Harga Singkong Naik, Pengrajin Tape Banjarsari Kelimpungan Cari Bahan Baku Sampai NTB - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

EKOBIZ · 7 Nov 2026 09:52 WIB ·

Harga Singkong Naik, Pengrajin Tape Banjarsari Kelimpungan Cari Bahan Baku Sampai NTB


 Kunjungan dari CIAD dan BRIN dalam rangka penelitian Singkong di Desa Banjarsari, Ngajum. (Kasrodin for bacamalang) Perbesar

Kunjungan dari CIAD dan BRIN dalam rangka penelitian Singkong di Desa Banjarsari, Ngajum. (Kasrodin for bacamalang)

BACAMALANG.COM – Kenaikan harga singkong atau sepe dalam dua bulan terakhir mulai memukul pengrajin tape di Desa Banjarsari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Selain harga naik, bahan baku juga semakin langka.

Kasrodin, pengrajin tape asal Banjarsari, mengatakan harga sepe kini menyentuh Rp5.000 per kilogram. Padahal sebelumnya harga normal hanya sekitar Rp3.000 per kilogram.

Kenaikan itu membuat biaya produksi tape ikut membengkak. Di saat yang sama, pasokan sepe di wilayah setempat semakin sulit didapat.

Menurut Kasrodin, kelangkaan ini tidak hanya terjadi di Banjarsari. Sepengetahuannya, sepe langka di seluruh Indonesia, terutama di Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar.

Penyebabnya diduga karena kemarau panjang yang membuat tanaman singkong tidak tumbuh optimal dan pasokan dari petani berkurang.

Kebutuhan sepe di Desa Banjarsari sendiri mencapai 20 ton setiap hari. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pengrajin terpaksa mendatangkan stok dari luar daerah, bahkan sampai dari Nusa Tenggara Barat.

Sulitnya bahan baku membuat aktivitas produksi tidak lagi berjalan normal. Kasrodin mengaku kini jarang berjualan karena bahan baku sulit didapat.

Produksinya pun turun drastis. Dari biasanya mampu mengolah 200 kilogram sepe per hari, kini hanya sekitar 100 kilogram, atau turun sekitar 50 persen.

Dampaknya langsung terasa pada pendapatan. Omzet kotor yang biasanya sekitar Rp 600.000 per hari, kini turun menjadi sekitar Rp 400.000 per hari. Bahkan pada hari-hari tertentu, tidak ada pemasukan sama sekali karena tidak ada bahan yang bisa diolah.

“Jarang jualan, bahan baku sulit,” kata Kasrodin, kepada bacamalang, Jumat (6/11/2026).

Untuk menyiasati kondisi ini, Kasrodin mengaku sudah mulai menanam singkong sendiri. Sementara untuk usaha tambahan lain, seperti berjualan kue, masih dipikirkan.

Kasrodin berharap pemerintah turun tangan membantu menstabilkan harga dan pasokan sepe, agar pengrajin tape di Banjarsari bisa kembali berproduksi normal.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Hui Chandra Fireta Raih Penghargaan CFO Inovatif 2026, Perkuat Transformasi JNE

5 November 2026 - 20:34 WIB

CIMB Niaga Syariah Hadirkan KPR iB Xtra Haji Umrah, Wujudkan Impian Punya Rumah Sekaligus Beribadah ke Tanah Suci

5 November 2026 - 20:25 WIB

FEB UKWK Malang Gandeng Bank Mandiri, Ajak Mahasiswa Ubah Gaya Konsumtif Jadi Investasi Produktif

5 November 2026 - 17:39 WIB

Diskopindag Kota Malang Perkuat Tata Kelola Keuangan Industri Hasil Tembakau

5 November 2026 - 13:00 WIB

SHM Masih Dikuasai Pemegang Hak, Johan Kristianto Somasi BSN Cabang Malang Terkait Dugaan KPR

5 November 2026 - 08:49 WIB

Berawal dari Tugas Ujian Susulan SMA, Clévia Dessert Homemade Mahasiswi FSTeM UB Kini Tembus Pasar Kampus dan Sekolah

2 November 2026 - 21:38 WIB

Trending di EKOBIZ

©Hak Cipta Dilindungi !