BACAMALANG.COM – Episode perjalanan pegowes ‘Justice for Kanjuruhan’ Narendra Wicaksono kali ini bertemu dengan pesepeda asal Pulau Madura yang terlantar. Ahmad (35), pesepeda tersebut kini mengalami sakit dan membutuhkan perhatian.
“Pesepeda ini bernama Pak Ahmad beliau berasal dari Pulau Madura, sudah menempuh perjalanan dari Madura hingga ujung Indonesia di Pulau Batam dan masuk di Malaysia pada tanggal 31 Januari 2024. Rencananya akan menuju Makkah Arab Saudi,” tegas Narendra kepada BacaMalang.com, Minggu (26/5/2024).
Dikatakannya, Ahmad salah memahami aturan imigrasi karena ia mengira masa berlaku paspor 10 tahun bisa dipergunakan untuk tinggal dalam satu negara dalam waktu yang tidak ditentukan.
Padahal sebenarnya izin tinggal untuk satu negara contoh Malaysia hanya 30 hari dan Thailand 28 hari dan yang terjadi karena ketidaktahuan itu, sekarang Ahmad mengalami overstay hingga lebih dari 100 hari.
Ia menjelaskan, penyebab terlantar yakni ketidaktahuan geografis dan pengetahuan imigrasi membuat Ahmad mengalami overstay di Malaysia selama 100 hari lebih. Padahal untuk mengurus biaya overstay untuk 1 hari dikenai denda 30 Ringgit Malaysia tinggal dikalikan saja.
Narendra mengungkapkan, apa yang dilakukan Ahmad untuk bertahan hidup membuatnya tergerak untuk menolong pria asal Madura tersebut.
“Selama ini Pak Ahmad hanya berputar-putar mencari pertolongan. Tapi begitu saya mengetahui kondisinya saya langsung menghubungkan dengan Pak Juki seorang WNI dari Madura juga yang pernah saya singgahi di Kota Ipoh, Perak Malaysia,” urainya.
Ditanya apa ada pihak lain yang tergerak membantu, Narendra menuturkan, untuk saat ini berbagai pihak terus berkoordinasi tetapi kondisi Ahmad tengah mengalami penurunan kesehatan, di mana saat ini sedang sakit dan dirawat oleh keluarga Juki.
Narendra menyebutkan, dirinya berusaha untuk mencarikan bantuan solidaritas kepada semua orang agar mencarikan jalan terbaik untuk Ahmad, karena dirasa untuk melanjutkan perjalanan ke Thailand sangatlah sulit mengingat medan dan cuaca yang tidak mudah serta faktor perbedaan bahasa.
Peduli agar kejadian seperti ini tidak lagi menimpa warga Indonesia, Narendra berharap kepada siapapun yang ingin melakukan penjelajahan jarak jauh lintas negara, agar memperhatikan lagi tentang persiapan dan pengetahuan.
“Itulah yang membuat saya kesal saat ada pemberitaan media yang memuat tentang perjalanan yang saya lakukan dengan kata-kata ‘nekat’. Bagi saya itu tidak tepat, karena saya sudah mempersiapkan perjalanan panjang lintas negara ini dalam 5 tahun,” urainya.
Sebagai persiapan Narendra telah belajar budaya dan bahasa negara-negara yang ia lalui melalui berbagai aplikasi pertemanan internasional.
“Baru setelah merasa siap, saya mengeksekusi perjalanan ini,” ungkapnya.
Narendra berharap ada keluarga Ahmad yang mengetahui kisah ini (berita ini) dan memberikan bantuan untuk solusinya.
“Saya berharap dari pemberitaan BacaMalang ini akan sampai kepada keluarga Pak Ahmad yang berada di Pulau Madura untuk mensolusikannya,” tutupnya.
Seperti diketahui, dalam berita sebelumnya, Narendra Wicaksono telah memulai perjalanan bersepeda dari Klaten menuju Makkah, sambil menuntut keadilan bagi korban Tragedi Kanjuruhan. Kini, perjalanannya telah membawanya sampai ke Thailand.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki



















































