Petani Dampit Maksimalkan Ternak Kambing untuk Tingkatkan Hasil Pertanian - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 24 Sep 2020 16:53 WIB ·

Petani Dampit Maksimalkan Ternak Kambing untuk Tingkatkan Hasil Pertanian


 Petani Dampit Maksimalkan Ternak Kambing untuk Tingkatkan Hasil Pertanian Perbesar

BACAMALANG.COM – Dalam masa pandemi ini, petani dituntut ulet berjuang dan memutar otak agar bisa survive dalam mengelola usaha tani.

Salah satu yang layak mendapat apresiasi adalah ikhtiar petani Desa Sukodono Kecamatan Dampit Kabupaten Malang, yang melakukan sinergisitas peternakan kambing dan pertanian untuk peningkatan pendapatan di masa Covid-19.

“Kambing, adalah sahabat petani, dimana disamping dijual dagingnya, kotoran kambing sangat bagus untuk pupuk organik (bokasi). Karenanya kami berupaya memaksimalkan kombinasi usaha ini,” tandas Petani Sukodono Dampit, Tamin, Kamis (24/9/2020).

Solusi Alternatif

Tamin menjelaskan, mulai tahun 2010 pemerintah mengeluarkan kebijakan mengurangi pupuk kimia ( urea, za, sp 36, dan Ponska). Hingga akhirnya petani mulai berpikir untuk mencari alternatif sebagai solusi.

Belum lagi petani sulit untuk mendapatkan pupuk bersubsidi itu, karena, rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) tidak optimal.

Banyak petani kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, karena banyak faktor penyebab terjadinya kelangkaan pupuk.

Salah satunya kios yang tidak efektif dalam distribusi, karena di Dampit, rata-rata disamping sebagai kios penyaluran, juga sebagai pedagang polowijo.

Belum lagi kebijakan pemerintah dengan sistem E RDKK. Malah semakin sulit untuk mendapatkan pupuk bersubsidi.

Karena di sistem e RDKK pengambilan pupuk bersubsidi menggunakan kartu tani Indonesia (KTI) yang dikeluarkan bank BNI cabang UB.

Petani Tidak Terdampak

Tetapi sebagian besar petani dan peternak, tidak terdampak karena sejak tahun 2016, sudah tidak menggunakan pupuk bersubsidi.

Tetapi menggunakan pupuk organik bokasi produk lokal yang juga bagus.
Karena pupuk bersubsidi anorganik mengandung unsur makro (nitrogen, pospat, kalium) tetapi tidak bisa menciptakan unsur-unsur mikro.

Ada lebih dari 16 unsur yang tidak bisa dihasilkan dari pupuk subsidi. Diantaranya (mg, Zn, cu, Gw dan lainnya) yangg mana itu penting untuk kebutuhan tanaman.

Sehingga optimalisasi pemanfaatan kebun kopi petani, disamping sebagai penghasil kopi, tanaman naungan , sebagai alternatif untuk pakan ternak, belum lagi pemanfaatan urine sebagai FOC( Pupuk organik cair).

“Ada banyak manfaat menggunakan pupuk dari kotoran kambing. Tercipta pula pertanian organik yang memiliki manfaat yaitu ramah lingkungan, energi alternatif dan perbaikan unsur tanah,” papar Tamin mengakhiri. (had)

Artikel ini telah dibaca 52 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

PN Malang Lakukan Konstatering Lahan Sengketa di Jalan Pahlawan Trip, Tahap Awal Menuju Eksekusi

31 Juli 2026 - 07:52 WIB

Komplotan Maling Terekam CCTV, Honda Vario Raib Digasak di Morotanjek Singosari

31 Juli 2026 - 07:30 WIB

Kolaborasi Masif Tekan Kasus TBC di Kota Malang, Wali Kota Wahyu: Dari Pemkot hingga RT/RW Bergerak Bersama

31 Juli 2026 - 06:35 WIB

Abdul Qodir: Penyelesaian Pasar Karangploso Harus Kedepankan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kemanfaatan

30 Juli 2026 - 23:23 WIB

Tiga Kali Somasi Diabaikan, PN Kota Malang Eksekusi Rumah Senilai Miliaran Rupiah di Araya

30 Juli 2026 - 20:31 WIB

Ayam Goreng Balai Kota Luncurkan Liwet Kendil Obonk, Sensasi Makan Bersama dalam Kendil Tanah Liat

30 Juli 2026 - 12:52 WIB

Trending di KULWIS

©Hak Cipta Dilindungi !