Reog Ponorogo Torehkan Tiga Catatan di Museum Rekor-Dunia Indonesia - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 14 Agu 2022 15:02 WIB ·

Reog Ponorogo Torehkan Tiga Catatan di Museum Rekor-Dunia Indonesia


 Reog Ponorogo Torehkan Tiga Catatan di Museum Rekor-Dunia Indonesia Perbesar

BACAMALANG.COM – Parade 312 grup reog yang tampil di sepanjang Jalan Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto dan Jalan Jenderal Sudirman Ponorogo, Rabu (10/8/2022), kembali memecahkan rekor di Indonesia.

Kesenian reog dengan beragam elemennya berkali-kali menorehkan catatan di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Sehari sebelumya, Selasa (9/8/2022), sebanyak 2.022 pujangganong yang berkolaborasi dengan 100 penari sufi lebih dulu mengukir rekor.

MURI juga mencatatkan rekor tatkala 19.271 anak-anak peserta didik PAUD dan TK dari 21 kecamatan di Ponorogo menari massal Krido Warok Cilik pada 15 Juni 2022.

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengaku, bahwa Parade 312 grup reog itu sempat membuat decak kagum bersamaan masyarakat tumplek blek. Nyaris seluruh desa dan kelurahan di Ponorogo menyertakan grup reog lengkap dengan pembarong dadak merak, pujangganong, penari jathil, dan penabuh gamelan komplet. Dinamakan reog obyok karena tampil di jalanan dan bukan di panggung festival.

‘’Reog selama ini sudah berevolusi. Awalnya reog obyok lalu muncul versi festival,’’ kata Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.

Menurutnya, reog obyok kembali tampil dalam gelaran Grebeg Suro 2022 dan Hari Jadi ke-526 Kabupaten Ponorogo. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai ratusan hingga tercatat di MURI. Bersamaan itu, muncul jaminan kelestarian karena grup reog mini yang pemainnya terdiri pelajar SD dan SMP ikut turun ke jalan.

‘’Menandakan telah terjadi transmisi kebudayaan di Ponorogo, kaderisasi juga berjalan. Penari pujangganong didominasi anak-anak,’’ jelas Kang Giri sapaan akrab Bupati Ponorogo

Parade ratusan reog obyok itu seakan mengingatkan tradisi setiap Muharam di Ponorogo yang sempat terhenti hampir empat dasa warsa. Pada era 1980-an, setiap grup reog perwakilan desa di Ponorogo datang ke alun-alun untuk berpentas bertepatan tanggal 1 Suro. Penonton selalu berjubel ketika ada pementasan reog obyok. Nyaris setiap perempatan di kawasan kota selalu ada pertunjukan reog. (Lis/red)

Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Laka Maut Kepanjen: Truk Gandeng Serempet Pemotor, Korban Tewas di Tempat

14 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Perkuat Edukasi dan Literasi Keuangan, OJK Malang Kembali Hadir di Tong Tong Night Market 2026

14 Agustus 2026 - 07:20 WIB

UB Latih UMKM dan Petani Pujon Olah Limbah Cair Apel Jadi Minuman Fermentasi dan Biopestisida

14 Agustus 2026 - 06:49 WIB

Dosen UMM Gelar Coffee & Culture Festival AMKOFEST, Angkat Potensi Produksi Kopi dan Budaya Amadanom

13 Agustus 2026 - 21:19 WIB

Hadapi Kekeringan dan Ancaman Karhutla, Kabupaten Malang Perkuat Kesiapsiagaan

13 Agustus 2026 - 20:20 WIB

Dampak Transformasi Danantara, Laba Pupuk Indonesia Tembus Rp8,51 Triliun di Semester I 2026

13 Agustus 2026 - 18:10 WIB

Trending di HEADLINE

©Hak Cipta Dilindungi !