BACAMALANG.COM – Perjalanan pegowes ‘Justice for Kanjuruhan’ Narendra Wicaksono telah membawanya bertemu dengan sejumlah kawan baru. Kawan baru tersebut meliputi Willy, dr. Jack, Didid, Sholeh dan Andez.
Usai ngobrol lewat chat WhatsApp (WA) akhirnya mereka bersepakat untuk bertatap muka bersama di rumah Didid di kawasan Krung Thep Maha Nakhon, Bangkok, Thailand.
“Saya bertemu yang pertama dengan Pak Soleh beliau adalah staff KBRI Bangkok yang kedua adalah dokter Jack berasal dari Bandung seorang dokter sekaligus traveler dan aktivis sosial, selanjutnya adalah Om Willy dan Om Andez beliau adalah pegiat olahraga di Bangkok, dan Sam Didid seorang guru di Sekolah Indonesia Bangkok (SIB) dari Kepanjen Kabupaten Malang, beliau adalah seorang Aremania,” tuturnya kepada BacaMalang.com, Kamis (23/5/2024).
Dirinya langsung mengenalkan tentang misi perjalanan keadilan untuk 135 lebih korban kekerasan mematikan di Stadion Kanjuruhan, dan ia terkejut saat Sam Didid bilang bahwa dua keponakannya turut menjadi korban dalam Tragedi Kanjuruhan.
Sam Didid mengungkapkan, bahwa rekonsiliasi antar keluarga korban harus tercapai terlebih dahulu baru kemudian berupaya untuk menekankan langkah-langkah ke depan dalam memperjuangkan keadilan secara realistis.
Menanggapi adanya Munas Aremania, Didid berharap setidaknya terdapat satu agenda khusus berupa komitmen bersama agar Tragedi Kanjuruhan jangan sampai terulang lagi.
Didid juga berharap, bahwa 1 Oktober sebagai tanggal peristiwa itu harus diperingati secara tahunan.
“Karena Arema bukan sekedar sepakbola, Arema adalah jiwa, dan jiwa itu harus selalu hidup,” tukas Didid.
Narendra menjelaskan, langkah selanjutnya untuk ikut memperjuangkan keadilan Tragedi Kanjuruhan.
Dikatakannya, Willy, Andez dan Sholeh kompak berharap dengan persinggahan dia di Thailand ini mampu mengabarkan tentang pengelolaan sepakbola dan teknis operasional Liga Thailand yang menurut mereka adalah yang terbaik di Asia Tenggara, agar dijadikan contoh bagi suporter di Indonesia untuk pembenahan dari dalam dari segi ketertiban dan attitude saat mendukung klub baik di dalam dan di luar stadion.
dr. Jack yang juga seorang fans Persib Bandung juga memberi pesan bahwa Tragedi Kanjuruhan harus dijadikan pembelajaran karena 1 nyawa saja sudah terlalu banyak.
“Klub dan federasi harus belajar dari bagaimana Liverpool FC memberi perhatian khusus dan pemulihan hak bagi korban tragedi Hillsborough,” kata dr Jack.
Narendra mengungkapkan, harapan terkait obrolan dan tema Tragedi Kanjuruhan bahwa kepedulian diaspora masih sangat besar dalam tragedi ini.
“Saya berharap pertemuan ini sebagai penegas bahwa kepedulian diaspora Indonesia di seluruh penjuru dunia terhadap korban tragedi Kanjuruhan masih sangatlah besar. Bagi saya Arema adalah aset sekaligus bagian dari identitas Bangsa Indonesia,” imbuhnya.
Malam beranjak tiba, mereka yang ngobrol hangat di rumah Didid tak merasakan telah beberapa lama bertukar cerita dibawah rintik hujan.
Suasana semakin gayeng dengan suguhan penganan martabak manis khas Indonesia (kue terang bulan), sembari melepas kepergian dr Jack menuju Kepulauan Solomon untuk bertugas sebagai dokter.
Seperti diketahui, dalam berita sebelumnya, Narendra Wicaksono telah memulai perjalanan bersepeda dari Klaten menuju Makkah, sambil menuntut keadilan bagi korban Tragedi Kanjuruhan. Kini, perjalanannya telah membawanya sampai ke Thailand
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki



















































