Oleh : M. Dwi Cahyono
A. Sang Saka Merah Putih di Medan Juang
Berkibarlah bendera negeriku
Berkibarlah engkau di dadaku
Tunjukkanlah kepada dunia
Semangatmu yang panas mambara
........(Bait pertama lirik lagu “Berkubaroah Bendera Negeriku”, ciptaan : Gombloh)
Ketika perang mempertahankan kemerdekaan RI (1945-1948 Masehi), Sang Merah Putih kedapatan berkibar di Medan laga, dibawa oleh para pejuang warga bangsa Indonesia. Pada konteks pertempur- an tersebut, Bendera Merah Putih menjadi “bendera perang”. Gambaran yang demikian acap didapati film-film perjuangan, lukisan perang kemerdekaan ataupun foto dan film dokumenter tentang hal itu. Berkait dengan bendera perang di Indonesia, muncul pertanyaan : bilamana bendera perang mulai dikenal dalam sejarah Nusantara? Untuk menjawab pertanyaan itu, berikut penulis hadirkan sebuah panil relief yang menggambarkan mengenai bendera perang.
B. Relief Bendera Perang di Candi Penataran
Relief cerita “Ramayana” pada teras I Candi Induk Penataran (nama arkais “Papah”) banyak memberi gambaran tentang adegan peperangan. Mulai dari persiapan perang, keberangkatan ke medan laga, jalannya pertempuran, hingga akibat perang. Pada adegan keberangkatan perang, baik di pihak pasukan raksasa dari Alengka pimpinan Rahwana atau- pun di pihak pasukan kera pimpinan Hanuman yang membatu Rama, terlihatlah adanya kibaran bendera (panji atau pataka), yang pada konteks ini tentu saja adalah “bendera perang (war flag)”. Gambaran yang demikian didapati pada medan tempur di berbagai tempat di dunia dan pada berbagai lapis masa.
Pada foto terlampir tergambar seorang prajurit raksasa yang tengah berlari sambil membawa bendera mengikuti serang raksasa lainnya yang juga berlari dengan bersenjatakan ganda (danda). Jelas bahwa konteks peristiwanya adalah keberangkatan perang, atau malahan proses pertempuran. Bendera tersebut berbangun empat persegi panjang, dengan sisi panjang vertikal. Ada juga bendera-bendera perang berbangun persegi panjang, dengan sisi panjangnya horisontal, seperti pada relief di pendapa teras kiri Candi Sukuh. Pada sandaran sisi belakang arca di Candi Kotes (Papoh) juga ada gambaran bendera dengan sisi panjang horisontal, yang diprakirakan menggambarkan dewa Kartikeya (Skanda, kakak Ganesya) sebagai pimpinan tentara dewa Siwa (diistilahi “Makhluk Gama”).
Bendera perang itu diikatkan kuat pada tongkat panjang berujungian mata tombak. Tergambar bahwa tiang/tongkat bendera itu di dalam kondisi tertentu difungsikan sebagai tombak. Meski samar lantaran relief aus, tergambar bahwa lembar kain bendera itu diperlengkapi dengan gambar tertentu, yang sangat mungkin adalah tanda identitas satuan ketentaraan bersangkutan. Hal ini dapat dibandingkan dengan relief pada pendapa teras kiri di depan candi induk Sukuh, yang menggambarkan seorang prajurit berlari dengan membawa bendera yang lembar kainnya bergambar manusia kera yang menyerupai tokoh Hanoman.
Selain itu, yang menarik pula untuk dicermati pada relief bendera pada candi induk Penataran itu adalah adanya rumbai renda pada sisi bawah kain bendera, yang menyerupai pataka di masa sekarang. Tentu bendera ini bukan bendera biasa, melainkan bendera kebesaran untuk satuan ketentaraan bersangkutan, yang turut dibawa ke medan laga. Bendera itu tidak seperti “umbul-umbul” yang berbangun memanjang vertikal, seperti didapati pada relief cerita di batur candi Jawi sebagai bendera tancap, bukan bendera yang dibawa bergerak (mobile).
C. Bendera Perang dalam Kesejarahan Jawa
Relief Ramayana pada candi Induk Penataran dibuat pada Masa Keemasan Majapahit. Oleh karena itu bendera yang hadir di relief ini memberi gambaran mengenai bendera era Majapahit. Bukanlah berarti bahwa bendera perang baru ada di era Majapahit. Pada masa sebelumnya, jika menilik adanya para ksatria yang menyandang unsur nama “panji”, bisa jadi bendera perang pada kesejarahan Jawa telah dikenal paling tindak di era kerajaan Kadiri-Jenggala pada medio abad XI sampai perempat pertama abad XIII Masehi.
Semoga tulisan yang meski ringkas dan bersahaja ini bisa menambah khasanah pengetahuan para pembaca Budiman tentang “sejarah bendera”, dan khususnya mengenai “bendera perang”. Terima kasih atas pehatiannya. Nuwun.
Sangkaling, 18 Agustus 2022
Griyajar CITRALEKHA
*) M. Dwi Cahyono Arkeolog dan Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang.
*) Isi tulisan menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis.






















































