BACAMALANG.COM – Transformasi pembelajaran digital terus digenjot SMK PGRI 3 Kota Malang. Sebanyak 987 siswa mendapatkan tablet pembelajaran yang disiapkan sebagai fasilitas pendukung kegiatan belajar sekaligus sarana meningkatkan keterampilan teknologi.
Kepala SMK PGRI 3 Kota Malang, Dr. M. Lukman Hakim, S.T., M.M., mengatakan pemberian tablet tersebut merupakan bagian dari komitmen sekolah membangun ekosistem pembelajaran berbasis teknologi.
Menurut Lukman, penerapan konsep smart digital learning di SMK PGRI 3 Malang bukan hal baru. Sekolah telah mengembangkan sistem pembelajaran digital sejak 2007 dan terus melakukan penyempurnaan hingga saat ini.
Berbagai kebutuhan pembelajaran telah terintegrasi dalam sistem digital sekolah, mulai dari materi dan jadwal pembelajaran, mata pelajaran, jadwal mengajar guru, penilaian, evaluasi hingga asesmen.
“Semua layanan kebutuhan murid mulai pembelajaran, jadwal pembelajaran, daftar mata pelajaran, jadwal mengajar guru, penilaian, evaluasi, hingga asesmen sudah tersedia dalam sistem,” ujar Lukman.
Ia menegaskan, pemberian tablet bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Lebih dari itu, sekolah ingin membiasakan siswa menggunakan perangkat digital secara profesional, produktif dan bertanggung jawab.
Pemanfaatan tablet juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan coding serta pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI). Kompetensi tersebut dinilai semakin penting seiring perubahan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja.
“Kami berharap pembelajaran ini memenuhi kebutuhan pekerjaan anak-anak. Kami berorientasi agar anak-anak siap masuk dunia kerja dan tablet ini dapat mendukung proses tersebut,” katanya.
Program serupa juga direncanakan kembali diterapkan bagi siswa baru pada SPMB tahun ajaran 2027/2028.
Digitalisasi Merambah Pembelajaran hingga Administrasi
Kepala Bidang TIK SMK PGRI 3 Kota Malang, Yandri Nurul Wibowo, menjelaskan bahwa pengembangan teknologi di lingkungan sekolah telah berlangsung sejak 2013.
Digitalisasi tidak hanya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, tetapi juga diterapkan dalam sistem administrasi sekolah. Melalui platform digital, siswa dapat mengakses berbagai informasi, termasuk data guru, jadwal, asesmen hingga hasil penilaian.
Menurut Yandri, sistem tersebut juga mendorong transparansi dalam proses penilaian siswa.
“Penilaian itu salah satunya untuk transparansi. Kalau dulu siswa mengetahui nilai ketika menerima rapor, sekarang perkembangan hasil penilaian bisa diketahui melalui sistem,” jelasnya.
Pemanfaatan perangkat digital juga membantu mengurangi penggunaan kertas. Materi pembelajaran maupun soal dapat dibagikan secara digital sehingga proses distribusi dan perbaikan dapat dilakukan lebih cepat.
Dalam pelaksanaan ujian dan asesmen, sekolah juga dapat membuat variasi soal bagi masing-masing siswa. Pengacakan soal maupun jawaban menjadi salah satu mekanisme yang diterapkan untuk mengurangi peluang terjadinya kecurangan.
Meski demikian, Yandri mengakui sistem digital yang diterapkan masih terus disempurnakan.
“Memang belum sempurna, tetapi kami terus berusaha melakukan pengembangan setiap tahun,” ujarnya.
Penggunaan tablet juga tidak dilepas tanpa pengawasan. Sekolah menetapkan aturan pemanfaatan perangkat dan melakukan pemeriksaan secara berkala, termasuk secara acak terhadap penggunaan serta konten yang terdapat di dalamnya.
Konten yang bertentangan dengan tujuan pendidikan, seperti pornografi, ujaran kebencian dan perundungan, menjadi bagian dari pengawasan sekolah.
Tablet tersebut diberikan sebagai bagian dari fasilitas pembelajaran sejak siswa mengikuti proses penerimaan peserta didik baru. Karena itu, siswa juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan menggunakan perangkat sesuai ketentuan.
Saat mengikuti ujian maupun asesmen, siswa diwajibkan menggunakan tablet pembelajaran dan tidak diperkenankan menggunakan telepon seluler.
“Tablet ini digunakan untuk pembelajaran. Jadi siswa memiliki tanggung jawab untuk menggunakan fasilitas tersebut sebagaimana mestinya,” tegas Yandri.
Sekolah juga mendorong agar kecakapan digital tidak hanya dimiliki siswa dari jurusan yang berkaitan langsung dengan teknologi informasi. Siswa dari berbagai kompetensi keahlian juga diarahkan memahami penggunaan teknologi, termasuk memanfaatkan AI secara tepat dan bertanggung jawab.
Siswa Rasakan Manfaat Langsung
Program pembagian tablet tersebut mendapat respons positif dari siswa.
Adhyasta Rasya Prasraya Al Gibran, siswa kelas X TKJ A, mengaku senang mendapatkan fasilitas pembelajaran tersebut. Menurutnya, tablet dapat membantu mengerjakan berbagai tugas, termasuk membuat presentasi dan mempelajari materi konfigurasi jaringan.
Hal serupa disampaikan Roro Ayu Paristi Nindana Eka Putri, siswi kelas X DKV A.
Ia menilai tablet menjadi fasilitas yang membantu, terutama bagi siswa yang belum memiliki perangkat seperti laptop.
“Alhamdulillah saya senang karena mendapat fasilitas yang menunjang untuk belajar. Dengan tablet ini, waktu juga lebih efisien ketika guru membagikan materi,” ungkap Roro.
Sebagai siswa DKV, Roro menyebut tablet juga dapat dimanfaatkan untuk mencari referensi desain, tipografi hingga inspirasi visual dalam mengerjakan tugas.
“Tidak semua siswa memiliki laptop pribadi. Jadi dengan fasilitas dari sekolah ini, kami lebih mudah mencari inspirasi desain dan menggunakan aplikasi yang bermanfaat untuk pembelajaran,” tuturnya.
Ia berharap tablet tersebut tetap digunakan sesuai tujuan awal, yakni menunjang proses belajar. Aplikasi yang digunakan pun diharapkan lebih banyak memberikan manfaat bagi kegiatan akademik.
Program ini menjadi bagian dari langkah SMK PGRI 3 Kota Malang membangun ekosistem pendidikan berbasis digital, sekaligus mempersiapkan siswa menghadapi perkembangan teknologi, termasuk AI, serta tuntutan kompetensi di dunia kerja.
Pewarta/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































