MBG Dikritisi, Tokoh Masyarakat Dampit Desak Benahi Konsep dan Keadilan BOS Sekolah Swasta - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 15 Jun 2026 08:03 WIB ·

MBG Dikritisi, Tokoh Masyarakat Dampit Desak Benahi Konsep dan Keadilan BOS Sekolah Swasta


 Tokoh Masyarakat Dampit, Miskari. (ist) Perbesar

Tokoh Masyarakat Dampit, Miskari. (ist)

BACAMALANG.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah menuai beragam kritik di Indonesia termasuk Kabupaten Malang. Berbagai kekurangan mulai dari konsep program yang belum matang, mekanisme kerja di lapangan, hingga dampaknya terhadap kondisi dana BOS sekolah swasta kecil di desa menjadi catatan kritis.

Tokoh Masyarakat Dampit, Miskari, menjadi salah satu yang menyuarakan persoalan tersebut. Ia menegaskan tidak menolak MBG, namun meminta pembenahan menyeluruh agar program tidak menimbulkan masalah baru di dunia pendidikan.

Poin penting yang ditekankan Miskari adalah keadilan dan proporsionalitas kebijakan pendidikan. Ia menyoroti sekolah dasar swasta kecil di desa yang hanya mengandalkan dana BOS dengan besaran saat ini. Menurutnya dana BOS sekarang jelas tidak cukup untuk kebutuhan dasar seperti pembelian LKS dan memaksimalkan media belajar anak. Akibatnya sekolah swasta masih terpaksa menarik iuran mandiri.

Lebih lanjut, Miskari menyinggung beban guru dan kepala sekolah swasta yang paling paham kondisi anak yatim dan anak miskin di sekolahnya. Namun kemampuan mereka terbatas karena dana BOS tidak naik sejak 2009. Kondisi ini membuat sekolah swasta terjepit antara misi sosial dan keterbatasan anggaran.

Ia juga mengkritik praktik MBG yang rawan disalahgunakan. Memberi makan anak memang penting karena banyak anak tidak sarapan dan banyak jajan dengan pemanis serta perasa buatan yang kurang higienis. Namun menurutnya MBG tidak otomatis menyelesaikan masalah jika penerapannya tidak tepat. Ia khawatir MBG yang keliru justru berubah menjadi ladang bisnis bagi pihak yang tidak peduli pendidikan.

“Bukan kita nolak MBG tapi benahi konsepnya benahi cara kerjanya. Dan ingat kebijakan pendidikan itu harus adil dan proporsional,” ujar Miskari.

Sebagai solusi, Miskari mengusulkan agar dana BOS dinaikkan secara proporsional jika anggaran MBG diefisienkan. Kenaikannya tidak harus merata. Sekolah kategori miskin perlu perlakuan berbeda dibanding sekolah cluster kaya agar bantuan tepat sasaran.

Intinya, perbaikan MBG harus dimulai dari tiga hal: membenahi konsep dan cara kerja program, menjamin keadilan dana BOS untuk sekolah swasta kecil, serta mencegah program bergizi ini bergeser menjadi proyek bisnis semata.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Seru dan Edukatif! BPBD Kabupaten Malang Kenalkan Mitigasi Bencana

15 Juni 2026 - 07:55 WIB

Polisi Ringkus Dua Sopir Pencuri Sembako Restoran Senilai Rp 4,1 Juta di Turen

14 Juni 2026 - 20:57 WIB

Dituduh Langgar UU Diskriminasi Ras dan Etnis dalam Kasus Dugaan Penganiayaan, Kuasa Hukum: Itu Hanya Perkara Kanak-Kanak

14 Juni 2026 - 20:09 WIB

Satlantas Polres Batu Gelar Layanan SIMLING dan SAMLING di CFD Kota Batu, Masyarakat Sambut Antusias

14 Juni 2026 - 17:58 WIB

Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Batu Buka Layanan Gratis dan Bazar Murah di CFD Kota Batu

14 Juni 2026 - 15:27 WIB

Dugaan Pelecehan di Pondok Pesantren Bululawang Masuk Ranah Hukum, Korban Didampingi Yakuza Maneges

14 Juni 2026 - 12:44 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !