Sam HC Jelajahi Dunia Naik Motor, Siap Taklukkan Jalur Konflik - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

HEADLINE · 1 Mei 2026 14:32 WIB ·

Sam HC Jelajahi Dunia Naik Motor, Siap Taklukkan Jalur Konflik


 Sam HC bersama motornya yang akan menemaninya dalam perjalanan panjang ekspedisi melintasi 14 negara. (Rohim Alfarizi) Perbesar

Sam HC bersama motornya yang akan menemaninya dalam perjalanan panjang ekspedisi melintasi 14 negara. (Rohim Alfarizi)

BACAMALANG.COM – Petualang asal Indonesia, Heri Cahyono atau yang akrab disapa Sam HC, kembali bersiap memulai perjalanan panjang lintas negara dengan sepeda motor. Dalam ekspedisi bertajuk “Sam HC Jelajah Dunia: Don’t Tell My Mother”, ia dijadwalkan berangkat pada 2 Mei 2026 untuk menempuh perjalanan melintasi Asia Tenggara, Asia Tengah, hingga Timur Tengah dan perbatasan Eropa.

Dalam ekspedisi kali ini, Sam HC merencanakan perjalanan melintasi 14 negara. Rute awal dimulai dari Indonesia menuju Malaysia, Thailand, Laos, dan China. Perjalanan kemudian berlanjut ke Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Uzbekistan, Iran, hingga Pakistan. Ia juga membuka kemungkinan tambahan jalur menuju Armenia, Azerbaijan, atau Arab Saudi.

“Yang kami tulis rencananya ada 14 negara. Mulai dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Laos, Cina, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Uzbekistan, Iran, kemudian Pakistan. Nah, ini kita bisa jadi ke Armenia, Azerbaijan, atau mengambil jalur ke Saudi, masih belum pasti,” ujar Sam HC.

Bagi Sam HC, melintasi wilayah yang dikenal rawan konflik justru menjadi tantangan tersendiri sekaligus bagian penting dari esensi ekspedisi.

“Daerah konflik itu justru sangat menarik untuk dimasuki,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa perjalanan ini bukan sekadar touring biasa, melainkan sebuah ekspedisi yang membawa misi eksplorasi budaya, sosial, dan kehidupan masyarakat di setiap negara yang disinggahi.

“Jadi kita nggak nyerang langsung ya, lebih ke eksplorasi kultur, sosial, dan lainnya. Karena ini lebih ke ekspedisi, bukan touring,” terangnya.

Sam HC juga mengaku tidak memiliki target khusus untuk bertemu tokoh tertentu selama perjalanan. Fokus utamanya adalah melengkapi catatan perjalanan yang telah dipersiapkan sebagai bagian dari rencana jangka panjangnya.

Di balik ambisi besar tersebut, Sam HC ternyata masih dalam masa pemulihan akibat cedera retak kaki yang dialaminya sekitar dua setengah bulan lalu. Meski kondisi fisiknya belum pulih sepenuhnya, hal itu tak menyurutkan tekadnya untuk tetap berangkat.

“Saya ada masalah kesehatan. Saya habis jatuh dan kaki retak dua bulan setengah yang lalu. Saya belum bisa lari, baru jalan kaki saja. Justru ini penyembuhannya di jalan, belum full 100 persen. Wes bismillah ae,” bebernya.

Sementara untuk kesiapan mental, ia memastikan dirinya telah siap menghadapi berbagai kemungkinan selama perjalanan.

“Kalau mental insyaallah saya sudah siap dan teruji,” tegasnya.

Ekspedisi ini awalnya direncanakan diikuti empat rider. Namun, dua peserta memutuskan mundur sehingga kini hanya tersisa dua orang, termasuk Sam HC dan seorang rekannya asal Semarang.

“Awalnya ada empat rider, tapi dua mengundurkan diri. Tinggal saya dan satu rekan dari Semarang,” jelasnya.

Dari sisi administrasi, seluruh persiapan dokumen lintas negara telah dilakukan secara matang. Sam HC bahkan membawa puluhan salinan dokumen fisik untuk mengantisipasi kebutuhan selama di perjalanan.

“Kita mengopi berkas sampai bawa sekitar 30 bundel fisik supaya nggak perlu fotokopi lagi,” ungkapnya.

Untuk pendanaan, Sam HC memilih tidak terikat kontrak sponsor. Meski demikian, ia tetap membuka peluang dukungan tanpa adanya kewajiban kerja sama yang mengikat.

Perjalanan lintas negara ini diperkirakan berlangsung selama empat hingga enam bulan apabila seluruh rute berjalan lancar. Namun, ia menyadari berbagai hambatan bisa saja muncul, terutama terkait administrasi kendaraan dan situasi di lapangan.

“Normalnya 4 sampai 6 bulan kalau semua lancar. Tapi kita nggak tahu keadaan karena ekspedisi itu penuh tantangan,” katanya.

Ia bahkan telah menyiapkan kemungkinan terburuk apabila menghadapi kendala serius selama perjalanan.

“Terburuknya apa? Motornya harus dibuang,” tandasnya.

Dengan segala persiapan, risiko, dan tantangan yang ada, Sam HC mantap menjalani ekspedisi panjang ini. Baginya, perjalanan tersebut bukan sekadar soal jarak yang ditempuh, tetapi juga tentang menguji batas diri dan merangkai cerita dari berbagai penjuru dunia.

Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Inspiratif, Siswa SMPN 2 Pakisaji Terbitkan 5 Buku Orisinal Hasil Karya Sendiri

3 Mei 2026 - 07:36 WIB

HUT ke-44 KPJ, Anto Baret Soroti “Omong Kosong” Pemimpin dan Tegaskan Solidaritas Persaudaraan

3 Mei 2026 - 01:10 WIB

Kelas Jurnal Ayaskara Antar 25 Mahasiswa Raih Cumlaude dan Publikasi SINTA 4

2 Mei 2026 - 23:11 WIB

Disnaker Probolinggo Fasilitasi Perundingan Tripartit, Kuasa Hukum Pekerja Soroti PHK Sepihak

2 Mei 2026 - 14:33 WIB

Hardiknas 2026, Rektor UMM Tegaskan Kampus Harus Jadi Pusat Solusi dan Inkubator Talenta

2 Mei 2026 - 14:25 WIB

BMKG Rilis Laporan April, 705 Gempa Guncang Jatim

2 Mei 2026 - 10:59 WIB

Trending di HEADLINE

©Hak Cipta Dilindungi !