BACAMALANG.COM – Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD dan Kantor Pemerintah Kota Malang, Rabu (28/10/2026) sore. Di tengah guyuran hujan deras, massa menyuarakan kritik terhadap pemerintah, mulai dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga tuntutan keadilan atas Tragedi Kanjuruhan.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB itu menjadi panggung bagi beragam keresahan masyarakat. Massa membawa poster berisi kritik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, sekaligus mendesak pemerintah lebih serius menangani persoalan lingkungan dan memperjuangkan hak-hak masyarakat.
“Bubarkan rezim pembakar hutan kami!” seru salah satu orator di hadapan massa aksi.
Orator lainnya menyoroti penanganan karhutla di sejumlah wilayah Indonesia yang dinilai belum memadai. Mereka juga mengkritik ekspansi industri yang dianggap berpotensi mengorbankan kelestarian lingkungan dan hak ekologis masyarakat.
Dalam tuntutannya, massa mendesak pemerintah pusat segera menetapkan status bencana nasional untuk karhutla di berbagai wilayah Indonesia. Desakan tersebut disuarakan sebagai bentuk tuntutan agar penanganan kebakaran hutan dan lahan dilakukan secara lebih serius, terkoordinasi, dan berpihak pada keselamatan masyarakat serta kelestarian lingkungan.
Tragedi Kanjuruhan Kembali Disuarakan
Selain persoalan lingkungan, Tragedi Kanjuruhan turut menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian dalam demonstrasi tersebut. Massa mengingatkan kembali tragedi yang merenggut 135 nyawa itu melalui nyanyian bersama yang menggema di lokasi aksi.
“135 itu bukan angka, 135 itu korban jiwa. Arek-arek Malang, kalian tak sendiri. Arek-arek Malang, kalian tak sendiri,” nyanyi massa aksi secara serentak.
Seruan tersebut menjadi simbol solidaritas kepada para korban, keluarga korban, dan masyarakat Malang yang masih membawa ingatan atas tragedi sepak bola pada 1 Oktober 2022 tersebut.
Seorang orator juga menegaskan bahwa persoalan Kanjuruhan tidak boleh dilupakan. Ia mengajak masyarakat, khususnya Arek-arek Malang, untuk terus menyuarakan kepedulian terhadap para korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Kehadiran isu Kanjuruhan dalam demonstrasi ini memperlihatkan bahwa tuntutan massa tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keadilan, tanggung jawab, dan keberpihakan negara terhadap masyarakat.
Momentum Menentukan Keberpihakan
Salah satu koordinator aksi menyebut demonstrasi tersebut sebagai momentum bagi masyarakat untuk menyampaikan keresahan sekaligus menentukan sikap terhadap arah pemerintahan.
“Hari ini adalah momentum. Setelah dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran, banyak masalah di negeri ini. Hari ini Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu, kami sudah muak, kami akan menentukan keberpihakan,” ujarnya.
Ia menegaskan, aksi tersebut melibatkan berbagai sektor masyarakat yang berkumpul untuk menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi.
Di tengah hujan deras yang mengguyur Kota Malang, massa tetap menyampaikan tuntutan mereka. Suara penolakan terhadap kerusakan lingkungan berpadu dengan nyanyian solidaritas untuk korban Tragedi Kanjuruhan.
Bagi massa aksi, persoalan karhutla dan Tragedi Kanjuruhan menjadi pengingat bahwa keselamatan warga, perlindungan lingkungan, serta penegakan keadilan merupakan persoalan yang harus mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Pewarta/Editor: Imam Muchlis




















































