BACAMALANG.COM – Dua ekor macan tutul Jawa berhasil terekam kamera tangkap atau camera trap yang dipasang di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Penampakan satwa tersebut terlihat dalam sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @bbtnbromotenggersemeru.
Penampakannya dalam video berdurasi 1 menit 32 detik tersebut berupa seekor macan tutul Jawa dewasa yang berjalan di tengah hutan diikuti oleh anaknya atau macan lain yang ukurannya jauh lebih kecil. Video tersebut diambil pada 2024 lalu. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) masih mengidentifikasi jenis kelamin dua macan tutul yang tertangkap kamera itu.
“Tampilan visualnya masih belum bisa banyak membantu tim dari BB TNBTS untuk mengidentifikasi jenis kelaminnya, ” ungkap Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, di depan wartawan di kantor TNBTS, Kamis (23/1/2025).
Rudi menambahkan, pihaknya belum bisa pastikan jenis kelaminnya. Selain itu, keduanya juga belum tentu induk dan anak. “Karena biasanya kalau sudah remaja, kucing dewasa akan memisahkan diri,” tukasnya.
Namun ia menegaskan, bahwa temuan ini menjadi bagian dari penelitian untuk memperkirakan jumlah populasi macan tutul di kawasan TNBTS ada 24 individu. “Angka tersebut masih belum akurat, karena memerlukan survei dan verifikasi ilmiah,” jawabnya.
Rudi menjelaskan, perkiraan sebanyak 24 individu itu dilihat dari kamera yang terpasang di beberapa lokasi berbeda. Ada sebanyak 40 titik di kawasan TNBTS yang dipasang kamera trap sejak 4 bulan terakhir, yang penempatannya berdasarkan survei pendahuluan dengan memperhatikan beberapa tanda-tanda keberadaan macan tutul, seperti jejak, bulu, bekas cakar serta kotorannya.
Dikatakan Rudi, analisis data yang dilakukan memakan waktu panjang karena banyaknya jumlah foto yang dihasilkan. “Kami menggunakan survei terpadu keberadaan macan tutul di lanskap pulau Jawa yang disebut dengan JWLA atau Java Wide Leopard Survey pada 4 bulan terakhir tersebut ” ungkap Rudi.
Meski demikian pihaknya menunjukkan hasil sementara bahwa mayoritas macan tutul yang terekam merupakan macan kumbang atau macan tutul melanistik, yaitu macan tutul dengan pigmen hitam dominan pada bulunya, sebuah kondisi yang terjadi akibat isolasi populasi dalam jangka waktu lama.
Rudi mengatakan, populasi macan tutul tersebut saat ini masih di bawah sejumlah ancaman terhadap kelangsungan hidup satwa dilindungi itu.
“Salah satunya adalah perburuan liar dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Petugas kami tetap mengadakan patroli, tapi para pemburu ini memang sudah paham kondisi hutan yang ada, sehingga pergerakannya sulit dideteksi,” ungkapnya.

Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha. (Nedi Putra AW)
Rudi kembali menegaskan bahwa pihaknya masih belum bisa merilis angka pasti populasi macan tutul Jawa di kawasan TNBTS. Oleh karena itu, imbuhnya sebagai satwa yang dilindungi, dan predator puncak, upaya meningkatkan populasinya tidak bisa dengan indikator angka, setidaknya dengan perlakuan yang lebih alami.
“Beberapa persyaratan macan tetap berpotensi hidup antara lain, selama makanannya masih tersedia ada, yakni primata kecil kancil, dan lainnya, habitat yang terkendali, serta kawasan yang terlindungi,” paparnya.
Rudi memberi rekomendasi, bahwa ketika habitat satwa terjaga, maka proses alami berjalan dengan baik. Selain itu, macan tutul cenderung menghindari manusia, sehingga risiko konflik dengan warga relatif kecil.
“Indikatornya, selama hutannya masih ada maka proses ekologisnya tidak terganggu,” tandasnya.
Camera trap atau kamera tangkap ini adalah upaya monitoring BB TNBTS terhadap satwa liar di lingkungan Gunung Bromo, Tengger, dan Semeru sejak 2013, berkolaborasi dengan Yayasan SINTAS Indonesia.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga


























































