BACAMALANG.COM – Fotografi di Indonesia yang hadir dan berkembang sejak akhir abad 19 hingga awal abad ke-20 tak lepas dari upaya pemerintah kolonial dalam mengeksplorasi daerah jajahannya. Banyak fotografer Eropa yang terlibat dalam ekspedisi untuk mendokumentasikan berbagai peristiwa, lansekap wilayah maupun benda-benda arkeologis.
Seiring perkembangan jaman, fotografi di Indonesia berkembang ke arah komersial. Selain Eropa, orang-orang Tionghoa maupun pribumi mulai melihat fotografi sebagai ladang bisnis dengan membuka studio foto.
Kota Malang ternyata tak luput dari dinamika ini. Berawal dari menekuni bidang yang sama, para pegiat fotografi pun mulai mencoba bergabung dengan mendirikan kelompok atau klub foto.
Salah satu klub yang masih eksis adalah Malang Photo Club (MPC) yang merayakan hari jadinya yang ke 67 tahun, Selasa (15/3/2022).
Ketua MPC Jayadi Sugito mengatakan, MPC memiliki sejarah yang cukup panjang. Ia menceritakan bahwa bahwa pada masa sekitar 1951 hingga 1956 di Malang tumbuh beberapa kelompok kesenian dalam waktu yang hampir bersamaan, antara lain seni lukis, seni tari, seni musik dan lain-lain.
“Salah satunya adalah para seniman lukis dan seniman foto, yang antusias dengan berhimpun pada tanggal 15 Maret 1955 dan menyebut dirinya sebagai ”Art and Camera Club (ACC)”,” ujarnya.
Jayadi menambahkan, ACC merupakan ”cikal bakal” nya perkumpulan-perkumpulan seniman-seniman foto di Malang di kemudian hari. Pendiri ACC saat itu adalah Ong Kian Bie pemilik Studio Malang dengan ketua yang pertama adalah pemilik percetakan Paragon, Tan Sien Giok.
Jayadi mengatakan, sebagai fotografer Ong Kian Bie bukan hanya memotret di studio saja, namun ia juga mendokumentasikan berbagai sudut Kota Malang mulai lansekap, arsitektur hingga berbagai pertunjukan kesenian.
“Berkat beliau, kita masih dapat menikmati foto-foto Malang tempo dulu, bahkan banyak yang dijadikan kartu pos,” tukasnya.
Sementara Tan Sien Giok selain memotret juga tetap menulis sejumlah karya Jayadi mengungkapkan, ACC mengalami pasang surut, yang diwarnai dengan pergantian nama, mulai Perhimpunan Seni Photo Malang (PSPM) pada 1 Maret 1976 hingg akhirnya men jadi Malang Photo Club (MPC) pada 12 Maret 1992. Pada masa itu, imbuhnya, MPC juga mendorong lahirnya beberapa klub fotografi di lingkungan perguruan tinggi.

Kesibukan masing-masing anggota sempat membuat MPC beberapa tahun vakum, hingga akhirnya aktif kembali dengan mengusung MPC Reborn pada 10 Nopember 2014.
Jayadi mengatakan, MPC pada dasarnya tidak menganut genre tertentu bagi anggotanya.
“Mau minat street, lansekap, jurnalistik silakan bergabung, namun karena MPC berada di bawah naungan Federasi Perkumpulan Seniphoto Indonesia (FPSI), maka dapat dikatakan lebih ke arah art atau seni fotografi yang bisa dikembangkan ke arah lainnya,” terangnya.
Memasuki usia yang terbilang sudah ‘matang’ ini, kehadiran MPC cukup menarik, mengingat di era serba online seperti sekarang, tidak banyak klub foto yang masih menganut pertemuan berkala maupun pameran secara offline.
Pemilik studio foto di kawasan Tidar ini mengatakan, pertemuan rutin MPC dengan sekitar 60-an anggota aktif ini secara tatap muka sudah menjadi tradisi sejak lama.
“Meskipun begitu kita juga sudah memanfaatkan media sosial, apalagi saat pandemi, mulai pertemuan dan pameran juga secara online,” ujarnya.
MPC, terang Jayadi, punya program edukasi dengan nama panggung fotografi, yang berisi diskusi yang membahas berbagai topik fotografi antar anggota maupun fotografer tamu di luar MPC. Sementara tiap bulan digelar lomba foto internal karya anggota dengan tema yang berbeda-beda, yang nanti hasilnya dipamerkan tiap tahun sekali dengan nama Mata Emas.
“Pameran tersebut rencananya diadakan bulan April mendatang, namun mengingat kondisi saat ini, Pameran Mata Emas rencananya kami gelar secara online,” imbuhnya.
Salah satu anggota, Rahma Amalia mengaku senang karena di MPC bisa menambah wawasan dengan sharing fotografi.
“Misalnya saya akhirnya tahu bagaimana yang disebut foto seni Salon tersebut,” ujarnya.
Senada dengan Rahma, anggota lainnya, Andrianto mengungkapkan dirinya banyak belajar dan mengembangkan hobinya di bidang fotografi di MPC.
“Saya suka karena diskusi maupun kurasi tentang foto di sini sifatnya membangun, sehingga kekurangannya dapat diperbaiki,” ujar pria asal Jember yang bekerja di perbankan ini.
Peringatan ulang tahun MPC ke 67 ini digelar dengan beberapa rangkaian kegiatan, mulai napak tilas dengan foto bersama di Bundaran Tugu, yang juga menjadi inspirasi logo klub, hunting bersama di kawasan Kayutangan, hingga ziarah ke makam Abdul Kadir di TPU Samaan. Abdul Kadir adalah salah satu tokoh MPC yang sempat berdinas di AURI dan namanya diabadikan sebagai penghargaan di klub dengan nama Abdul Kadir Memorial Award. (ned)




















































