Peringatan HUT ke-75 ini menjadi semakin istimewa karena diwarnai dengan berbagai kegiatan yang menggembirakan dan edukatif, salah satunya adalah pagelaran drama musikal “The Chronicle Waltz of Panderman”.
Gelaran ini merupakan sebuah karya seni yang tak hanya mempesona secara estetika, tetapi juga menyiratkan pesan moral dan nilai-nilai budaya lokal. “Melalui drama musikal ini, para siswa dapat belajar tentang kerja sama, disiplin, keberanian tampil, dan apresiasi terhadap budaya daerah,” ungkapnya.
Orang nomor satu di jajaran Pemkot Malang itu pun merasa bangga, karena kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan di SD Katolik Santa Maria II tidak hanya berfokus pada pelajaran di kelas, tetapi juga memberi ruang bagi anak-anak untuk mengasah kreativitas, rasa seni, dan kepekaan terhadap kehidupan di sekitarnya.
“Inilah bentuk pendidikan yang utuh, bukan hanya mencerdaskan pikiran, tapi juga menumbuhkan empati, rasa percaya diri, dan kemampuan untuk berkolaborasi. Dari panggung seperti ini, kelak bisa lahir generasi muda yang berani bermimpi besar, dan berprestasi di berbagai bidang, baik akademik, seni, olahraga, maupun kepemimpinan,” imbuh Wahyu.
Pria yang kerap disapa Pak Mbois itu menuturkan bahwa inilah esensi pendidikan yang sejati, yakni memberikan ruang bagi setiap anak untuk tumbuh sesuai bakat dan minatnya, serta menyiapkan mereka menjadi manusia seutuhnya cerdas dalam pikiran, bersih dalam hati, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Teruslah menjadi pelita yang menerangi jalan generasi muda, dan semoga seluruh rangkaian kegiatan termasuk drama musikal dan pertunjukan bakat siswa-siswi berjalan dengan sukses, lancar, serta membawa kebahagiaan bagi kita semua,” pungkas Wahyu. (say/yn)





















































