Potret Inspiratif Dian Anggraeni, “Dokter Sayur” yang Senang Berbagi dengan Sesama

dr. Dian Agung Anggraeni (berseragam biru laut) berfoto bersama salah satu anak usai jalani khitan didampingi orangtuanya.(ist)

BACAMALANG.COM – Mewarisi jiwa welas asih dari kedua orangtuanya yang jadi perawat dan bidan, pemilik Klinik Dian Kusuma Wijaya, Sumberpucung Kabupaten Malang, dr. Dian Agung Anggraeni merasa senang bisa berbagi dengan sesama.

“Alhamdulillah saya merasa ada kepuasan batin dengan berbagi kepada sesama. Saya mewarisi spirit dari orangtua. Ayah seorang perawat dan ibu jadi bidan desa,” tegas dr Dian Agung Anggraeni, kepada BacaMalang.com, Selasa (27/12/2022).

Ia mempunyai program rutin, setiap Jumat membagikan nasi bungkus (nasi kotak) sebanyak 400 kotak untuk pos-pos yang sudah terjadwal, giat khitan gratis bagi yang kurang mampu, anak yatim/piatu/yatim piatu, atau yang memang ingin berniat khitan, serta kegiatan pemeriksaan gratis berkala ke daerah-daerah terjadwal.

Perempuan ramah alumnus Universitas Wijaya Kusuma Surabaya tahun 2006 ini menuturkan cita-cita yang belum kesampaian.

“Saya ingin membuat klinik rawat inap 24 jam. Dengan pelayanan sepenuh hati,” urai istri Nova Andiano dan ibu dari 5 anak ini.

Ia merespon pertanyaan apa ada niatan atau rencana membuat komunitas dokter berjiwa sosial untuk pengobatan gratis massal misalnya di Malang Raya atau bahkan Indonesia?

“Inginnya begitu. Semoga tahun depan bisa terlaksana. Minta doanya semoga bisa terwujudkan,” imbuhnya.

Ia kerap memberikan pelayanan kesehatan bagi warga kurang mampu dan rela hanya dibayar dengan sayuran dan hasil bumi lainnya.

Bahkan ia juga membagikan obat gratis bagi warga yang tidak mampu. Namun bagi warga yang mampu dr Dian tetap menarik biaya praktek maupun obat-obatan.

Tak hanya peduli dengan warga kurang mampu, ia juga menjadi sahabat bagi para penyandang disabilitas dan ODHA.

Satu hal yang membanggakan adalah
Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Malang Raya, Jawa Timur, pada hari kebebasan pers memberikan penghargaan kepada tokoh inspiratif dr Dian karena kiprahnya yang dianggap memberikan pengaruh positif bagi masyarakat sekitarnya..

Selain itu dr Dian juga pernah menjadi bintang tamu di program acara televisi stasiun televisi terkenal (Trans TV) dalam program Hitam Putih dengan host Deddy Corbuzier pada September 2019.

dr Dian rela dibayar dengan apapun yang dipunya masyarakat seperti telur, ikan, sayur-sayuran, ayam dan hasil bumi lainnya.

Ia juga aktif membentuk komunitas-komunitas sosial. Ia mulai membuka klinik di Desa Sumberpucung pada tahun 2008. Bukan hanya membebaskan pasiennya membayar dengan hasil bumi, ia juga tidak jarang menggratiskan biaya yang diberikannya kepada pasien.

Mau dibayar atau tidak, ia tetap memberikan pelayanan terbaiknya kepada seluruh pasien. Pasien yang datang pun tidak hanya dari warga satu desa tapi juga warga dari desa lain yang jaraknya lumayan jauh.

Pembayaran menggunakan hasil bumi ini terjadi tidak lepas dari apa yang sering dilakukan oleh kedua orang tuanya dulu. Ayah dan ibunya juga bergerak di bidang kesehatan.

Bapaknya adalah perawat sementara Ibunya adalah seorang bidan. Kedua orangtuanya juga sama yaitu ikhlas dibayar apapun dan bahkan menggratiskan pasien yang kurang mampu.

Hal ini dilakukan dikarenakan rasa kepeduliannya kepada masyarakat yang kurang mampu. Ia merasa terdorong untuk membantu warga di desanya. Tak hanya peduli dengan warga yang tidak mampu, beliau juga menjadi sahabat bagi para penyandang gangguan jiwa.

Ia aktif di organisasi sosial seperti di komunitas Orang Dengan HIV AIDS (ODHA), Komunitas Disable Motorcycle Indonesia (DMI), Buruh Migran Indonesia (BMI), Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin) dan Komunitas Tuli Kabupaten Malang.

dr. Dian memiliki pedoman dalam hidupnya, “Tidak masalah meski rugi secara materi, tapi untung karena mendapatkan saudara baru”.

Ia mengungkapkan harapan ke depan.
“Harapan saya, kesehatan di Indonesia mudah diakses dimana saja dan kapan saja serta terjangkau,” pungkasnya. (had)