Ironi Arema FC, Memaafkan Bonek dan Suporter Lain, Memenjarakan Aremania - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 14 Jun 2023 10:45 WIB ·

Ironi Arema FC, Memaafkan Bonek dan Suporter Lain, Memenjarakan Aremania


 Arema FC (aremafc.com) Perbesar

Arema FC (aremafc.com)

Oleh: Andreas Lucky Lukwira

Arema FC, entah bagaimana sejarahnya, memanfaatkan sekali antusiasme dan fanatisme Aremania, yang sudah sejak lama ada di Malang. Saya ga akan bahas banyak sejarah sampai Arema FC menjadi idola di Kota Malang, yang jelas hal ini menunjukkan ketulusan (dan kepolosan?) Aremania dalam mendukung semua tim yang menjual nama “Arema”. Peduli setan dari mana asalnya, bahkan peduli setan siapa pengurusnya, sepanjang membawa nama Arema akan didukung.

Namun ketulusan tersebut berbanding terbalik dengan perlakuan Arema FC ke suporternya, setidaknya soal sebuah tindak pidana: perusakan.

Saya ga akan membahas mendalam soal perjuangan Aremania menuntut proses hukum perkara Kanjuruhan digelar secara serius yang seakan tidak mendapat dukungan tim, kalau ga mau dibilang berjuang sendiri. Suatu ironi mengingat hampir dimanapun Arema FC berlaga, Aremania selalu
hadir, kecuali tentunya di partai yang secara keamanan tidak memungkinkan Aremania hadir.

Saya akan fokus ke soal perkara perusakan kantor Arema FC alias Kandang Singa dimana 8 Aremania dijadikan tersangka atas kejadian tersebut. Arema FC ngotot mampus agar ke BB 8 Aremania tersebut terus diproses. Bahkan ketika seorang Aremania lain yang menjadi korban luka pada peristiwa tersebut, Amin Tatto, menyatakan memaafkan ke 8 saudaranya tersebut, Arema FC tak bergeming. Perkara perusakan kantor Arema FC harus jalan. Mereka tidak sudi untuk mencabut laporan dan menyelesaikan perkara secara kekeluargaan. Meskipun sebenarnya polisi membuka ruang untuk mediasi dan penyelesaian perkara melalui Restoratif Justice.

Hal berbeda mereka lakukan ketika terjadi pelemparan bis Arema FC di batas kota Sleman-Yogyakarta tahun 2021. Pelaku yang tertangkap, dan kemudian diketahui sebagai pendukung Persebaya, dimaafkan oleh Arema FC. Media Officer Arema FC dan Persebaya membuat video bersama pelaku yang pada intinya Arema FC memaafkan perusakan ini dan tidak meneruskan ke proses hukum, sedangkan Persebaya berjanji akan membina suporternya tersebut. Video tersebut, dan juga sikap tersebut, sangat membanggakan bagi saya sebagai Aremania. Ketika klub yang saya banggakan secara jantan memaafkan suporter rival yang merusak bisnya. Langkah ini sebenarnya bisa membuka pintu rekonsiliasi kedua kelompok suporter dari sub etnis yang sama, Arek.

Sikap serupa diambil Arema FC ketika pasca kejadian Kanjuruhan bisnya dirusak di beberapa kota. Pada kejadian di Sleman bahkan asisten pelatih, Kuncoro, dan beberapa pemain terluka akibat serangan tersebut. Untuk kejadian seperti ini pun Arema FC memaafkan dan tidak membawa ke jalur hukum.

Berbeda ketika kejadian perusakan kantor Arema FC dimana petinggi Arema FC melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Malang yang berujung pentersangkaan 8 orang Aremania. Upaya mediasi kepolisian hingga pemaafan dari korban seakan tidak menggerakkan hati petinggi Arema FC untuk mencabut laporan.

Sebuah ironi dari sebuah klub terhadap pendukungnya. Rasa cinta yang tulus, keringat, darah, bahkan jiwa tidak diimbangi. Bahkan untuk sebuah kerusuhan yang tidak memakan korban luka di pihak Arema FC pun mereka tega memenjarakan 8 pendukungnya, sebuah ironi dengan peristiwa Sleman dimana punggawa tim menjadi korban tapi tidak dilaporkan Arema FC.

Dengan ironi ini, apakah masih mau mendukung Arema FC? Kalau saya tidak!

Kanjuruhan belum tuntas!!

*) Penulis Andreas Lucky Lukwira adalah Kriminolog, pernah meneliti suporter, pegiat transportasi

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan bukan bagian dari BacaMalang.com

Artikel ini telah dibaca 293 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

“Pokoknya Ada” dan Ilusi Partisipasi Anggaran

24 April 2026 - 11:08 WIB

Melukis Malang dalam Busana

21 April 2026 - 18:27 WIB

Refleksi Hari Kartini: Perempuan dan Pendidikan, Warisan Kartini di Era Modern

21 April 2026 - 15:29 WIB

Etika Politik yang Makin Tidak Elok

17 April 2026 - 15:54 WIB

Permisif terhadap Perubahan yang Merusak

23 Maret 2026 - 12:00 WIB

Alun-Alun Kepanjen, Ujian Administrasi Sekda, dan Pertanyaan Sunyi tentang Bank Jatim Sebagai Bank Persepsi

24 Februari 2026 - 17:01 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !