BACAMALANG.COM – Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan kampus berkelanjutan melalui pengembangan program Green Campus. Program tersebut diharapkan tidak hanya berdampak bagi lingkungan di dalam kampus, tetapi juga menjadi contoh dan role model bagi perguruan tinggi lainnya.
Kepala UPT UB Green Campus Prof. Sri Suhartini, S.T.P., M.Env.Mgt., Ph.D., PGCert., IPM. menuturkan, keberadaan UPT Green Campus yang dibentuk sejak awal 2025 menjadi salah satu motor penggerak dalam meningkatkan peran UB terhadap pelestarian lingkungan.
Menurutnya, UB memiliki potensi besar untuk menjadi role model pengembangan kampus hijau. Berbagai program yang dijalankan diarahkan untuk membangun budaya berkelanjutan di kalangan sivitas akademika sekaligus memberikan dampak nyata terhadap lingkungan di sekitar kampus.
“Green Campus dapat memberikan contoh bagi kampus lain sehingga menjadi prototipe yang baik. UPT Green Campus sejak dibentuk pada awal 2025 menjadi motor penggerak untuk meningkatkan peran UB dalam pelestarian lingkungan,” ujarnya, Jumat (11/9/2026) di lobby rektorat UB.

Kepala UPT UB Green Campus Prof. Sri Suhartini, S.T.P., M.Env.Mgt., Ph.D., PGCert., IPM. saat paparan di lobby rektorat UB, Jumat (11/9/2026). (Nedi Putra AW).
Dalam pengembangannya, imbuh dosen yang bisa disapa Prof. Neneng ini, terdapat dua program prioritas yang menjadi fokus utama, yakni Smart Green Campus dan Zero Waste Management.
Melalui program Smart Green Campus, UB mendorong keterlibatan unit-unit kerja dalam melakukan efisiensi penggunaan energi, air, pengurangan emisi udara, hingga penguatan biodiversitas. Kampanye lingkungan juga terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh sivitas akademika.
Kontribusi unit-unit di lingkungan UB dalam program tersebut dinilai cukup signifikan. Dari sekitar 20 unit fakultas, tiga di antaranya telah berhasil meraih penghargaan dalam program Green Campus.
Prof. Neneng memaparkan, sejumlah inovasi juga mulai diterapkan. Fakultas Teknologi Pertanian, yang kini menjadi Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) misalnya, mengembangkan sistem rainwater harvesting atau pemanenan air hujan. Selain itu, tersedia free water filling station untuk mendorong pengurangan penggunaan botol plastik sekali pakai , khusunya kampanye tumbler untuk wadah air minum.
Penggunaan panel surya di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) juga menjadi salah satu langkah UB dalam mengurangi emisi karbon sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan.
“Hal ini penting sebagai wujud komitmen UB terhadap lingkungan dan sustainability. Program ini akan terus berjalan, diawali dengan membangun budaya pemilahan sampah di kalangan mahasiswa,” jelas profesor di bidang bioenergi dan pengelolaan lingkungan ini.

Salah kegiatan Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) saat Car Free Day di kampus UB. (ist)
Untuk memperkuat keterlibatan generasi Z, UB juga mengembangkan program Duta Kampus Lestari. Program tersebut menjadi salah satu strategi untuk mendorong mahasiswa terlibat langsung dalam kampanye dan gerakan lingkungan di lingkungan kampus.
Upaya pengurangan emisi juga dilakukan melalui program Car Free Day di lingkungan UB. Kebijakan tersebut dinilai memberikan dampak positif mengingat aktivitas kendaraan di kawasan kampus sehari-hari cukup padat.
Selain Smart Green Campus, UB juga mengembangkan program Zero Waste Management dengan pendekatan ekonomi sirkular. Tahun ini, UB mulai menyusun blueprint pengelolaan berbagai jenis limbah, mulai dari limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), limbah organik dan anorganik, pengelolaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga electronic waste (e-waste).
Konsep yang dikembangkan tidak berhenti pada pengurangan dan pengelolaan limbah. UB juga mendorong agar limbah yang dihasilkan dapat dikonversi menjadi produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi.
“Hingga saat ini, telah dikembangkan sekitar 11 produk hasil pengolahan atau pemanfaatan limbah. Pengembangan tersebut dilakukan dengan melibatkan sivitas akademika, industri dan komunitas sebagai mitra,” jelas guru besar Teknologi Pertanian dengan fokus riset pada pengolahan limbah, teknologi biogas, dan anaerobic digestion ini.
Program ini, lanjutnya, juga menggandeng iLitterless Indonesia untuk menghadirkan Reverse Vending Machine (RVM), mesin pengumpul botol plastik yang dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) dan sistem reward bagi siviitas akamedika dan masyarakat yang menyetorkan sampah.
Prof. Neneng menegaskan, bahwa program Green Campus juga diarahkan menjadi living laboratory. Fasilitas dan berbagai sistem pengelolaan lingkungan yang ada di kampus dapat dimanfaatkan mahasiswa dan dosen sebagai ruang pembelajaran sekaligus penelitian.
Terpisah, Education and Outreach Officer iLitterless Indonesia, Nina Amelia, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi langkah untuk membangun kebiasaan memilah sampah sekaligus meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap persoalan sampah plastik.
Menurutnya, pengadaan RVM menjadi kolaborasi pertama yang menghadirkan sistem pengelolaan sampah secara lebih menyeluruh di lingkungan kampus.
“Kolaborasi ini penitn, karena kami tidak hanya menyediakan mesin, tetapi juga mendukung keseluruhan ekosistem RVM, mulai dari kampanye, edukasi, pengambilan sampah, hingga proses pengelolaan dan daur ulang,” tandasnya.
Dengan pendekatan tersebut, Green Campus UB tidak hanya menjadi program pengelolaan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan, riset, inovasi, serta pembentukan budaya berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































