Taman Edelweiss Wonokitri Pasuruan, Wisata Kekinian Berbasis Konservasi

Pengunjung menikmati Taman Wisata Edelweiss, di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Minggu (7/11/2021). (ned)

BACAMALANG.COM – Edelweiss merupakan salah satu flora ikon Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Namun semakin lama keberadaannya semakin terancam. Bunga ini menjadi buruan banyak pendaki gunung atau pelancong yang berkunjung ke kawasan ini.

Tumbuhan ini merupakan khas dataran tinggi, sekitar 2000 meter di atas permukaan laut. Edelweiss tumbuh di lereng-lereng pegunungan yang ada di kawasan TNBTS, dengan 3 jenis yang ada, yaitu Anaphalis Javanica, Anaphalis Visida dan Anapahlis Longifolia.

Anaphalis Javanica sudah ditetapkan sebagai tanaman yang dilindungi sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.92/Menlhleetjen/Kum.1/8/2018 tentang perubahan atas peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.20/MenLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Tumbuhan ini berperan penting bagi ekosistem pegunungan, karena merupakan salah satu tumbuhan pionir di habitat yang tandus atau miskin hara. Peran penting tersebut membuatnya menjadi salah satu tumbuhan yang dilindungi keberadaannya. Sementara di sisi lain, bunga ini disakralkan sebagai pelengkap sesaji dalam tradisi ritual masyarakat suku Tengger sebagai penduduk asli kawasan Bromo.

Oleh karena itu sejak tahun 2016, Balai Besar TNBTS telah mencoba mencari terobosan melalui program budidaya Edelweiss di luar habitat aslinya (kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru), untuk mengakomodir tiga peluang, yaitu konservasi edelweiss di diluar habitat aslinya, mempertahankan budaya lokal masyarakat Tengger dan memberikan peluang peningkatan ekonomi bagi masyarakat sekitar TNBTS.

Upaya budidaya ini akhirnya menghasilkan sebuah desa wisata berbasis konservasi bernama Taman Wisata Edelweiss, di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, yang diresmikan pada bulan November 2018 silam. Dan dalam perkembangannya, Taman Edelweis ini dikelola secara mandiri oleh kelompok tani setempat.

Ketua Kelompok Tani Hulun Hyang Desa Wisata Edelweiss Wonokitri Teguh Wibowo menjelaskan, bagi masyarakat Tengger bunga ini merupakan bunga suci karena sebagai sarana memuliakan leluhur.
“Oleh karena itu keberadaan Taman Edelweis ini adalah salah satu solusi, bagaimana kegiatan religi tetap dapat berlangsung tanpa mengancam keberadaan bunga ini,” ungkap warga asli Tengger ini saat ditemui di lokasi, Minggu (7/11/2021).

Teguh menambahkan, masyarakat Tengger menyebutnya sebagai Kembang Tana Layu, merujuk pada kondisi fisik bunga ini yang tidak mudah layu dalam kurun waktu 5-10 tahun, sehingga kerap diidentikkan sebagai bunga abadi dan ikon cinta kasih. Banyak pengunjung, khususnya anak muda yang mengambil atau membelinya secara ilegal di kawasan Bromo.

“Taman ini sebagai sarana wisata dan konservasi setidaknya dapat memenuhi kebutuhan warga setempat maupun wisatawan untuk buah tangan,” jelasnya.

Teguh menegaskan, pihaknya merupakan satu-satunya yang memiliki izin resmi dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) untuk budidaya bunga Edelweis.

Ia mengatakan, bagi warga sekitar pengambilan bunga diberikan secara cuma-cuma alias gratis, karena dipakai untuk keperluan keagamaan. “Sedangkan bagi pengunjung, souvenir Edelweis bisa dibawa pulang cukup dengan merogoh kocek mulai Rp. 20.000 hingga Rp. 50.000 saja,” imbuhnya.

Kondisi Taman Edelweis seluas 1.196 meter persegi saat ini pun sudah jauh berbeda dengan saat pertama kali diluncurkan pada tahun 2018 silam. Ketika itu, taman ini masih berupa lahan dengan hamparan bunga yang belum terlalu rimbun serta hanya menyediakan satu spot untuk berfoto. Namun sekarang selain bisa menikmati hamparan Edelweiss yang lebih indah, pengunjung juga bisa menikmati sejumlah fasilitas, mulai spot foto yang instagram-able, bersantai sambil minum kopi di Kafe Taman Edelweiss maupun mendapat edukasi terkait konservasi bunga ini.

“Kami menyediakan tiket masuk yang terjangkau, cukup dengan 10.000 rupiah saja per orang sudah termasuk welcome drink, sementara bagi yang ingin mendapat edukasi, tiketnya sebesar 25.000 rupiah, yang akan mendapatkan semua tentang seluk beluk Edelweiss, mulai pembibitan hingga panen dari para pemandu yang kami sebut sebagai entrepreneur,” jelasnya.

Keberadaan Taman Edelweiss ini menumbuhkan aktivitas ekonomi baru bagi anggota Kelompok Tani Hulun Hyang maupun masyarakat Desa Wonokitri. Taman Wisata Edelweiss pun semakin populer dan ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah, khususnya di akhir pekan. Teguh menyebutkan, hingga di bulan Oktober 2021 jumlah pengunjung telah mencapai angka 3.319 orang.

Pengembangan Taman Wisata ini digawangi 30 anggota Kelompok Tani Hulun Hyang, yang semuanya merupakan warga Tengger di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan. “Filosofi nama Hulun Hyang sendiri adalah pengabdian kepada Tuhan dengan melestarikan ciptaannya,” tukas dia.

Teguh mengaku proses pengembangan Taman Wisata Edelweiss ini, salah satunya dapat terwujud berkat bantuan program sosial Bank Indonesia di Tahun 2019.
Kepala Kantor Perwakilan BI Malang Azka Subkhan menjelaskan, KpW BI Malang memberikan bantuan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) berupa fasilitasi pengembangan pariwisata kepada Kelompok Tani Hulun Hyang Taman Edelweiss ini sebagai wahana wisata dan edukasi.

“Tentunya kami tidak sendiri dan bekerjasama dengan sejumlah pihak, dari hardware-nya, dengan Ikatan Arsitek Indonesia Malang untuk mendesain tempat ini,” jelasnya.

Saat ini Taman Wisata Edelweiss telah dilengkapi sarana dan prasarana seperti gapura selamat datang, rumah tiket, tempat pembibitan edelweiss, toilet, musala, gardu pandang dan kafe.

Sementara dari sisi software, imbuh Azka, Bank Indonesia Malang menggandeng Politeknik Negeri Malang dan Universitas Merdeka Malang, khususnya untuk pengembangan capacity building dari anggota Kelompok Tani Hulun Hyang, terkait manajemen kepariwisataan mulai mengelola oleh-oleh, spot foto hingga kafe yang kekinian.

“Ke depan kami masih menggali apa saja yang diperlukan untuk pengembangan dan kebutuhan taman ini, tentunya dengan bekerjasama dengan pihak-pihak yang berkompeten,” tandas pria ramah senyum ini. (ned)