BACAMALANG.COM — Gua Maria Los Brantas kini tampil dengan wajah baru. Kawasan yang berada di tepian aliran Sungai Brantas tersebut direnovasi untuk mengenang sosok almarhum Romo Floribertus Wignyo Prasetya, O. Carm., yang semasa hidupnya dikenal dekat dengan anak-anak muda, khususnya mahasiswa di Malang Raya.
Renovasi itu tidak sekadar memperbaiki sebuah tempat doa. Lebih dari itu, Gua Maria Los Brantas diharapkan menjadi ruang hening bagi masyarakat dan generasi muda untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, berdoa, sekaligus melakukan permenungan.
Romo Eko Putranto, O. Carm., mengatakan renovasi dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian Romo Wignyo dalam mendampingi anak-anak muda.
Menurutnya, Romo Wignyo banyak memberikan pendampingan kepada mahasiswa yang menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya membantu mereka menemukan arah dan mempersiapkan masa depan.
Kisah renovasi Gua Maria Los Brantas juga tidak lepas dari keterlibatan sejumlah pihak. Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) Malang, Agustinus Tedja Bawana atau Ayah Tedja, menceritakan awal keterlibatannya bermula ketika dirinya bersama Bambang Pangsud melakukan perjalanan dari JKJT menuju Posko Gempa Flores.
Dalam perjalanan tersebut, keduanya bertemu dengan Romo Eko. Pertemuan itu kemudian membawa mereka melihat lokasi Gua Maria yang sebelumnya menjadi tempat Romo Wignyo berdoa dan beristirahat.
“Dari situ Romo Eko mengajak saya ke belakang dan menunjukkan Gua Maria yang lama,” kata Tedja.
Dari lokasi tersebut kemudian muncul gagasan untuk menata kembali kawasan Gua Maria agar tidak hanya menjadi tempat berdoa, tetapi juga ruang permenungan yang nyaman bagi siapa saja yang datang.
Bambang Pangsud kemudian terlibat langsung dalam pengerjaan renovasi. Setelah berdiskusi dengan Romo Eko, ia membuat sketsa dan mulai mengerjakan pembangunan.
“Saya ngomong sama Romo Eko, belikan bahannya, saya yang mengerjakan,” ujar Bambang.
Selama proses pengerjaan, Bambang mengaku merasakan suasana yang berbeda di kawasan tersebut. Gemericik air Sungai Brantas menjadi bagian dari suasana alami yang menurutnya justru memperkuat ketenangan lokasi.
“Saya merasakan sendiri di sini suasananya enak. Airnya, suara grojokannya terdengar alami. Tanpa saya menolak, saya kerjakan,” tuturnya.
Pengerjaan yang semula ditargetkan rampung pada 15 Oktober 2026 kemudian dipercepat karena lokasi tersebut akan digunakan pada 7 Oktober 2026. Setelah renovasi selesai, Gua Maria Los Brantas kemudian diberkati.
Patung Bunda Maria Sempat Rusak
Renovasi juga sempat menghadapi kendala ketika patung Bunda Maria lama hendak dipindahkan. Bambang mengatakan patung tersebut mengalami kerusakan saat proses pemindahan.
Namun, patung itu tidak diganti. Bambang memilih mempertahankan patung lama dengan melakukan perbaikan.
Perbaikan dilakukan menjelang kedatangan salib dari Lourdes, Italia. Kawasan Gua Maria juga mendapat sentuhan baru dengan nuansa klasik berwarna kuning gading.
Penataan tersebut tetap mempertahankan karakter alami kawasan. Suara aliran sungai dan lingkungan sekitar justru menjadi bagian dari suasana yang diharapkan dapat menghadirkan ketenangan bagi para pengunjung.
“Saya merasakan sendiri suasananya beda. Siapa tahu bisa bermanfaat bagi semua,” katanya.
Diharapkan Jadi Ruang Kontemplasi
Ayah Tedja berharap Gua Maria Los Brantas dapat menjadi ruang kontemplasi bagi anak-anak muda, terutama mahasiswa.
Menurutnya, lokasi yang berada di kawasan aliran Sungai Brantas itu memiliki suasana yang mendukung untuk melakukan permenungan di tengah berbagai kesibukan dan persoalan kehidupan.
“Gua Maria yang dibuat Romo Floribertus Wignyo Prasetya, O. Carm., ini diharapkan bisa menjadi tempat anak-anak muda, seperti mahasiswa, untuk kontemplasi dan merenungkan diri,” ujarnya.
Tedja menilai generasi muda membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak. Bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk melihat kembali perjalanan hidup, memahami persoalan yang dihadapi, dan menemukan kekuatan untuk melangkah ke depan.
Ia juga menjelaskan bahwa patung Bunda Maria dalam tradisi Katolik merupakan simbol yang membantu umat memusatkan perhatian dalam doa, bukan objek yang disembah.
“Kalau patung itu kan semacam simbol. Bukan kita sembah, tetapi mencoba memfokuskan diri untuk berkomunikasi dengan Tuhan,” jelasnya.
Meneruskan Semangat Romo Wignyo
Bagi Tedja, renovasi Gua Maria Los Brantas sekaligus menjadi cara untuk menjaga ingatan terhadap sosok Romo Wignyo.
Romo Wignyo dikenal memiliki perhatian besar terhadap persoalan anak-anak muda. Dengan latar belakang filsafat dan psikologi, ia banyak mendampingi mahasiswa yang datang untuk berkonsultasi maupun mencurahkan persoalan kehidupan.
“Romo Wignyo itu filsuf dan psikolog dan membantu anak-anak muda. Mulai dari Bekasi sampai di Malang, beliau menjadi tempat anak-anak mahasiswa yang ingin dibimbing atau semacam curhat,” ungkap Tedja.
Pendampingan yang dilakukan Romo Wignyo, lanjutnya, tidak sebatas memberikan nasihat. Ia juga berusaha membangun keberanian dan semangat anak-anak muda agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Kalau yang saya dengar, beliau selalu memberikan spirit of fight,” katanya.
Kini, semangat tersebut diharapkan tetap hidup melalui Gua Maria Los Brantas.
Di tengah suara aliran Sungai Brantas dan suasana yang lebih tenang, tempat tersebut diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat dan generasi muda untuk berdoa, melakukan refleksi, menemukan ketenangan, sekaligus menguatkan diri sebelum kembali menghadapi kehidupan.
Renovasi Gua Maria Los Brantas pun bukan sekadar perubahan fisik. Di baliknya terdapat upaya merawat sebuah ruang yang menyimpan kenangan sekaligus meneruskan semangat pengabdian Romo Wignyo dalam mendampingi generasi muda.
Pewarta/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































