BACAMALANG.COM – Ilmu kimia tidak lagi sekadar identik dengan tabung reaksi dan laboratorium. Di tangan para dosen dan mahasiswa Departemen Kimia Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika Universitas Brawijaya (FSTeM UB), ilmu dasar tersebut justru melahirkan berbagai inovasi ramah lingkungan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui penerapan konsep Green Chemistry atau kimia hijau, Departemen Kimia FSTeM UB telah menghasilkan sedikitnya 50 produk inovatif yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Beragam inovasi tersebut lahir dari perkuliahan Proyek Kimia, Biofuel, Kimia Citarasa, penelitian, hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Produknya pun sangat beragam, mulai pangan fungsional, biofuel, produk kimia berbasis bahan alam, material ramah lingkungan, hingga produk bioteknologi yang mengedepankan prinsip keberlanjutan.
Ketua Departemen Kimia FSTeM UB, Anna Safitri, menjelaskan bahwa seluruh produk yang dikembangkan berlandaskan prinsip Green Chemistry, yakni pendekatan ilmu kimia yang bertujuan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sejak tahap perancangan hingga proses produksinya.
“Melalui berbagai produk yang kami kembangkan, mahasiswa dan dosen menunjukkan bagaimana prinsip Green Chemistry dapat diterapkan untuk menciptakan solusi yang lebih aman, berkelanjutan, dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” ungkapnya saat hadir dalam Car Free Day di UB, Jumat (12/6/2026).
Menurut Anna, konsep kimia hijau tidak hanya berbicara tentang pengurangan limbah. Lebih dari itu, pendekatan ini juga mendorong penggunaan bahan baku terbarukan, efisiensi energi, pengurangan bahan berbahaya, serta pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah melalui konsep ekonomi sirkular.
Pendekatan tersebut dinilai semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan akan teknologi dan produk yang mendukung transisi menuju pembangunan rendah karbon.
“Melalui inovasi berbasis kimia hijau, berbagai persoalan lingkungan dapat diatasi tanpa mengorbankan kebutuhan industri maupun masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, berbagai inovasi yang dihasilkan juga menunjukkan bahwa ilmu kimia memiliki peran strategis dalam mendukung berbagai sektor, mulai energi bersih, pangan, kesehatan, hingga pengelolaan lingkungan.
“Produk-produk tersebut menjadi bukti bahwa riset di perguruan tinggi dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata yang dekat dengan kebutuhan masyarakat,” tuturnya.
Tidak hanya berfokus pada pengembangan produk, Departemen Kimia FSTeM UB juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penerapan prinsip Green Chemistry dalam kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan literasi sains sekaligus membangun kesadaran bahwa keberlanjutan dapat dimulai dari pilihan teknologi dan produk yang lebih ramah lingkungan.
Anna menegaskan, inovasi yang lahir dari kampus tidak boleh berhenti di laboratorium. Hasil penelitian harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan global.
“Kami ingin menunjukkan bahwa ilmu kimia tidak hanya berkembang di ruang kelas dan laboratorium, tetapi juga dapat menghasilkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan,” tegasnya.
Pengembangan produk berbasis Green Chemistry yang dilakukan Departemen Kimia FSTeM UB juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada bidang kesehatan, pendidikan, energi bersih, kota berkelanjutan, serta aksi terhadap perubahan iklim.
“Ke depan, berbagai inovasi tersebut diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari solusi menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” tandas Anna.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































