Pengembangan Pariwisata Berbasis Komunitas - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

KULWIS · 19 Jun 2024 17:14 WIB ·

Pengembangan Pariwisata Berbasis Komunitas


 Sukidin, Korprodi Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember. (ist) Perbesar

Sukidin, Korprodi Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember. (ist)

 

Author: Sukidin
Korprodi Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember

Di Indonesia sektor pariwisata dianggap memiliki prospek berkembang dan menjanjikan dijadikan sebagai leading sektor di masa depan.

Konsep pengembangan yang cukup popular saat ini adalah pengembangan desa wisata cerdas.

Pengembangan smart village tourism ini dinilai sebagai model pariwisata berkelanjutan atau pariwisata konservasi yang melibatkan pemangku kepentingan dan komunitas masyarakat desa sebagai aktornya.

Konsep desa wisata cerdas ini kemudian dikapitalisasi sebagai destinasi wisata menarik dan melalui pemasaran digital secara massif, desa wisata cerdas ini dianggap mewakili pariwisata konservasi.

Namun dalam realitasnya, pengembangan pariwisata tersebut lebih menekankan pada bias teknologi karena mengesampingkan aspek humanistik, aspek-aspek nilai budaya dan kearifan lokal.

Dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui desa cerdas pariwisata ini tekanan utama yang harus dikerjakan adalah modernisasi pemasaran pariwisata melalui digitalisasi.

Media sosial dan digitalisasi menjadi kebutuhan utama yang tak dapat ditawar.

Pelatihan literasi teknologi informasi menjadi keniscayaan dan masyarakat desa dituntut memanfaatkan kemajuan teknologi informasi ini untuk meningkatkan kesejahteraan melalui kegiatan pariwisata.

Adanya bias teknologi, pemasaran destinasi wisata desa ini terkesan sekedar mengkomersialisasi produk wisata, tanpa memperhatikan keterlibatan masyarakat dalam tata kelola pariwisata.

Melalui pemasaran dari mulut ke mulut (world of mouth) seakan sudah menjadi landmark smart village tourism yang diwujudkan melalui pariwisata konservasi.

Aspek konservasi, lingkungan, cagar budaya yang mengalami kerusakan belum menjadi arus utama.

Pada masa mendatang pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui desa wisata cerdas, belum cukup bila hanya mengandalkan digitalisasi pemasaran.

Mengintegrasikan aspek teknologi dan aspek nilai budaya dan sosial (humanistic) merupakan alternatif agar smart village tourism viable dijadikan basis dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Tujuannya untuk menciptakan model integrasi aspek teknologi dan nilai sosial budaya dalam mengembangkan pariwisata konservasi, sebagai pariwisata berkelanjutan dengan aplikasi teknologis dan mempertimbangkan dimensi sosial budaya, ekonomi dan lingkungan.

Pengembangan pariwisata memerlukan terobosan yang mampu menyangga pariwisata menjadi pariwisata berkelanjutan dengan terintegrasi melalui pengembangan community based tourism (pariwisata berbasis komunitas), yakni mengembangkan desa wisata berkelanjutan berbasis komunitas dengan mengintegrasikan teknologi, nilai budaya dan lingkungan perdesaan.

Pengembangan pariwisata berbasis komunitas sebagai pariwisata berkelanjutan ini menggunakan prinsip dasar sustainable news.

Tulisan sederhana ini berusaha mengungkap pola pengembangan pariwisata berbasis komunitas.

Dihadapkan dengan tantangan pembangunan pariwisata di masa mendatang, pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis komunitas (CBT) dapat menjadi alternatif kepariwisataan.

Desa wisata berkelanjutan berbasis komunitas adalah pemukiman pedesaan yang mapan, melestarikan cerita rakyat, etno nilai-nilai atau tradisi dan dengan masa lalu yang dipenuhi oase keunikan.

Konsep CBT juga berfungsi sebagai hosting bagi wisatawan yang menghabiskan tinggal, dan menikmati waktu luang yang tidak terbatas atau mengunjungi desa-desa ini dalam program wisata keliling, dengan dengan menu makan yang bervariasi menjadi destinasi wisata yang menyenangkan.

Dari perspektif teori pariwisata konservasi melalui desa wisata cerdas adalah konsep inovatif yang menggunakan kemampuan teknologi modern untuk meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan efisiensi seluruh interaksi sosio-ekonomi dan proses produksi.

Masyarakat telah berkembang pesat dan telah mencapai berbagai keberhasilan dalam meningkatkan kualitas hidup.

Peradaban tetap menjadi saksi dari banyak perubahan yang terkait dengan perkembangannya melalui katalis industri, lingkungan, ilmiah, dan teknologi.

Era modern yang dilengkapi teknologi informasi telah membuktikan potensinya.

