Oleh : Dr. Riyanto*
Pelangi-pelangi alangkah indahmu.
Merah, Kuning, Hijau di langit yang biru.
Pelukismu agung, siapa gerangan ?
Pelangi pelangi, ciptaan Tuhan.
Era ‘70-an Murry dan Tony Koeswoyo, Koes Plus, juga merilis lagu pelangi.
Kulihat pelangi, di pagi hari.
Kurindukan kekasih untuk kembali.
Bangsa ini nyeni, suka keindahan. Pelajaran warna di dikenalkan sejak dini. Sehingga faham, Putih adalah suci, Merah berani. Berani karena suci. Rawe-rawe rantas malang-malang tak beresi.
Mengingatkan Saya tentang warna Burung Garuda Pancasila di gedung DPR RI, “gelap !!!
Dalam budaya Jawa, diantara tafsir warna gelap (Hitam), suasana duka, kebutaan yang amat sangat, “peteng ndedet lelimengan.
Teriak-teriak Pancasila tentu akan percuma. Di sumbernya saja Pancasila menyerah kalah dalam kegelapan.
Kali ini plat nomor kendaraan. Ambil dua, Putih dan Merah.
Pertanyaan, adakah pelajaran tentang warna itu ?
Orang Jawa akan menjawab.
Putih adalah suci. Putih adalah bersih. Pribadi-pribadi warga bangsa harus lepas dari perbuatan menyimpang.
Jangan ikut memperlancar korupsi, nepotiisme, kolusi, dan ngapusi.
Kata pak Dalang, raihlah “tirto pawitro, mahening”, suci/ hidup bersih, tenteram, menggapai alam Surgawi.
Warna Hitam kewibawaan, kini diganti putih kesucian. Hidup paripurna.
Bagaimana dengan plat Merah untuk instansi pemerintah ? Intinya, menganjurkan untuk berani. Berani apa ? Jawabannya, cari sendiri.
Semoga warna burung Garuda Pancasila di DPR RI segera diganti. Plat kendaraan bermotor warna dasarnya dimaknai.
Bukan sekedar “electronic traffic law enforcement”, untuk mendukung sistem tilang elektronik.
Usul saya, semua pejabat instansi pemerintah, kendaraannya warna putih.
*Dr Riyanto adalah Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang
*Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.



























































