Oleh: Fadhil Rohmatul Ula
DEMA Universitas Al-Qolam Malang menghadirkan ruang dialektika melalui diskusi publik yang mempertemukan dua organisasi ekstra kampus, PMII dan GMNI, Rabu (28/10/2026) bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Mengangkat tema idealisme versus peran mahasiswa dalam persoalan sosial, forum ini menjadi wadah refleksi untuk membaca ulang arah gerakan pemuda di tengah kompleksitas persoalan masyarakat hari ini.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual muda tidak cukup hanya dibekali kemampuan berpikir kritis di atas kertas atau sekadar menyelesaikan bangku perkuliahan. Beban moral yang melekat menuntut pemahaman utuh serta kepekaan tajam untuk membaca, merespons, dan hadir langsung di tengah persoalan nyata yang mendera masyarakat. Posisi strategis ini menjadikan pemuda sebagai jembatan antara dunia akademis dan realitas sosial yang sering luput dari perhatian publik, sehingga kesadaran kritis harus selalu diiringi kepekaan nurani.
*Keberpihakan Mutlak Pada Rakyat*
Api pergerakan mahasiswa harus senantiasa diarahkan untuk membela kepentingan publik secara konsisten dan tanpa kompromi. Keberpihakan ini menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar, terutama dalam memperjuangkan hak-hak dasar rakyat yang kerap terabaikan kebijakan struktural serta menjadi corong terdepan menyuarakan ketidakadilan sosial di akar rumput. Tanpa keberpihakan yang jelas, segala retorika intelektual di kampus akan kehilangan makna dan substansi perjuangan.
Idealisme murni sering diuji kerasnya tembok kenyataan di lapangan yang jauh lebih kompleks dari teori di ruang kelas. Karena itu, mahasiswa dituntut mampu berjalan beriringan dengan realitas, menjaga nilai luhur perjuangan tanpa terjebak romantisme semu, serta adaptif menyesuaikan strategi gerakan menghadapi situasi sosial politik yang dinamis. Kematangan berpikir diuji dari bagaimana gagasan ideal tetap dapat dieksekusi secara taktis di tengah keterbatasan ruang dan waktu.
*Diversifikasi Bentuk Perjuangan*
Pergerakan mahasiswa tidak boleh direduksi hanya sebatas aksi turun ke jalan. Arena perjuangan sangat luas dan bisa diwujudkan melalui ragam metode yang tak kalah taktis serta berdampak panjang, mulai dari audiensi kebijakan dengan pemangku kepentingan, kerja advokasi hukum dan sosial, aksi solidaritas, hingga program pengabdian masyarakat yang menyentuh langsung kebutuhan warga. Setiap metode memiliki porsi dan efektivitasnya masing-masing tergantung persoalan yang dihadapi.
Nilai luhur Sumpah Pemuda harus diterjemahkan nyata dalam tindakan berupa persatuan kolektif lintas golongan. Perbedaan bendera, latar belakang organisasi, maupun faksi ideologi tidak boleh menjadi dinding pemisah, melainkan harus dilebur menjadi kekuatan besar bersama demi kepentingan rakyat secara utuh. Solidaritas gerakan akan jauh lebih ampuh ketika seluruh elemen mampu menanggalkan ego sektoral demi tujuan yang lebih besar.
Diskusi ini pada akhirnya menegaskan, idealisme dan realita bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dua pijakan yang saling melengkapi dalam tubuh pergerakan mahasiswa. Melalui konsolidasi pemikiran antara PMII dan GMNI, forum ini memberi sinyal kuat bahwa perubahan sosial berkelanjutan hanya bisa dicapai apabila ketajaman intelektual, keberpihakan pada rakyat, diversifikasi aksi, serta persatuan antar-organisasi mampu dirajut menjadi satu gerakan kolektif yang nyata.
*) Penulis Fadhil Rohmatul Ula, Ketua LPM Platinum Universitas Al Qolam Malang
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis




















































