BACAMALANG.COM – Di sebuah gang kecil di kawasan Pandanwangi, Kota Malang, aktivitas produksi alat kebugaran terlihat berjalan seperti biasa. Namun di balik rutinitas tersebut, perubahan besar tengah berlangsung. Belfit Sport, UMKM yang fokus pada penjualan barbel, kini mulai bertransformasi dari pemasaran konvensional menuju strategi digital yang lebih terarah.
Transformasi ini tidak terjadi secara instan. Dua mahasiswa Program Studi S2 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang, Abdul Hamid Syarif dan Mohammad Isa Wibisono, hadir membawa pendekatan sederhana namun berdampak: mendampingi langsung pelaku usaha dalam memahami cara kerja marketplace dan media sosial secara strategis.
Pemilik Belfit Sport, Ahmad, mengungkapkan bahwa sebelumnya pemasaran digital belum dimanfaatkan secara maksimal. “Dulu kami hanya upload produk sekadarnya. Tidak terlalu memikirkan tampilan atau strategi,” ujarnya. Ia mengakui bahwa media digital saat itu hanya dianggap sebagai pelengkap, bukan sebagai motor utama penjualan.
Padahal, di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat, permintaan terhadap alat kebugaran seperti barbel terus mengalami pertumbuhan. Sayangnya, peluang tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan karena keterbatasan pemahaman dalam pemasaran digital.

Abdul Hamid Syarif. (ist)
Melihat kondisi tersebut, tim mahasiswa memulai pendampingan dari tahap paling dasar: observasi lapangan dan identifikasi masalah. Hasilnya menunjukkan bahwa tantangan utama bukan terletak pada kualitas produk, melainkan pada strategi pemasaran.
Berbagai kendala ditemukan, mulai dari desain visual yang kurang menarik, pengelolaan stok yang belum rapi, hingga keterbatasan dalam membuat konten dan menjalankan iklan digital. Bahkan, fitur iklan di platform seperti TikTok Shop dan marketplace belum dimanfaatkan secara optimal.
Pendampingan kemudian dilakukan secara bertahap. Diawali dengan pembenahan identitas visual melalui pembuatan logo baru, dilanjutkan dengan penataan manajemen stok agar lebih terstruktur. Langkah ini menjadi fondasi penting sebelum masuk ke strategi pemasaran yang lebih agresif.

Mohammad Isa Wibisono. (ist)
Pada tahap berikutnya, fokus diarahkan pada produksi konten. Konten yang sebelumnya dibuat tanpa konsep kini mulai dirancang lebih menarik dan sesuai dengan target pasar. Tim mahasiswa juga memberikan pemahaman bahwa konten bukan sekadar unggahan, melainkan alat komunikasi sekaligus promosi yang efektif.
Selain itu, pemanfaatan iklan berbayar mulai diperkenalkan. Pemilik usaha diajarkan cara mengatur, menjalankan, hingga membaca performa iklan secara sederhana namun aplikatif.
“Saya baru paham ternyata iklan itu tidak sekadar pasang, tapi harus dianalisis juga hasilnya,” tambah Ahmad. Menurutnya, pemahaman ini menjadi titik balik dalam cara ia melihat pemasaran digital.
Tidak hanya fokus pada pemasaran, tim juga turut mendampingi proses pengecekan kualitas produk. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara peningkatan promosi dan kualitas barang yang diterima konsumen.
Program pendampingan yang berlangsung selama delapan minggu ini membawa perubahan signifikan, tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada pola pikir pelaku usaha. Dari yang awalnya pasif, kini menjadi lebih proaktif dalam mengembangkan strategi penjualan.
Pendampingan ini menunjukkan bahwa digitalisasi UMKM bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal edukasi dan keberanian untuk berubah. Ketika strategi mulai terarah dan dijalankan secara konsisten, peluang untuk berkembang pun semakin terbuka.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa peran mahasiswa tidak berhenti di ruang kelas. Dengan pendekatan yang tepat, ilmu yang dipelajari mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM yang sedang berjuang di tengah persaingan pasar digital.
Ke depan, model pendampingan seperti ini dinilai memiliki potensi besar untuk direplikasi, terutama bagi UMKM lain yang menghadapi tantangan serupa. Sebab, di era sekarang, bertahan saja tidak cukup—yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk beradaptasi dan terus berkembang.
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































