BACAMALANG.COM – Limbah botol plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai kini mendapat kehidupan baru di Kampung Biru Arema (KBA), Kota Malang. Melalui inovasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sampah plastik dapat diolah menjadi bahan baku berbagai produk kreatif bernilai ekonomi.
Inovasi tersebut digagas Ahmad Zaipan Rifa’i, mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik UMM angkatan 2023. Ia menciptakan mesin pencacah sekaligus pelebur plastik yang dirancang untuk membantu warga mengolah limbah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan dan dijual.
Zaipan mengatakan, gagasan tersebut muncul dari keprihatinannya terhadap banyaknya limbah botol plastik yang belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, ia melihat potensi kampung tematik di Kota Malang untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata yang tidak hanya mengandalkan tampilan visual.
“Kita ingin menciptakan wisata tambahan berupa edukasi, yang menjadi salah satu syarat pengembangan pariwisata. Ini menjadi langkah mengubah visual tourism menjadi education tourism melalui pemanfaatan mesin pencacah plastik, yaitu memutar ulang sampah menjadi karya,” ungkap Zaipan, Jumat (4/9/2026).
Sebagai mahasiswa yang juga menyandang predikat Duta Wisata Kota Malang, Zaipan menilai kampung tematik memiliki peluang besar menghadirkan pengalaman wisata yang lebih interaktif. Pengunjung tidak hanya melihat kawasan wisata, tetapi juga dapat belajar secara langsung mengenai pengolahan sampah dan proses pembuatan produk kreatif.
Menurut Zaipan, Kota Malang memiliki 23 kampung tematik yang menyimpan potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis edukasi. Kecamatan Klojen menjadi salah satu kawasan yang memiliki sejumlah kampung tematik dengan lokasi relatif berdekatan.
“Potensinya besar. Kampung tematik tidak hanya bisa menjadi tempat untuk berfoto, tetapi juga menghadirkan aktivitas yang memberikan pengalaman dan pengetahuan bagi wisatawan,” jelasnya.
Mesin pencacah dan pelebur plastik tersebut dikembangkan melalui riset bersama dosen Teknik Industri UMM. Prosesnya melibatkan kepala program studi, mahasiswa, serta pihak ketiga dalam pengerjaan teknis.
Pembuatan mesin berlangsung sekitar satu bulan, mulai 15 Juni hingga 15 Juli 2026. Total biaya yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp7,15 juta.
Cara kerja mesin tersebut cukup sederhana. Botol plastik terlebih dahulu dimasukkan ke bagian pencacah hingga berubah menjadi serpihan kecil. Setelah itu, serpihan plastik dipanaskan dan dilebur menggunakan cetakan untuk menghasilkan lembaran atau bentuk tertentu.
Hasil olahan tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif, seperti tatakan gelas, gantungan kunci, hingga suvenir khas Kampung Biru Arema.
“Saya juga ingin inovasi ini menjadi peluang ekonomi baru bagi warga Kampung Biru Arema agar dapat mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomis,” ujarnya.
Mesin tersebut memiliki dua fungsi utama, yakni mencacah dan melebur plastik. Kehadirannya diharapkan dapat mempercepat proses pengolahan limbah sekaligus membuka kesempatan bagi warga untuk terlibat dalam produksi suvenir yang nantinya dapat dipasarkan kepada wisatawan.
Pemilihan Kampung Biru Arema sebagai lokasi penerapan menjadi langkah awal untuk menguji konsep pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan wisata edukasi.
Respons warga terhadap inovasi tersebut pun cukup positif. Masyarakat berharap keberadaan mesin itu tidak hanya membantu mengurangi limbah plastik, tetapi juga dapat menciptakan peluang usaha dan sumber pendapatan baru.
Gagasan tersebut sekaligus menjadi bagian dari program kerja Zaipan dalam ajang Pemilihan Duta Wisata Raka Raki Jawa Timur 2026.
Ke depan, Zaipan berharap inovasi tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat. Ia juga berharap konsep serupa dapat diterapkan di kampung-kampung wisata lainnya.
Menurutnya, kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat dapat melahirkan solusi sederhana yang memiliki dampak luas, terutama dalam mengubah persoalan sampah menjadi peluang ekonomi sekaligus memperkuat daya tarik wisata edukasi.
Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

























































