BACAMALANG.COM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan santri Indonesia di ajang internasional. Tim santri tingkat SMP dari Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang sukses meraih medali perak pada Bali International Science Fair (BISF) 2026 melalui inovasi panel peredam suara ramah lingkungan bernama Ecouiet.
Tim yang terdiri dari Ahmad Adila Al Ghifari, Abyan Agha Al Ghifari, Faizul Umam, Farrand Al Azka, Haidar Abimanyu Tuarita, dan Muhammad Mahir berhasil memukau dewan juri dengan mengubah limbah organik berupa ampas tebu, sabut kelapa, dan kertas bekas menjadi panel penyerap suara yang efektif. Kompetisi yang diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA) tersebut diikuti delegasi pelajar dari Amerika Serikat, negara-negara Asia Tenggara, Kazakhstan, hingga Uzbekistan.
Haidar Abimanyu Tuarita menjelaskan, panel Ecouiet memiliki ketebalan sekitar 2,5 sentimeter dengan tekstur padat menyerupai semen. Untuk meningkatkan kemampuan menyerap suara, tim menambahkan campuran arang hitam dalam proses pembuatannya.
“Campuran arang hitam membuat struktur panel lebih padat sehingga mampu menyerap suara dengan lebih baik,” ujar siswa kelas VIII yang akrab disapa Abi, Kamis (25/6/2026).
Untuk membuktikan efektivitasnya, tim melakukan pengujian menggunakan kotak kardus yang dilapisi panel Ecouiet. Musik diputar dengan volume tinggi dari dalam kotak, kemudian tingkat kebisingannya diukur menggunakan aplikasi decibel meter pada telepon pintar.
“Kami menggunakan aplikasi decibel meter yang bisa diunduh di Play Store untuk mengukur seberapa besar suara yang berhasil diredam,” jelas Abi.
Di balik keberhasilan tersebut, proses pengembangan Ecouiet tidak berjalan mudah. Selama sekitar empat pekan, para santri harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan riset, menentukan komposisi bahan, hingga menghasilkan panel dengan tekstur yang kuat dan efektif.
Muhammad Mahir mengaku tantangan terbesar adalah menemukan komposisi bahan yang tepat agar seluruh material dapat menyatu dengan sempurna.
“Waktunya cukup singkat, sehingga kami harus bekerja lebih cepat. Bagian paling sulit adalah mendapatkan tekstur panel yang sesuai agar hasilnya maksimal,” katanya.
Pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR) PPI AMF, Nabila Almayda, mengungkapkan rasa bangga atas pencapaian para santri. Menurutnya, prestasi tersebut membuktikan bahwa kreativitas dan inovasi dapat lahir dari tangan generasi muda ketika didukung semangat belajar dan kerja keras.
“Semoga santri-santri PPI AMF terus melahirkan inovasi yang bermanfaat dan mampu mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional,” tuturnya.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa limbah organik dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi sekaligus ramah lingkungan. Ke depan, Ecouiet diharapkan dapat dikembangkan melalui riset lanjutan sehingga berpeluang diproduksi secara massal sebagai solusi untuk mengurangi kebisingan di ruang kelas maupun berbagai fasilitas umum.
Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































