BACAMALANG.COM – Tim Dokter RSUD dr Saiful Anwar Malang (RSSA) yang didampingi tim dokter dari RS dr Soetomo Surabaya sukses melakukan operasi separasi atau pemisahan bayi kembar siam yang pertama di Malang Raya, Sabtu (12/8/2023).
Ketua tim pendamping pemisahan bayi kembar siam RS dr Soetomo Surabaya dr Poerwadi SpBA, Subsp DA(K) menuturkan, bahwa bayi kembar siam termasuk fenomena langka, karena hanya terjadi 1 dari 3 juta kelahiran.
Meski termasuk kasus langka, ia mengingatkan kebijakan atau policy yang harus dipahami oleh masyarakat sehingga dapat dilakukan tindakan yang semestinya sebelum kelahiran.
“Saat ini hampir semua BKIA maupun Puskesmas di daerah sudah memiliki alat USG untuk ibu hamil, sehingga saya berpesan kepada bidan atau nakes yang bertugas, apabila dari hasil USG tersebut menemukan bayi berkepala dua, maka tolong segera dikonsultasikan ke dokter obgyn atau dokter kandungan subspesialis fetomaternal,” ungkapnya.
Dikatakan Poerwadi, konsultasi tersebut sangat penting agar segera diketahui apakah bayi tersebut kembar pisah atau dempet, karena jika kembar dempet akan dievaluasi lagi, karena mungkin bisa hidup atau akan meninggal.

Namun jika tidak mungkin hidup di luar, akan dilakukan pengakhiran kehamilan otomatis setelah berunding dengan semua pihak, baik itu keluarga maupun tokoh masyarakat.
“Ingat, dalam kondisi ini risikonya adalah baik ibu dan bayi akan meninggal,” tegasnya.
Poerwadi menjelaskan, jika bayi kembar tersebut bisa hidup, maka dipertahankan sampai lahir paling tidak dengan usia kehamilan ibu selama 32 minggu, dan segera dirujuk ke rumah sakit rujukan.
“Kalau di daerah Malang segera ke RSSA, atau kalau lebih dekat Surabaya dibawa ke RS dr Soetomo yang akan dioperasi secara caesar,” imbuhnya.
Poerwadi memaparkan, setelah dioperasi caesar, maka bayi baru lahir yang disebut neonatus tersebut akan diterapi atau dirawat hingga 28 hari atau masa neonatusnya selesai.
“Setelah itu baru didiagnostik, apakah bayi tersebut bisa dipisahkan atau tidak. Jika tidak bisa yang tidak dipisah, sedang yang bisa maka akan dilakukan optimalisasi, salah satunya jika berat badan masing-masing 5 kg,” tandasnya.
Seperti diketahui operasi pemisahan ini dilakukan terhadap bayi Aliyah-Aisiyah, putri dari Ny S asal Kabupaten Pasuruan yang mengalami kondisi perut menempel, yang dikenal dengan omphalofagus atau kembar siam. Kondisi yang disebabkan pembelahan sel yang tidak sempurna ini membuat organ dalamnya, yakni hati atau liver juga menempel, demikian pula dengan tulang dadanya yang mengalami penyatuan.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki




















































