BACAMALANG.COM – Memperingati Hari Konservasi Alam Sedunia yang jatuh pada 29 Juli, organisasi lingkungan Sahabat Alam Indonesia (SALAM) menegaskan kembali komitmennya dan mengajak masyarakat bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati serta memperkuat benteng sosial konservasi di Indonesia.
Menghadapi tantangan krisis iklim global, SALAM menyerukan pentingnya aksi nyata terintegrasi yang menyatukan perlindungan ekosistem darat dan laut dengan kesejahteraan masyarakat.
SALAM menaruh perhatian besar pada perlindungan kelestarian keanekaragaman hayati hutan dan laut yang kian terancam. Di wilayah pesisir, SALAM fokus pada konservasi terumbu karang dan restorasi mangrove yang berfungsi sebagai pelindung alami pantai sekaligus upaya perlindungan biota laut.
Perlindungan ekosistem ini harus berjalan beriringan dengan penanganan serius terhadap masalah sampah darat mulai dari area pemukiman, pasar, dan area wisata yang terbuang dan terbawa di aliran sungai hingga berakhir menjadi sampah laut (marine debris) yang telah mencemari perairan Indonesia dan mengancam rantai makanan.
Ancaman Silent Forest dan Urgensi Pengawasan Senapan Angin serta Jual Beli Satwa di Media Sosial
Di sektor hulu, SALAM menyoroti fenomena mengkhawatirkan yaitu gejala silent forest (hutan sunyi). Banyak hutan di Indonesia yang secara vegetasi tampak utuh, namun kehilangan suara satwa liar akibat masifnya perburuan ilegal dan maraknya aktivitas jual beli satwa dilindungi di media sosial.
Sahabat Alam Indonesia mendesak adanya pengawasan ketat dan penegakan hukum yang tegas terhadap peredaran senapan angin serta pengawasan media sosial oleh masyarakat, yang sering kali disalahgunakan untuk berburu satwa dan jual beli satwa liar tanpa izin dan merusak rantai makanan ekosistem hutan.
Transisi Energi Baru Terbarukan di Level Akar Rumput
Tidak hanya perlindungan spesies, SALAM juga mendorong aksi mitigasi perubahan iklim yang inklusif melalui gerakan hemat energi dan transisi implementasi Energi Baru Terbarukan (EBT) di level akar rumput. SALAM percaya bahwa transisi energi tidak boleh hanya menjadi narasi elite dan seremonial saja melainkan harus menyentuh langsung masyarakat pedesaan dan sekitar kawasan konservasi. Pemanfaatan energi berbasis komunitas seperti mikrohidro, biogas dari limbah domestik, dan panel surya skala rumah tangga menjadi kunci kemandirian energi yang selaras dengan kelestarian alam.
“Konservasi tidak dapat bertahan sendiri di dalam tekanan pembangunan. Alam yang lestari hanya bisa terwujud jika masyarakat di sekitarnya sejahtera dan berdaya. Benteng sosial konservasi seperti penguatan ekonomi, akses pendidikan, dan pemenuhan layanan kesehatan adalah peran nyata kontribusi kita dalam membangun ketahanan masyarakat sekaligus menjadi penguat utama benteng konservasi itu sendiri,” ujar Andik Syaifudin, Pendiri (Founder) Sahabat Alam Indonesia, kepada bacamalang, Rabu (29/7/2026).
Ekonomi Hijau, Ekonomi Biru, dan Agroforestry
Sebagai solusi konkret, SALAM mendorong penerapan prinsip ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi biru (blue economy). Implementasi ini diwujudkan melalui penguatan alternatif mata pencaharian masyarakat lokal, seperti pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), pengembangan jasa lingkungan, peningkatan hasil tangkap nelayan serta pengelolaan ekowisata berbasis komunitas.
Langkah ini terbukti mampu menekan laju deforestasi dan eksploitasi laut tanpa mengorbankan kesejahteraan warga.
Selain itu, SALAM juga mengintegrasikan isu ketahanan pangan melalui praktik agroforestry (wanatani). Sistem ini mengombinasikan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian, seperti kopi, cengkeh, coklat, kelapa, vanili, rimpang, dll, yang tidak hanya memulihkan fungsi lahan kritis tetapi juga menjadi sumber pangan mandiri bagi masyarakat sekitar hutan.
Sinergi Hexahelix
Untuk menyukseskan seluruh agenda besar ini, SALAM konsisten mendorong penerapan sinergi Hexahelix. SALAM percaya bahwa kelestarian lingkungan hanya bisa dicapai melalui kolaborasi erat dan harmonis antara enam pilar utama: Pemerintah, Akademisi, Pelaku Usaha/Swasta, Masyarakat/Komunitas, Media Massa, dan Lembaga Non-Pemerintah (NGO).
“Melalui kolaborasi Hexahelix ini, kita bersama-sama mengurai benang kusut persoalan lingkungan mulai dari hulu hingga ke hilir, termasuk dalam tata kelola sampah laut, penghentian silent forest, hingga mewujudkan kemandirian energi bersih di desa-desa serta penguatan benteng sosial konservasi di bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan,” terangnya.
Ini adalah kerja sinergitas. Berkontribusi untuk kelestarian alam Indonesia serta beradaptasi terhadap krisis iklim global, sesuai dengan tekad dan jargon kami di Sahabat Alam Indonesia: Membangun Peradaban, Melestarikan Masa Depan,” pungkasnya.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































