BACAMALANG.COM – Konferensi Internasional Pengetahuan dari Perempuan (PDP) IV yang digelar Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) bekerjasama dengan Forum Pengada Layanan (FPL) dan Universitas Brawijaya (UB) juga menampilkan sejumlah karya seni hingga kerajinan tangan yang dipamerkan di gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya (UB) mulai 17-19 September 2024.
Secara keseluruhan pameran ini menampilkan karya-karya yang menyuarakan kesetaraan dan isu-isu perempuan, hak asasi manusia lainnya, termasuk di ranah lingkungan hidup. Di antara warna-warni karya yang ada, salah satu yang cukup menarik perhatian adalah stand dengan sejumlah buku namun bernuansa serba hitam bertuliskan besar “Menolak Lupa 135+ Tragedi Kanjuruhan”.
Iik, peserta dari Gelap Terang Pustaka Jalanan menuturkan, ia sengaja bergabung dengan paguyuban literasi Malang untuk mengangkat tragedi besar yang berdampak duka mendalam bukan hanya bagi supporter bola, tapi juga kepada warga Malang pada umumnya.
“Kami membawa isu ini ke acara komnas perempuan, mengingat tragedi ini juga melibatkan banyak korban tewas, termasuk perempuan dan anak-anak, serta kasusnya hingga kini masih tidak jelas pengusutannya,” ujar dia di sela pameran, Kamis (19/9/2024).
Dikatakan Iik, selain tragedi Kanjuruhan, selama pameran berlangsung pihaknya berusaha berkampanye kepada pengunjung terkait isu rasisme, diskriminasi maupun isu-isu kekerasan lainnya di masyarakat. “Apalagi nanti tanggal 1 Oktober genap 2 tahun Tragedi Kanjuruhan ini terjadi,” tandasnya.

Pameran karya seni dalam Konferensi Internasional Pengetahuan dari Perempuan (PDP) IV di gedung Samantha Krida UB, Kamis (19/9/2024). (Nedi Putra AW)
Senada dengan Iik, salah satu pengunjung, Desy Erliza Putri mengaku sangat prihatin dengan kejadian yang menewaskan ratusan jiwa tersebut. Meski bukan penggemar bola, namun perempuan asal Bojonegoro ini ikut merasa sedih dan kehilangan. “Kebetulan bapak kos saya yang ikut menonton langsung di stadion, juga meninggal dalam kejadian tersebut,” ujarnya.
Di sisi lain, Desy juga sangat tertarik dan mengapresiasi adanya Konferensi Internasional Pengetahuan dari Perempuan ini di kampus UB. Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi ini menilai, bagaimanapun juga kampus masih rentan dari berbagai kasus kekerasan kepada mahasiswi atau perempuan.
“Kita tahulah bahwa sampai saat ini yang namanya pem-bully-an, kekerasan, utamanya kepada perempuan masih banyak terjadi, bahkan di kampus ternama sekalipun. Dari kegiatan ini saya berharap para korban dapat menemukan upaya pendampingan bersama pihak-pihak yang tepat agar mendapat penanganan maupun pemulihan dari berbagai tindakan kekerasan, ” tegasnya.
Selain itu, ada pula stand pameran dari Women Ngalam Bergerak yang menghadirkan kerajinan tangan mulai dari baju, batik, maupun tas yang merupakan hasil karya dari beberapa komunitas perempuan di alang Raya. Karya seni berupa lukisan, foto hingga mural yang dipamerkan tersebut ada pula yang merupakan karya penyintas korban kekerasan seksual dan keluarga korban tragedi Kanjuruhan.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga


























































