BACAMALANG.COM – Kartini dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan keadilan sosial, kesetaraan gender, dan emansipasi wanita di masanya. Pemikiran Kartini banyak dipengaruhi oleh sahabat penanya dari Belanda, Stella Zeehandelaar, yang merupakan aktivis sosialis dan feminis. Stella berperan dalam mendorong Kartini untuk mempertanyakan berbagai ketimpangan sosial yang ada di lingkungannya, di Jawa pada masa penjajahan.
Kartini bahkan sempat mendapatkan kesempatan meraih beasiswa dari Belanda, namun beasiswa tersebut tidak diambilnya karena ayahnya tidak memberikan izin. Penolakan tersebut menggambarkan kecintaan Kartini kepada ayahnya dan keterikatannya pada norma-norma keluarga. Selain itu, ada kekhawatiran dari pemerintahan kolonial bahwa Kartini akan bergabung dengan gerakan sosialis yang menentang ketidakadilan di Jawa.
Kartini akhirnya menikah dengan Bupati Rembang dengan syarat-syarat yang melawan tradisi feodalisme Jawa: ia tidak mau mencium kaki suaminya, tidak berjalan jongkok di hadapan suaminya, dan memilih menggunakan bahasa ngoko daripada kromo inggil.
Pada masa itu, tuntutan Kartini dianggap sebagai perlawanan terhadap norma yang mengakar kuat, meskipun kini mungkin terlihat wajar. Perjuangan Kartini terhadap feodalisme dan norma patriarki tersebut memberikan inspirasi kepada berbagai gerakan perempuan, termasuk GERWANI, yang kemudian menerbitkan majalah bertajuk “Api Kartini”.
Namun, citra Kartini yang progresif tersebut berubah di era Orde Baru. Kartini digambarkan sebagai sosok yang ayu, halus, dan ideal untuk propaganda yang menonjolkan peran wanita dalam ranah domestik. Kebaya dan sanggul yang diwajibkan setiap tanggal 21 April menjadi bagian dari upaya mendefinisikan ulang Kartini sesuai narasi Orde Baru.
“Semangat Kartini untuk keadilan dan kesetaraan gender seharusnya menjadi pelajaran penting bagi generasi masa kini,” ujar Nuril Hidayati, Wakabid Kesarinahan DPK GMNI Fakultas Tarbiyah Universitas Al-Qolam Malang. Nuril juga mengungkapkan bahwa kegiatan perempuan di era Orde Baru, seperti melalui PKK, lebih banyak berkutat pada urusan rumah tangga seperti memasak dan merias, tanpa menyentuh isu penting seperti advokasi hak-hak wanita.
Sementara itu, Ketua Komunitas Bravo Jurnalistik, Eka Putri Vania, S. Pd., menyampaikan pandangannya tentang perjuangan Kartini. “Ibu Kartini adalah simbol perjuangan perempuan Indonesia yang tidak pernah lekang oleh waktu. Dengan semangat dan dedikasinya yang tak tergoyahkan, ia berjuang untuk meningkatkan hak-hak perempuan dan pendidikan di Indonesia, membuka jalan bagi generasi-generasi berikutnya untuk meraih impian mereka. Warisan pemikirannya masih relevan hingga saat ini dan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berjuang demi kemajuan bangsa,” ungkapnya.
Eka Putri Vania juga menyoroti keunikan Kartini yang mahir berbahasa Belanda, memiliki tata bahasa yang sangat bagus, dan kebiasaannya membaca buku. “Orang-orang Belanda yang meragukan surat-surat Kartini akhirnya yakin bahwa surat-surat tersebut memang asli tulisan Kartini,” jelasnya. Tidak hanya itu, Kartini juga dikenal sebagai seorang pebisnis yang mendirikan bengkel ukir kayu di Rembang, yang membantu pemuda setempat hingga kriya ukir menjadi tulang punggung perekonomian di Kabupaten Jepara dan Rembang.
“Perjuangan Ibu Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan pendidikan adalah contoh nyata dari keberanian dan keteguhan hati. Ia membuktikan bahwa dengan semangat dan dedikasi, kita dapat membuat perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Melalui tulisan-tulisannya, ia menginspirasi banyak orang untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tambah Eka.
Melalui refleksi ini, diharapkan nilai-nilai perjuangan Kartini yang berani dapat kembali diangkat sebagai inspirasi untuk membangun kesetaraan gender yang lebih baik di masa kini.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga


























































