BACAMALANG.COM – Suasana gedung Plaza Maliki Kota Malang pada Minggu (3/11/2024) siang itu tampak berbeda dari biasanya. Pasalnya tengah digelar sebuah event bertajuk Anugerah Bakat Difabel, yang menampilkan audisi layaknya acara pencarian bakat yang marak ditayangkan di stasiun-stasiun televisi swasta.
Hanya saja di sini pesertanya terdiri dari anak-anak berkebutuhan khusus, yang meliputi tuli, down syndrome, autis maupun disleksia.
Mereka menunjukkan kebolehannya masing-masing. Ada yang di seni vokal, olahraga bela diri hingga fashion show.
Anak-anak tersebut tampil penuh percaya diri, apalagi mendapat dukungan dari para pengunjung, yang terdiri dari orang tua, pendamping maupun relawan yang menjadi panitia dari komunitas Pejuang Mimpi.
Ketua pelaksana Anugerah Bakat Difabel, Sulthan Razhief Almazzaya menuturkan, acara ini diikuti sedikitnya 25 peserta.
“Kami dari Yayasan Pejuang Mimpi, mencoba memberi fasiltas bagi anak-anak difabel untuk menunjukkan bakat mereka,” ungkapnya kepada BacaMalang.com di sela kegiatan.

Peserta audisi terbuka Anugerah Bakat Difabel kategori bela diri saat beraksi di depan juri di Gedung Plaza Maliki Kota Malang, Minggu (3/11/2024). (Nedi Putra AW)
Dijelaskan Sulthan, acara ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Anugerah Bakat Difabel pada bulan Desember 2024 mendatang.
Ia mengatakan, untuk kali ini yang dilombakan adalah audisi terbuka di kategori lomba seni pertunjukan, yang meliputi tari, nyanyi, bermain alat musik, sampai baca Al Quran.
“Sementara audisi kedua meliputi seni kriya, seperti lukis, anyam dan lain-lain yang diagendakan dihelat pada tanggal 10 November di gedung MCC,” imbuh mahasiswa asal Jakarta ini.
Mahasiswa FEB UB semester V ini menerangkan, bagi peserta yang lolos, pada tanggal 17 dan 24 November nanti akan ada mentoring, di mana masing-masing diserahkan kepada mentor yang sekaligus menjadi juri dengan keahliannya.
Sementara acara puncak tanggal 8 Desember berupa Awarding dan penampilan para kontestan.
“Jadi formatnya seperti audisi-audisi di televisi, mereka selanjutnya akan diarahkan sesuai bidang dan minatnya oleh para mentor,” tegasnya.
Sulthan berharap dari acara yamg kedua kalinya digelar ini, para anak-anak istimewa tersebut lebih berani menunjukkan bakat mereka.
“Kami yakin dalam diri mereka justru ada bakat terpendam yang harus dieskplorasi.
Memang kekurangan tidak menjamin masa depan, karena semua tergantung usaha kita masing-masing,” tandas cowok berkacamata ini.
Salah satu juri, Ratna Sakti Wulandari mengaku sangat terkesan dengan penampilan anak-anak pada sesi audisi terbuka ini.
“Saya salut dengan latihan maupun usaha mereka. Seperti di kategori fashion show misalnya, meski tuli tapi para peserta masih bisa menyelaraskan dengan musik pengiring saat bergaya di catwalk,” tukas Kepala Museum Musik Indonesia ini.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor: Aan Imam Marzuki





















































