Pertunjukkan “Obelisk dan Perempuan dari Musim Hujan” Karya Sutradara Anwari Siap Digelar

Para aktor berlatih di Kamateatra Art Space, Singosari, Malang, belum lama ini. (Ist)

BACAMALANG.COM – Obelisk dan Perempuan dari Musim Hujan lahir di tengah kacau pandemi Covid 19 yang memasifkan hampir sebagian besar pertunjukan teater di Indonesia.

“Sebagai pelaku teater, kami berkomitmen untuk tetap berproses dengan memanfaatkan teknologi dan karantina pemain,” ungkap Anwari dalam rilis yang disampaikan Kamis (25/3/2021).

Pertunjukan ini, imbuh dia, awalnya merupakan dua pertunjukan yaitu Obelisk dan Perempuan dari Musim Hujan.

Obelisk adalah naskah dan pertunjukan yang baru digarap Anwari tahun ini.

“Sedangkan Perempuan dari Musim Hujan telah mengalami beberapa perjalanan uji coba sejak tahun 2019 dengan beberapa aktor dan dengan beberapa variasi judul,” ujar pria asal Madura ini.

Di tahun 2021 ini Anwari berinisiatif menggabungkan dua pertunjukan ini dalam sebuah judul namun dengan ruang yang berbeda di mana keduanya memunculkan keresahan masing-masing. Penggabungan dua pertunjukan menjadi satu judul sejatinya juga merupakan uji coba yang akan terlihat saat para aktor dan ruang pertunjukannya bertemu dengan penonton.

Pertunjukan ini menghadirkan dua ruang yang membawakan isu masing-masing.

“Obelisk adalah wujud pencampuradukan peristiwa-peristiwa di alam sadar dan alam bawah sadar sehingga garis pemisah di antara keduanya sudah tidak tampak lagi. Sedangkan ruang Perempuan dari Musim Hujan membawa keresahan perempuan sebagai pusat dari segala. Ia adalah sumber estetika, pengetahuan, kehidupan, hingga jiwa yang hinggap di setiap tubuh manusia,” papar sutradara yang sempat beberapa kali mengikuti pelatihan teater di Jepang ini.

Dua ruang ini ditarik oleh benang merah suatu keresahan yang hidup menetap di alam pikiran dan diri manusia.

Di awal proses untuk latihan reading dan bedah naskah dilakukan melalui google meet.

“Sedangkan proses latihan lanjutannya adalah dengan melakukan karantina beberapa hari untuk aktor di Kamateatra Art Space, dimana medan berlatih yang digunakan adalah area panggung terbuka, persawahan, dan kebun ubi,” terangnya.

Para aktor akan menjadi catatan, apakah mereka mampu mempertahankan intensitas berlatih Anwari’s Method: Reality of Body di tengah jadwal berlatih yang tidak bisa setiap saat bertemu, juga dengan pemahaman mereka akan teks yang dibedah secara virtual bersama sesama aktor dan praktisi.

“Pada akhirnya, momen pandemi akan menjadi catatan khusus bagi proses penyutradaraan kami dan proses berlatih aktor untuk tetap produktif dengan tantangan: jarak, teknologi, dan rasa setia berkesenian,” tandas Anwari.

Pertunjukan ini diproduseri oleh Elyda K. Rara dengan sutradara dan penulis naskah Anwari. Para pemainnya adalah Widayat (Lamongan – Malang), Ma’rifatul Latifah (Bangkalan – Surabaya), Moenir Khan (Pamekasan – Surabaya), Amelda Siftia (Malang), Cahyarani (Malang), dan Anwari (Sumenep – Malang). Sebagai penata artistik adalah Khafi Chaplin dan penata cahaya adalah Mas Bro Dayat.

Pertunjukan ini akan ditampilkan perdana dalam helat Parade Teater Saling Kunjung yang diadakan Dewan Kesenian Malang pada Sabtu, 3 April 2021 jam 19.00. (ned/lis)