UB Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Pengolahan Sampah di Kawasan Hutan - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 9 Okt 2026 06:43 WIB ·

UB Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Pengolahan Sampah di Kawasan Hutan


 Proses pemilahan sampah dalam rangkaian aksi Global Care Week 2026 di UB Forest Resort Buntoro, Senin (5/10/2026), dengan melibatkan mahasiswa dan berbagai unsur masyarakat. (ist) Perbesar

Proses pemilahan sampah dalam rangkaian aksi Global Care Week 2026 di UB Forest Resort Buntoro, Senin (5/10/2026), dengan melibatkan mahasiswa dan berbagai unsur masyarakat. (ist)

BACAMALANG.COM – Universitas Brawijaya (UB) mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui edukasi pemilahan dan pengolahan sampah di kawasan hutan. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sampah tidak sekadar menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomis.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Green Campus UB, PT LyondellBasell (LYB), UB Forest, dan LSM iLitterless Indonesia dalam rangkaian aksi Global Care Week 2026 di UB Forest Resort Buntoro, Senin (5/10/2026), dengan melibatkan mahasiswa dan berbagai unsur masyarakat.

Kepala UPT Pengelola Kawasan Hutan UB, Dr. Mochammad Roviq, S.P., M.P., menyoroti persoalan sampah yang ditemukan di berbagai titik kawasan hutan, bahkan hingga ke puncak gunung. Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan larangan, tetapi harus diimbangi solusi pengelolaan yang dapat diterapkan masyarakat.

“Kita kan tidak bisa hanya melarang: ‘Nggak boleh, Pak. Terus kami ngapain dengan sampah itu?’ Nah, hari ini LYB dan UB Green Campus akan mengenalkan bahwa sampah itu akan menjadi sesuatu yang bisa kita manfaatkan,” ujar Roviq.

Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan memahami pentingnya memilah sampah sejak awal sekaligus mengenali berbagai metode pengolahan yang memungkinkan limbah dimanfaatkan kembali.

Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi pengingat dini agar upaya menjaga lingkungan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, pengelolaan sampah perlu dibangun menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.

“Kalau ini menjadi sebuah gerakan, bukan hanya program atau proyek, maka akan sustain di masyarakat. Nah, inilah yang kita harapkan, sebuah circular economy yang berjalan sehingga kita juga bisa memelihara lingkungan, tetapi juga ada pendapatan lain yang bisa didapatkan dari proses ini,” ungkap Tri Wahyu.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan langkah awal untuk mengembangkan berbagai skenario pengolahan sampah. Sampah organik, misalnya, dapat dimanfaatkan menjadi pupuk maupun diolah melalui budidaya maggot black soldier fly (BSF) sebagai pakan ternak.

Sementara itu, sampah anorganik dapat diolah menjadi produk baru dengan bantuan teknologi, termasuk peralatan cetak limbah plastik. Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga membuka peluang nilai tambah ekonomi.

Kepala UPT UB Green Campus, Prof. Sri Suhartini, S.T.P., M.Env.Mgt., Ph.D., PGCert., IPM., menjelaskan bahwa Global Care Week merupakan agenda tahunan PT LyondellBasell. Pada tahun ini, program tersebut dilaksanakan melalui kemitraan dengan UB Green Campus.

Kolaborasi ini, lanjutnya, sejalan dengan komitmen Universitas Brawijaya untuk berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. UB Green Campus juga berupaya menjadi penggerak penerapan praktik ramah lingkungan, baik di lingkungan kampus maupun melalui kerja sama dengan mitra di luar kampus.

“Bagaimana mewujudkan komitmen Universitas Brawijaya untuk juga turut andil dan peduli dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kemudian yang kedua, ini memang sesuai sekali dengan visi-misi dari UB Green Campus sebagai motor penggerak untuk menciptakan lingkungan yang lestari di lingkungan Universitas Brawijaya khususnya, tapi juga memberikan dampak yang luas ke mitra kami di luar,” jelas Sri Suhartini yang juga akrab disapa Prof. Neneng ini.

Kepala UPT UB Green Campus, Prof. Sri Suhartini, S.T.P., M.Env.Mgt., Ph.D., PGCert., IPM. saat paparan. (ist)

Mayedha, co-founder iLitterless Indonesia menambahkan, Global Care Week (GCW) merupakan acara tahunan PT LyondellBasell yang bertujuan untuk memberikan dampak nyata bagi lingkungan. Kolaborasi GCW tahun ini dengan berbagai pihak dan warga sekitar adalah untuk turut terlibat dalam berbagai kegiatan mulai dari penanaman pohon, clean up, edukasi tentang sampah dan pemanfaatan kembali sampah.

“Clean-up adalah mengobati suatu perilaku yang sudah terlanjur terjadi, seperti mrmbuang sampah sembarangan, sekaligus upaya kampanye agar kejadian serupa tidak terjadi di tempat lain atau di kemudian hari,” tegasnya.

Selain edukasi pemilahan dan pengolahan sampah, peserta mengikuti praktik pembuatan keychain dan ecobrick. Mereka juga menyaksikan demonstrasi penggunaan alat molding press untuk membuat asbak dari limbah plastik.

Kegiatan tersebut juga diisi dengan penanaman pohon sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian kawasan hutan. Sejumlah mahasiswa juga terlibat, antara lain dari Eksekutif Mahasiswa (EM) UB, IMPALA, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB), serta Fakultas Teknik.

Perwakilan EM UB, Fadhil Abdurrahman Yasykur, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kolaborasi lintas sektor tersebut. Ia mengatakan, pelestarian lingkungan menjadi salah satu fokus utama kementerian dalam program kerja EM UB.

Menurut Fadhil, keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan ini dapat mendorong antusiasme masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat gerakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan #pilahsampahitumudah ini, UB berharap pengolahan sampah dapat menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat di sekitar kawasan hutan. Selain menekan pencemaran lingkungan, pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomis diharapkan dapat membuka peluang pendapatan sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Sempat Rusak dan Berlubang, Kini Penutup Irigasi di Underpass Karanglo Sudah Diperbaiki

9 Oktober 2026 - 10:43 WIB

Rumah Lansia di Lowokwaru Terbakar, Diduga Dipicu Lilin yang Jatuh

8 Oktober 2026 - 23:13 WIB

Kemarau Panjang, Polres Malang Distribusikan 35 Ribu Liter Air Bersih ke Warga Malang Selatan

8 Oktober 2026 - 19:45 WIB

Audiensi Jalan Griya Shanta Buntu, Dishub dan Warga Belum Temukan Titik Temu

8 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Damkar Kota Malang Tangani 48 Kejadian Sepanjang September, Evakuasi Hewan Mendominasi

8 Oktober 2026 - 08:38 WIB

BPBD Kabupaten Malang Bekali Kecamatan Bululawang Strategi Mitigasi Bencana Melalui Kencana

7 Oktober 2026 - 20:06 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !