Langka, Kembar Siam Terjadi 1 dari 3 Juta Kelahiran, Begini Penjelasan Tim Dokter Ahli RS dr Soetomo Surabaya - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 12 Agu 2023 17:58 WIB ·

Langka, Kembar Siam Terjadi 1 dari 3 Juta Kelahiran, Begini Penjelasan Tim Dokter Ahli RS dr Soetomo Surabaya


 Ketua tim pendamping pemisahan bayi kembar siam RS dr Soetomo Surabaya dr Poerwadi SpBA, Subsp DA(K) (tiga dari kanan), dan Direktur RSSA Malang dr Bachtiar Budianto (dua dari kanan), bersama sebagian tim dari RSSA dan RS dr Soetomo Surabaya usai memberi keterangan pers di depan ruang IGD, Sabtu (12/8/2032). (Nedi Putra AW) Perbesar

Ketua tim pendamping pemisahan bayi kembar siam RS dr Soetomo Surabaya dr Poerwadi SpBA, Subsp DA(K) (tiga dari kanan), dan Direktur RSSA Malang dr Bachtiar Budianto (dua dari kanan), bersama sebagian tim dari RSSA dan RS dr Soetomo Surabaya usai memberi keterangan pers di depan ruang IGD, Sabtu (12/8/2032). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Tim Dokter RSUD dr Saiful Anwar Malang (RSSA) yang didampingi tim dokter dari RS dr Soetomo Surabaya sukses melakukan operasi separasi atau pemisahan bayi kembar siam yang pertama di Malang Raya, Sabtu (12/8/2023).

Ketua tim pendamping pemisahan bayi kembar siam RS dr Soetomo Surabaya dr Poerwadi SpBA, Subsp DA(K) menuturkan, bahwa bayi kembar siam termasuk fenomena langka, karena hanya terjadi 1 dari 3 juta kelahiran.

Meski termasuk kasus langka, ia mengingatkan kebijakan atau policy yang harus dipahami oleh masyarakat sehingga dapat dilakukan tindakan yang semestinya sebelum kelahiran.

“Saat ini hampir semua BKIA maupun Puskesmas di daerah sudah memiliki alat USG untuk ibu hamil, sehingga saya berpesan kepada bidan atau nakes yang bertugas, apabila dari hasil USG tersebut menemukan bayi berkepala dua, maka tolong segera dikonsultasikan ke dokter obgyn atau dokter kandungan subspesialis fetomaternal,” ungkapnya.

Dikatakan Poerwadi, konsultasi tersebut sangat penting agar segera diketahui apakah bayi tersebut kembar pisah atau dempet, karena jika kembar dempet akan dievaluasi lagi, karena mungkin bisa hidup atau akan meninggal.

Suasana operasi pemisahan bayi kembar siam pertama yang dilaksanakan tim dokter RSUD dr Saiful Anwar Malang (RSSA) didampingi tim dokter dari RS dr Soetomo Surabaya, Sabtu (12/8/2023). (Isitmewa).

Namun jika tidak mungkin hidup di luar, akan dilakukan pengakhiran kehamilan otomatis setelah berunding dengan semua pihak, baik itu keluarga maupun tokoh masyarakat.

“Ingat, dalam kondisi ini risikonya adalah baik ibu dan bayi akan meninggal,” tegasnya.

Poerwadi menjelaskan, jika bayi kembar tersebut bisa hidup, maka dipertahankan sampai lahir paling tidak dengan usia kehamilan ibu selama 32 minggu, dan segera dirujuk ke rumah sakit rujukan.

“Kalau di daerah Malang segera ke RSSA, atau kalau lebih dekat Surabaya dibawa ke RS dr Soetomo yang akan dioperasi secara caesar,” imbuhnya.

Poerwadi memaparkan, setelah dioperasi caesar, maka bayi baru lahir yang disebut neonatus tersebut akan diterapi atau dirawat hingga 28 hari atau masa neonatusnya selesai.

“Setelah itu baru didiagnostik, apakah bayi tersebut bisa dipisahkan atau tidak. Jika tidak bisa yang tidak dipisah, sedang yang bisa maka akan dilakukan optimalisasi, salah satunya jika berat badan masing-masing 5 kg,” tandasnya.

Seperti diketahui operasi pemisahan ini dilakukan terhadap bayi Aliyah-Aisiyah, putri dari Ny S asal Kabupaten Pasuruan yang mengalami kondisi perut menempel, yang dikenal dengan omphalofagus atau kembar siam. Kondisi yang disebabkan pembelahan sel yang tidak sempurna ini membuat organ dalamnya, yakni hati atau liver juga menempel, demikian pula dengan tulang dadanya yang mengalami penyatuan. 

Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki

Artikel ini telah dibaca 397 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Dugaan Pungli dan Jual Beli Lapak PKL Alun-Alun Batu Menguat, Lapak Dicor Permanen hingga Seret Oknum ASN

10 Mei 2026 - 15:42 WIB

Terekam CCTV, Pria Lansia Gondol HP Abang Becak di Jalan Dieng Kota Malang

10 Mei 2026 - 12:14 WIB

Ganggu KKOP Lanud Abdulrachman Saleh, Satpol PP Kabupaten Malang Segel BTS 42 Meter di Jabung

10 Mei 2026 - 11:50 WIB

Masuki Musim Kemarau 2026, BPBD Kabupaten Malang Petakan Wilayah Rawan Kekeringan

9 Mei 2026 - 21:47 WIB

Petani Kabupaten Malang Dibekali Strategi Hadapi Perubahan Iklim dan Ancaman El Nino

9 Mei 2026 - 21:41 WIB

Lomba PKS Jadi Ajang Pembentukan Karakter dan Disiplin Siswa SMP di Kabupaten Malang

9 Mei 2026 - 18:24 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !