dan 47.784 rusak ringan.
Dampak gempa turut dirasakan pada fasilitas publik. Sebanyak 502 fasilitas pendidikan, 157 fasilitas kesehatan, 506 rumah ibadah, 573 kantor, 157 ruas jalan, serta 71 jembatan tercatat terdampak atau mengalami kerusakan.
Ancaman juga belum sepenuhnya berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga 3 September 2026 telah terjadi 11.630 gempa susulan, dengan 168 di antaranya dirasakan masyarakat.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga masih memilih bertahan di pengungsian karena khawatir kembali ke rumah yang terdampak gempa.
Kebutuhan para pengungsi pun masih sangat besar. Mulai dari makanan, air bersih, obat-obatan, selimut, hingga perlengkapan sekolah bagi anak-anak menjadi kebutuhan yang terus diperlukan.
Malang Peduli Terus Bergerak
Kepedulian terhadap warga terdampak gempa NTT juga terus tumbuh dari Malang Raya.
Komunitas Peduli Malang atau ASLI Malang membuka posko penggalangan dana dan bantuan logistik sebagai bentuk solidaritas untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
Perwakilan Komunitas Peduli Malang atau ASLI Malang, Yoeni Achyar, mengatakan bantuan dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk meringankan beban para pengungsi.
“Kami dari Malang Peduli membuka posko penggalangan dana dan logistik. Perjuangan warga Flores belum selesai. Bumi masih bergerak. Kepedulian kita jangan ikut berhenti. Mereka membutuhkan makanan, air bersih, obat-obatan, selimut, hingga perlengkapan sekolah anak-anak,” ujar Yoeni, Jumat (4/9/2026).
Ia mengajak masyarakat Malang dan sekitarnya untuk bersama-sama memberikan dukungan sesuai kemampuan masing-masing.
Bantuan yang terkumpul akan disalurkan melalui koordinasi dengan BNPB dan pemerintah daerah setempat agar dapat diterima masyarakat yang membutuhkan.
Gerakan solidaritas juga dilakukan berbagai elemen di Malang Raya. Sejumlah kampus, komunitas, lembaga amal, serta organisasi kemasyarakatan membuka posko dan menggalang bantuan.
Bantuan yang dihimpun meliputi uang tunai, kebutuhan pokok, obat-obatan, perlengkapan bayi, selimut, hingga perlengkapan sekolah.
Pemerintah Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu bersama Baznas, PMI, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan turut mengoordinasikan bantuan untuk korban gempa NTT.
Bantuan kemudian dikirim secara bertahap melalui jalur laut maupun udara untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah terdampak.
Selain bantuan logistik, dukungan sumber daya manusia juga diberikan. Sejumlah relawan membantu proses evakuasi, pendataan, serta distribusi bantuan di lokasi terdampak.
Tenaga kesehatan dari sejumlah rumah sakit juga turut memberikan pelayanan darurat, termasuk menangani korban luka, penyakit pascabencana, hingga pendampingan psikologis bagi anak-anak di pengungsian.
Bagi warga Flores, proses pemulihan masih panjang. Dari Malang, solidaritas terus dijaga agar mereka tidak menghadapi masa sulit ini sendirian.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

























































