Ironi Arema FC, Memaafkan Bonek dan Suporter Lain, Memenjarakan Aremania

Arema FC (aremafc.com)

Oleh: Andreas Lucky Lukwira

Arema FC, entah bagaimana sejarahnya, memanfaatkan sekali antusiasme dan fanatisme Aremania, yang sudah sejak lama ada di Malang. Saya ga akan bahas banyak sejarah sampai Arema FC menjadi idola di Kota Malang, yang jelas hal ini menunjukkan ketulusan (dan kepolosan?) Aremania dalam mendukung semua tim yang menjual nama “Arema”. Peduli setan dari mana asalnya, bahkan peduli setan siapa pengurusnya, sepanjang membawa nama Arema akan didukung.

Namun ketulusan tersebut berbanding terbalik dengan perlakuan Arema FC ke suporternya, setidaknya soal sebuah tindak pidana: perusakan.

Saya ga akan membahas mendalam soal perjuangan Aremania menuntut proses hukum perkara Kanjuruhan digelar secara serius yang seakan tidak mendapat dukungan tim, kalau ga mau dibilang berjuang sendiri. Suatu ironi mengingat hampir dimanapun Arema FC berlaga, Aremania selalu
hadir, kecuali tentunya di partai yang secara keamanan tidak memungkinkan Aremania hadir.

Saya akan fokus ke soal perkara perusakan kantor Arema FC alias Kandang Singa dimana 8 Aremania dijadikan tersangka atas kejadian tersebut. Arema FC ngotot mampus agar ke BB 8 Aremania tersebut terus diproses. Bahkan ketika seorang Aremania lain yang menjadi korban luka pada peristiwa tersebut, Amin Tatto, menyatakan memaafkan ke 8 saudaranya tersebut, Arema FC tak bergeming. Perkara perusakan kantor Arema FC harus jalan. Mereka tidak sudi untuk mencabut laporan dan menyelesaikan perkara secara kekeluargaan. Meskipun sebenarnya polisi membuka ruang untuk mediasi dan penyelesaian perkara melalui Restoratif Justice.

Hal berbeda mereka lakukan ketika terjadi pelemparan bis Arema FC di batas kota Sleman-Yogyakarta tahun 2021. Pelaku yang tertangkap, dan kemudian diketahui sebagai pendukung Persebaya, dimaafkan oleh Arema FC. Media Officer Arema FC dan Persebaya membuat video bersama pelaku yang pada intinya Arema FC memaafkan perusakan ini dan tidak meneruskan ke proses hukum, sedangkan Persebaya berjanji akan membina suporternya tersebut. Video tersebut, dan juga sikap tersebut, sangat membanggakan bagi saya sebagai Aremania. Ketika klub yang saya banggakan secara jantan memaafkan suporter rival yang merusak bisnya. Langkah ini sebenarnya bisa membuka pintu rekonsiliasi kedua kelompok suporter dari sub etnis yang sama, Arek.

Sikap serupa diambil Arema FC ketika pasca kejadian Kanjuruhan bisnya dirusak di beberapa kota. Pada kejadian di Sleman bahkan asisten pelatih, Kuncoro, dan beberapa pemain terluka akibat serangan tersebut. Untuk kejadian seperti ini pun Arema FC memaafkan dan tidak membawa ke jalur hukum.

Berbeda ketika kejadian perusakan kantor Arema FC dimana petinggi Arema FC melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Malang yang berujung pentersangkaan 8 orang Aremania. Upaya mediasi kepolisian hingga pemaafan dari korban seakan tidak menggerakkan hati petinggi Arema FC untuk mencabut laporan.

Sebuah ironi dari sebuah klub terhadap pendukungnya. Rasa cinta yang tulus, keringat, darah, bahkan jiwa tidak diimbangi. Bahkan untuk sebuah kerusuhan yang tidak memakan korban luka di pihak Arema FC pun mereka tega memenjarakan 8 pendukungnya, sebuah ironi dengan peristiwa Sleman dimana punggawa tim menjadi korban tapi tidak dilaporkan Arema FC.

Dengan ironi ini, apakah masih mau mendukung Arema FC? Kalau saya tidak!

Kanjuruhan belum tuntas!!

*) Penulis Andreas Lucky Lukwira adalah Kriminolog, pernah meneliti suporter, pegiat transportasi

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan bukan bagian dari BacaMalang.com