BACAMALANG.COM – Taman Rekreasi Sengkaling merupakan ikon wisata yang sempat berjaya dan legendaris sejak jaman Belanda di Malang Raya. Berbagai sumber menyebutkan, Taman Rekreasi Sengkaling ini pertama kali didirikan oleh seorang berkewarganegaraan Belanda, yaitu Mr. Coolman pada tahun 1950. Kemudian pengelolaannya diambil alih oleh PT. Taman Bentoel, salah satu anak perusahaan Bentoel Group yang bergerak di bidang jasa pariwisata pada tahun 1975, hingga akhirnya diakusisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tahun 2015 dan berubah nama menjadi Taman Rekreasi Sengkaling UMM.
Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. menuturkan, pihaknya terus berupaya keras untuk memulihkan kejayaan Sengkaling sebagai taman rekreasi legendaris.
“Ada idealisme dibalik penyerahan atau akuisisi tersebut, sehingga pengelolaannya tidak murni komersial,” ungkapnya didampingi Rektor UMM Prof Nazarudin usai meresmikan wahana immersive dan interactive Zombiefort: The Last Scientist yang berlokasi di kawasan taman rekreasi tersebut, Sabtu (29/3/2025).
Muhadjir menegaskan bahwa idealisme itu menjadi pegangan bagi UMM untuk tidak menaikkan kelasnya untuk segeman menengah ke atas, sehingga masih menjaga sisi sosialnya. “Bukan tidak bisa, tapi memang kami tidak mau begitu. Kami mengutamakan aspek edukasi serta tetap memelihara aspek-aspek alaminya, seperti sumber mata air yang melimpah, pohon-pohon, serta tentunya perluasan lahan untuk wahana agar masih dapat dinikmati generasi muda maupun para orang tua yang ingin kembali bernostalgia di sini,” terangnya.
Diutarakan Muhadjir, Sengkaling adalah tempat wisata yang masih mengusung konsep piknik dalam arti sesungguhnya. Sejak dahulu, selain menikmati sejumlah permainan, para pengunjung diperbolehkan membawa bekal makanan dan minuman untuk dinikmati sambil menggelar alas atau tikar bersama keluarga. Oleh karena itu, penasihat khusus presiden bidang urusan haji ini sangat mengapresiasi kehadiran Zombiefort, karena dengan kondisi Malang yang dinamis di bidang kuliner dan entertainment, wahana hiburan harus bisa beradaptasi.
Ia menilai wahana digital yang setiap 3 bulan berganti tema ini sangat bagus konsepnya, sehingga diharapkan bisa menjadi entry point untuk ‘scientific entertainment’. “Konsepnya bagus, karena tidak murni AI, masih ada permainan game yang sifatnya fisik, sehingga anak tidak sampai terasing dengan dunia nyata,” tukasnya.

Taman Rekreasi Sengkaling merupakan salah satu wahana wisata yang masih mengusung konsep piknik bersama keluarga. (Nedi Putra AW)
Muhadjir menyebutkan, sejak UMM mengakuisisi dengan nilai sedikitnya Rp. 70 milliar, Taman Rekreasi Sengkaling selalu diupayakan untuk terus berbenah baik dari fasilitas pendukung maupun upgrade kemampuan SDM nya. Mantan Rektor UMM ini juga berharap kehadiran wahana digital ini mampu menarik pengunjung, khususnya anak-anak untuk berpetualang di dunia virtual.
Rektor UMM Prof Nazarudin menambahkan, bahwa kehadiran Zombifort ini juga menjadi sarana pengembangan talent digital dari UMM . “Wahana ini juga menjadi salah satu Center of Excellence (CoE) UMM yang bekerjasama dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari untuk menciptakan ekosistem wisata pendidikan,” pungkas rektor.
Zombiefort merupakan hasil kolaborasi antara berbagai kreator dari dunia kreatif mulai dari penulis skenario, desainer game, 3D visual, hingga spesialis efek visual dan audio, yang semuanya adalah karya orisinal anak bangsa
Chief Executive Officer di Teka Teki World Suparno menyampaikan, bahwa Teka Teki World hadir dengan pendekatan immersive yang menggabungkan elemen escape room, role playing, dan live action, serta menawarkan pengalaman baru yang belum pernah ada di Indonesia.
“Wahana ini untuk menyajikan hiburan yang tidak hanya seru, tapi juga mendorong kreativitas dan interaksi antar pemain. Zombiefort adalah langkah awal kami dalam menghadirkan pengalaman bermain yang lebih mendalam dan berkualitas, sekaligus menunjukkan bahwa kreator lokal memiliki potensi besar di industri hiburan interaktif,” tandasnya.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga





















