Namun kemajuan teknologi informasi untuk pengembangan pariwisata konservasi melalui desa wisata cerdas perlu mempertimbangkan beberapa faktor, seperti sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan.

Mengintegrasikan aspek teknologis dan non-teknologis (humanistic) akan memberikan jaminan terciptanya kesejahteraan masyarakat desa.

Desa wisata berkelanjutan yang berbasis komunitas hadir dengan kemungkinan mendukung pemulihan ekonomi pedesaan dengan menggunakan sumber daya lokal.

Ini adalah inisiatif berkelanjutan bahwa keterlibatan seluruh masyarakat diperlukan dan pengembangan kegiatan wisata akan membawa manfaat bagi masyarakat.

Pertumbuhan pariwisata berkelanjutan tidak lepas dari dukungan budaya lokal yang memiliki keunikan.

Budaya lokal yang terawat di berbagai daerah akan berkontribusi secara nyata sebagai promosi pariwisata.

Pertumbuhan sektor pariwisata dapat berdampak positif terhadap perekonomian, sosial budaya, dan lingkungan masyarakat.

Pengembangan pariwisata berbasis komunitas dapat meningkatkan kemandirian desa dengan lingkungan perdesaan, redistribusi dan kesetaraan, serta kesejahteraan masyarakat.

Selain itu pemerintah dan organisasi lain, melalui pendanaan pro-CBT mendorong masyarakat lokal untuk berpartisipasi pada sektor pariwisata.

Oleh karena itu perlu memiliki mekanisme dan kebijakan yang tepat untuk memastikan kegiatan CBT di komunitas berkembang secara maksimal.

Melalui dukungan aktif, CBT ini akan mengedepankan nilai dan manfaat yang besar bagi semua pihak.

Dalam perencanaan dan membangun manajemen mekanisme CBT harus memastikan sistem manajemen yang tepat, hubungan antara entitas dan kapasitas manajemen yang tepat, dan model manajemen harus didesentralisasi.

Dalam perencanaan pengembangan CBT, perlu mempertimbangkan batasan operasional, struktural dan budaya partisipasi masyarakat. Partisipasi di tingkat lokal sangat penting untuk mencapai tujuan global yang pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Pendidikan dan pelatihan dasar diperlukan masyarakat sasaran untuk mendampingi pengembangan pariwisata.

Komunitas lokal harus mengembangkan strategi untuk menerima dan berinteraksi dengan wisatawan dan mengekspresikan diri serta budaya nyata mereka.

Solusi ini melibatkan upaya untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara manfaat ekonomi dan integritas budaya melalui integrasi teknologi, nilai budaya dan lingkungan perdesaan.

Konsep CBT secara bertahap mulai terbentuk di wilayah pedesaan dan siap menerima pengunjung dengan sikap yang ramah dan simpatik.

Pariwisata berbasis komunitas merupakan arah yang cocok untuk daerah perdesaan dan dapat memperoleh manfaat ekonomi serta berkontribusi dalam melestarikan nilai-nilai budaya tradisional.

Oleh karena itu, pengembangan CBT dapat dianggap sebagai strategi yang tepat.

Melalui pengembangan pariwisata konservasi, masyarakat perdesaan yang masih berbasis lingkungan perdesaan akan mendapatkan manfaat dalam banyak hal, sehingga meningkatkan kualitas hidup dengan peluang terlibat dalam CBT.

Model CBT merupakan jawaban dalam membangun pariwisata.

Pelibatan komunitas merupakan modal sosial yang dapat sebagai pengungkit kemajuan dunia pariwisata di masa depan.

Artikel ini telah dibaca 102 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Grand Whiz Hotel Trawas Hadirkan “Haven June Staycation”, Kombinasi Pegunungan Asri, Fasilitas Ramah Keluarga, dan Aktivitas Anak yang Menarik

18 Juni 2026 - 20:20 WIB

Taste of Asia, Promo All You Can Eat Persembahan Atria Hotel Malang di Akhir Pekan

11 Juni 2026 - 15:57 WIB

Lan Hua Chinese Restaurant Malang Sajikan Dragon Boat Family Set, Hadirkan Momen Bersantap Intim Bertiga

9 Juni 2026 - 13:56 WIB

Disparbud Gandeng Penggerak Konservasi Perkuat Ekowisata dan Eduwisata Pesisir Malang Selatan

7 Juni 2026 - 09:26 WIB

Ngopi di Bangunan Kolonial Belanda, 7 Cafe Batu Tawarkan Sensasi Berbeda dengan Harga Ramah Kantong

31 Mei 2026 - 19:45 WIB

Libur Panjang, 3.500 Wisatawan Padati Mikutopia: Wahana Mega Disco Jadi Favorit Pemacu Adrenalin

31 Mei 2026 - 15:58 WIB

Trending di KULWIS

©Hak Cipta Dilindungi !