BACAMALANG.COM – Aktivitas kegempaan di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya terpantau cukup tinggi sepanjang September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Malang mencatat sebanyak 557 kejadian gempa bumi selama periode tersebut.
Berdasarkan laporan kegempaan BMKG, gempa yang terjadi memiliki magnitudo mulai M 1,08 hingga M 4,97. Aktivitas tersebut berkaitan dengan dinamika tektonik, terutama subduksi atau pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, serta aktivitas sejumlah patahan atau sesar aktif.
Kepala Stasiun Geofisika Malang, Ricko Kardoso, mengatakan kondisi kegempaan di Jawa Timur selama September didominasi gempa dangkal.
“Kondisi kegempaan di Jatim sepanjang September didominasi gempa dangkal akibat subduksi dan sesar aktif. Masyarakat tetap waspada namun tidak panik,” ujar Ricko, Kamis (1/10/2026).
Gempa Dangkal Mendominasi
Dari total 557 kejadian, sebanyak 429 gempa tercatat berada pada kedalaman kurang dari 60 kilometer atau kategori gempa dangkal.
Kemudian, 127 kejadian merupakan gempa dengan kedalaman 60 hingga 300 kilometer atau kategori gempa menengah. Sedangkan gempa dalam dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer tercatat satu kejadian.
Frekuensi gempa tertinggi terjadi pada 3 September 2026, dengan 29 kejadian dalam sehari. Sementara frekuensi terendah tercatat pada 19 September, yakni sembilan kejadian.
Tujuh Gempa Dirasakan Warga
Dari ratusan kejadian tersebut, BMKG mencatat tujuh gempa dirasakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah.
Gempa pertama terjadi pada 3 September pukul 03.52 WIB dengan magnitudo M 4,54 dan kedalaman 55 kilometer. Getaran dirasakan di Pacitan dengan intensitas III MMI, serta Lumajang, Malang, Blitar dan Tulungagung dengan intensitas II MMI.
Selanjutnya, pada 4 September pukul 12.05 WIB, gempa berkekuatan M 4,93 dengan kedalaman 33,9 kilometer dirasakan di sejumlah wilayah, antara lain Bantul, Kulonprogo, Kebumen, Cilacap, Purwokerto dengan intensitas III MMI, serta Pangandaran II-III MMI.
Pada 10 September pukul 16.03 WIB, gempa M 2,90 dengan kedalaman 5,7 kilometer dirasakan di Punggelan, Pandanarum dan Kalibening dengan intensitas III MMI. Getaran juga dirasakan di Sidamulya, Karangkobar dan Pasegeran dengan intensitas II-III MMI.
Kemudian pada 12 September pukul 02.43 WIB, gempa M 3,85 dengan kedalaman 5,4 kilometer dirasakan di Wonosobo dengan intensitas III MMI, Banjarnegara II-III MMI, serta Batang II MMI.
Masih pada 12 September, tepatnya pukul 04.23 WIB, gempa berkekuatan M 5,9 dengan kedalaman 376 kilometer dirasakan di sejumlah daerah, termasuk Cilacap, Palabuhanratu, Cisolok dengan intensitas III MMI, Garut, Bandung, Yogyakarta, Pacitan, Ponorogo, Kabupaten Malang, hingga Padang dengan intensitas II-III MMI.
Pada 14 September pukul 08.42 WIB, gempa M 4,97 dengan kedalaman 47,5 kilometer dirasakan di Pacitan, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Kediri, Bondowoso, serta Batu dengan intensitas II-III MMI. Getaran juga dilaporkan terasa hingga Kalibaru, Banyuwangi dan Badung dengan intensitas II MMI.
Sementara itu, gempa terakhir yang tercatat dirasakan warga terjadi pada 19 September pukul 07.40 WIB. Gempa berkekuatan M 2,6 dengan kedalaman 7 kilometer tersebut dirasakan di Tasikmalaya dan Ciamis dengan intensitas III MMI.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap memahami potensi gempa bumi di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya. Masyarakat diminta tetap tenang, meningkatkan kesiapsiagaan, serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































