BACAMALANG.COM — Suasana Amphiteater Critasena Senaputra pada Jumat (8/5/2026) malam terasa berbeda. Bunyi biola yang lirih, denting gitar eksploratif, tubuh-tubuh yang bergerak bebas, hingga suara puisi dan monolog berkelindan menjadi satu ruang rasa dalam performance art bertajuk “Ngleremno Ati” yang digelar Kelompok Bermain Mlebu Metu.
Dalam bahasa Jawa, ngleremno ati berarti menenangkan hati. Melalui pertunjukan ini, kelompok musik yang digawangi Agus Fauzi pada biola eksploratif, Bambang Sukun pada gitar eksplorasi, dan Wak Jo pada vokal serta gitar, mencoba mengajak publik menepi sejenak, meredam kegaduhan hidup lewat pertemuan bunyi, gerak, dan percakapan yang hangat.
Malam itu, Mlebu Metu tidak tampil sendirian. Mereka menggandeng sejumlah seniman dan budayawan Kota Malang dalam sebuah kolaborasi lintas medium seni. Musik berpadu dengan tari, monolog, puisi, seni rupa, hingga video mapping, menciptakan refleksi sosial yang terasa intim sekaligus kontemplatif.
Pertunjukan dibuka oleh Priyo Sunanto Sidhy, dilanjutkan Tari Topeng dan monolog Pengakuan Rahwana oleh Winarto Ekram. Di sisi lain, seniman harpa tradisional Rinding Malang, Bejo Sandy justru tampil eksploratif merespons ruang bunyi yang dibangun Mlebu Metu.

Kelompok Bermain Mlebu Metu bersama sejumlah seniman pendukung dalam performance art bertajuk “Ngleremno Ati” di Amphiteater Critasena Senaputra, Malang, Jumat (8/5/2026). (Nedi Putra AW)
Nuansa semakin berwarna ketika rapper asal Turen, Bonerutzy, hadir membawa sentuhan hip-hop. Ia mencoba “menjawab” lirik-lirik bertutur yang dibawakan Wak Jo tentang kesederhanaan hidup dan perjalanan manusia. Bersama Denny Mizhar, mereka juga membawakan puisi Kepada Yang Pergi dan Tak Kembali, sebuah penghormatan bagi mereka yang telah tiada, termasuk diantaranya mendiang Yongki Irawan dan Azis Franklin.
Di sela pertunjukan, Wak Jo dengan peci dan sarung khasnya membuka ruang dialog bersama audiens menggunakan bahasa Malangan. Ia mengajak penonton berbagi memori tentang Senaputra, tempat yang dulu dikenal sebagai salah satu ruang penting tumbuhnya geliat budaya dan seni di Kota Malang.
“Yang utama sebenarnya bukan sekadar musikalnya, tetapi pertemuan sedulurannya ini. Tidak ada bendera, tidak ada genre, tidak ada seragam. Malang ini perlu ruang untuk ketemu dan jagongan,” ujarnya usai pertunjukan.
Bagi Wak Jo, Kelompok Bermain Mlebu Metu bukan sekadar grup musik, melainkan sebuah gerakan yang telah berjalan sejak 2021. Selama lima tahun terakhir, mereka berkeliling dari kampung ke kampung, kampus, hingga komunitas hanya untuk membuka ruang bertemu dan berdiskusi.
“Kami punya slogan, mari kita diskusi tanpa solusi. Karena solusi belum tentu bisa dipahami semua orang, tapi ruang diskusi itu penting, seperti tadi kita ngobrol tentang masih adakah ruang-ruang yang tersedia di Kota Malang untuk berkesenian,” ungkapnya.

Aksi Wak Jo dalam performance art bertajuk “Ngleremno Ati” di Amphiteater Critasena Senaputra, Malang, Jumat (8/5/2026). (Nedi Putra AW)
Salah satu simbol yang selalu hadir dalam setiap performance mereka adalah konsep ‘nandur urip’. Penonton diberikan bibit tanaman, kali ini mangga dan durian, dengan pesan agar ditanam dan dirawat hingga hidup dan berbuah.
“Menanam itu bukan sekadar nandur, tapi sampai urip. Artinya dirawat, sama seperti merawat persaudaraan,” tandasnya.
Pertunjukan malam itu juga mendapat respons hangat dari berbagai kalangan. Bonerutzy mengaku harus menyesuaikan diri dengan nuansa musik bertutur khas Mlebu Metu yang berbeda dari gaya hip-hop yang biasa ia bawakan.
Sementara kurator seni sekaligus dosen Universitas Islam Malang, Zukhriyan Zakaria, menilai pertunjukan tersebut terasa lengkap karena memadukan berbagai unsur seni dalam satu ruang yang intim.
“Venue-nya juga pas, jadi pertunjukannya terasa penuh,” ujarnya.
Adapun Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang, Djoko Saryono, menilai konsep “Ngleremno Ati” sudah berjalan baik, meski masih memiliki ruang untuk terus dikembangkan.
Di tengah hiruk-pikuk kota dan derasnya kegaduhan sehari-hari, malam itu Mlebu Metu menghadirkan sesuatu yang sederhana: ruang untuk duduk bersama, berbincang, mendengarkan, dan menenangkan hati.
Pewarta/Editor : Nedi Putra AW




















































