Idealisme di Persimpangan Jalan: Menakar Peran Mahasiswa antara Narasi Gerakan dan Realitas Sosial - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 29 Okt 2026 07:38 WIB ·

Idealisme di Persimpangan Jalan: Menakar Peran Mahasiswa antara Narasi Gerakan dan Realitas Sosial


 Fadhil Rohmatul Ula, Ketua LPM Platinum Universitas Al Qolam Malang (tengah jaket merah). (Fadhil for bacamalang) Perbesar

Fadhil Rohmatul Ula, Ketua LPM Platinum Universitas Al Qolam Malang (tengah jaket merah). (Fadhil for bacamalang)

Oleh: Fadhil Rohmatul Ula

DEMA Universitas Al-Qolam Malang menghadirkan ruang dialektika melalui diskusi publik yang mempertemukan dua organisasi ekstra kampus, PMII dan GMNI, Rabu (28/10/2026) bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Mengangkat tema idealisme versus peran mahasiswa dalam persoalan sosial, forum ini menjadi wadah refleksi untuk membaca ulang arah gerakan pemuda di tengah kompleksitas persoalan masyarakat hari ini.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual muda tidak cukup hanya dibekali kemampuan berpikir kritis di atas kertas atau sekadar menyelesaikan bangku perkuliahan. Beban moral yang melekat menuntut pemahaman utuh serta kepekaan tajam untuk membaca, merespons, dan hadir langsung di tengah persoalan nyata yang mendera masyarakat. Posisi strategis ini menjadikan pemuda sebagai jembatan antara dunia akademis dan realitas sosial yang sering luput dari perhatian publik, sehingga kesadaran kritis harus selalu diiringi kepekaan nurani.

*Keberpihakan Mutlak Pada Rakyat*

Api pergerakan mahasiswa harus senantiasa diarahkan untuk membela kepentingan publik secara konsisten dan tanpa kompromi. Keberpihakan ini menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar, terutama dalam memperjuangkan hak-hak dasar rakyat yang kerap terabaikan kebijakan struktural serta menjadi corong terdepan menyuarakan ketidakadilan sosial di akar rumput. Tanpa keberpihakan yang jelas, segala retorika intelektual di kampus akan kehilangan makna dan substansi perjuangan.

Idealisme murni sering diuji kerasnya tembok kenyataan di lapangan yang jauh lebih kompleks dari teori di ruang kelas. Karena itu, mahasiswa dituntut mampu berjalan beriringan dengan realitas, menjaga nilai luhur perjuangan tanpa terjebak romantisme semu, serta adaptif menyesuaikan strategi gerakan menghadapi situasi sosial politik yang dinamis. Kematangan berpikir diuji dari bagaimana gagasan ideal tetap dapat dieksekusi secara taktis di tengah keterbatasan ruang dan waktu.

*Diversifikasi Bentuk Perjuangan*

Pergerakan mahasiswa tidak boleh direduksi hanya sebatas aksi turun ke jalan. Arena perjuangan sangat luas dan bisa diwujudkan melalui ragam metode yang tak kalah taktis serta berdampak panjang, mulai dari audiensi kebijakan dengan pemangku kepentingan, kerja advokasi hukum dan sosial, aksi solidaritas, hingga program pengabdian masyarakat yang menyentuh langsung kebutuhan warga. Setiap metode memiliki porsi dan efektivitasnya masing-masing tergantung persoalan yang dihadapi.

Nilai luhur Sumpah Pemuda harus diterjemahkan nyata dalam tindakan berupa persatuan kolektif lintas golongan. Perbedaan bendera, latar belakang organisasi, maupun faksi ideologi tidak boleh menjadi dinding pemisah, melainkan harus dilebur menjadi kekuatan besar bersama demi kepentingan rakyat secara utuh. Solidaritas gerakan akan jauh lebih ampuh ketika seluruh elemen mampu menanggalkan ego sektoral demi tujuan yang lebih besar.

Diskusi ini pada akhirnya menegaskan, idealisme dan realita bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dua pijakan yang saling melengkapi dalam tubuh pergerakan mahasiswa. Melalui konsolidasi pemikiran antara PMII dan GMNI, forum ini memberi sinyal kuat bahwa perubahan sosial berkelanjutan hanya bisa dicapai apabila ketajaman intelektual, keberpihakan pada rakyat, diversifikasi aksi, serta persatuan antar-organisasi mampu dirajut menjadi satu gerakan kolektif yang nyata.

*) Penulis Fadhil Rohmatul Ula, Ketua LPM Platinum Universitas Al Qolam Malang
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Catatan Peringatan Sumpah Pemuda dan Aspek Hukum: Dari Ikrar Politik 1928 Menuju Ketahanan Pemuda Malang Raya

28 Oktober 2026 - 06:58 WIB

Negara Gagal Menjaga Hutan, Korporasi Meraup Untung, Rakyat Menanggung Akibat

25 Oktober 2026 - 09:54 WIB

Ketika Krisis Iklim Bertemu dengan Beban Hidup, di Mana Tanggung Jawab Negara?

23 Oktober 2026 - 21:35 WIB

Jangan Asal Bagi Warisan, Kenali Dulu Aturan Hukum Agar Tak Jadi Sengketa Keluarga

21 Oktober 2026 - 17:40 WIB

Bullying di Malang Raya, Fenomena Gunung Es yang Mengancam Generasi

19 Oktober 2026 - 17:34 WIB

Mbah Rajak dan Penanganan Keluarga Miskin yang Serampangan

18 Oktober 2026 - 11:45 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !