Bertemu Arema Kepanjen dan Dokter dari Bandung, Narendra Bangga Diaspora Punya Kepedulian Tinggi kepada Tragedi Kanjuruhan - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 23 Mei 2024 09:12 WIB ·

Bertemu Arema Kepanjen dan Dokter dari Bandung, Narendra Bangga Diaspora Punya Kepedulian Tinggi kepada Tragedi Kanjuruhan


 Berfoto bersama sembari membentangkan poster 135 +, (dari kanan ke kiri), Willy, dr. Jack, Sam Didid, Narendra, Sholeh dan Andez. (IG Narendra) Perbesar

Berfoto bersama sembari membentangkan poster 135 +, (dari kanan ke kiri), Willy, dr. Jack, Sam Didid, Narendra, Sholeh dan Andez. (IG Narendra)

BACAMALANG.COM – Perjalanan pegowes ‘Justice for Kanjuruhan’ Narendra Wicaksono telah membawanya bertemu dengan sejumlah kawan baru. Kawan baru tersebut meliputi Willy, dr. Jack, Didid, Sholeh dan Andez.

Usai ngobrol lewat chat WhatsApp (WA) akhirnya mereka bersepakat untuk bertatap muka bersama di rumah Didid di kawasan Krung Thep Maha Nakhon, Bangkok, Thailand.

“Saya bertemu yang pertama dengan Pak Soleh beliau adalah staff KBRI Bangkok yang kedua adalah dokter Jack berasal dari Bandung seorang dokter sekaligus traveler dan aktivis sosial, selanjutnya adalah Om Willy dan Om Andez beliau adalah pegiat olahraga di Bangkok, dan Sam Didid seorang guru di Sekolah Indonesia Bangkok (SIB) dari Kepanjen Kabupaten Malang, beliau adalah seorang Aremania,” tuturnya kepada BacaMalang.com, Kamis (23/5/2024).

Dirinya langsung mengenalkan tentang misi perjalanan keadilan untuk 135 lebih korban kekerasan mematikan di Stadion Kanjuruhan, dan ia terkejut saat Sam Didid bilang bahwa dua keponakannya turut menjadi korban dalam Tragedi Kanjuruhan.

Sam Didid mengungkapkan, bahwa rekonsiliasi antar keluarga korban harus tercapai terlebih dahulu baru kemudian berupaya untuk menekankan langkah-langkah ke depan dalam memperjuangkan keadilan secara realistis.

Menanggapi adanya Munas Aremania, Didid berharap setidaknya terdapat satu agenda khusus berupa komitmen bersama agar Tragedi Kanjuruhan jangan sampai terulang lagi.

Didid juga berharap, bahwa 1 Oktober sebagai tanggal peristiwa itu harus diperingati secara tahunan.

“Karena Arema bukan sekedar sepakbola, Arema adalah jiwa, dan jiwa itu harus selalu hidup,” tukas Didid.

Narendra menjelaskan, langkah selanjutnya untuk ikut memperjuangkan keadilan Tragedi Kanjuruhan.

Dikatakannya, Willy, Andez dan Sholeh kompak berharap dengan persinggahan dia di Thailand ini mampu mengabarkan tentang pengelolaan sepakbola dan teknis operasional Liga Thailand yang menurut mereka adalah yang terbaik di Asia Tenggara, agar dijadikan contoh bagi suporter di Indonesia untuk pembenahan dari dalam dari segi ketertiban dan attitude saat mendukung klub baik di dalam dan di luar stadion.

dr. Jack yang juga seorang fans Persib Bandung juga memberi pesan bahwa Tragedi Kanjuruhan harus dijadikan pembelajaran karena 1 nyawa saja sudah terlalu banyak.

“Klub dan federasi harus belajar dari bagaimana Liverpool FC memberi perhatian khusus dan pemulihan hak bagi korban tragedi Hillsborough,” kata dr Jack.

Narendra mengungkapkan, harapan terkait obrolan dan tema Tragedi Kanjuruhan bahwa kepedulian diaspora masih sangat besar dalam tragedi ini.

“Saya berharap pertemuan ini sebagai penegas bahwa kepedulian diaspora Indonesia di seluruh penjuru dunia terhadap korban tragedi Kanjuruhan masih sangatlah besar. Bagi saya Arema adalah aset sekaligus bagian dari identitas Bangsa Indonesia,” imbuhnya.

Malam beranjak tiba, mereka yang ngobrol hangat di rumah Didid tak merasakan telah beberapa lama bertukar cerita dibawah rintik hujan.

Suasana semakin gayeng dengan suguhan penganan martabak manis khas Indonesia (kue terang bulan), sembari melepas kepergian dr Jack menuju Kepulauan Solomon untuk bertugas sebagai dokter.

Seperti diketahui, dalam berita sebelumnya, Narendra Wicaksono telah memulai perjalanan bersepeda dari Klaten menuju Makkah, sambil menuntut keadilan bagi korban Tragedi Kanjuruhan. Kini, perjalanannya telah membawanya sampai ke Thailand

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki

Artikel ini telah dibaca 155 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Mediasi Kasus Limbah Biogas Jianto, Kuasa Hukum Pelapor Tegaskan Proses Hukum Tetap Berlanjut

6 November 2026 - 22:02 WIB

Siaga Hadapi Banjir hingga Longsor, Polresta Malang Kota Libatkan 357 Personel Gabungan

6 November 2026 - 21:25 WIB

Jum’at Berkah ke-14, Aremania Jodipaness Pererat Silaturahmi Lintas Komunitas

6 November 2026 - 20:55 WIB

Pascapenyadapan Komunikasi Presiden: Bersih-bersih Institusi Atau Perang Kekuasaan?

6 November 2026 - 20:43 WIB

Kukuhkan Lima Profesor Baru, UB Hadirkan Gagasan Inovatif di Bidang Hukum hingga Perdamaian

6 November 2026 - 20:19 WIB

Buron Curanmor Tajinan Dibekuk di Madura, Motor Korban Diubah Warna dan Nomor Mesin Digerinda

6 November 2026 - 18:48 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !