BACAMALANG.COM – Kawasan Kayutangan, yang kini dikenal sebagai Kayutangan Heritage di Kota Malang, menyimpan banyak kisah di balik bangunan bersejarah dan kekayaan kulinernya. Salah satunya adalah legenda seorang pria yang akrab disapa Mbah Arifin atau Mbah Gombloh. Ia dikenal sebagai sosok yang setia duduk di tempat yang sama, di salah satu etalase kawasan Kayutangan, demi menanti sang kekasih yang tak kunjung datang.
Versi lain menyebutkan bahwa Mbah Arifin terpisah dari istrinya akibat pergolakan politik. Kisah tersebut ramai diberitakan berbagai media dan semakin viral setelah diangkat oleh Aan Mansyur melalui akun Instagram pribadinya pada tahun 2016, setahun sebelum sang legenda wafat akibat kecelakaan lalu lintas. Aan bahkan sempat berbincang langsung dengan Mbah Arifin, yang kala itu mengaku tinggal di Ngantang serta menyebut nama Soeharto dan sebuah peristiwa tertentu.
Legenda Mbah Gombloh inilah yang mengusik rasa ingin tahu Aji Prasetyo, seorang komikus, untuk menelusuri kebenaran di balik kisah tersebut. Hasil penelusurannya kemudian dirangkum dalam buku berjudul Menggores Sudut Pandang – Rangkaian Kisah dalam Komik yang terdiri dari Buku 1 dan Buku 2. Kisah Mbah Arifin dalam Buku 1 dibedah Aji dalam sebuah diskusi di Sugaros Soulcoffee, Jalan Watugong, Ketawanggede, Kota Malang, Minggu (11/1/2026) malam.
“Awalnya saya hanya menebak-nebak apakah ini berkaitan dengan peristiwa PKI 1965, karena banyak media online maupun media sosial memuat kisah dengan narasi yang hampir sama,” ungkap Aji.
Dari situlah naluri jurnalistik investigatifnya muncul. Komikus yang pernah diundang ke Frankfurt Book Fair tahun 2015 ini mulai menemui orang-orang yang pernah berinteraksi langsung dengan Mbah Gombloh. Ia menemukan fakta baru bahwa Mbah Gombloh bukan korban tabrak lari, melainkan tertabrak sepeda motor matik yang dikendarai seorang perempuan, hingga keduanya sama-sama pingsan.
Setelah ditolong warga, Mbah Arifin menolak dibawa ke rumah sakit meski kondisinya cukup parah. Ia bahkan sempat terlihat tidur terlentang di emperan Kayutangan. Kondisi ini mendorong Ika Suminarsih, karyawati BNI Kanwil Malang, bersama Any Farida untuk berinisiatif menolong. Berkat bantuan Aiptu Tatang Endy yang tengah bertugas, Mbah Arifin akhirnya dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans, meski beberapa hari kemudian ia meninggal dunia.
“Saya mendapat informasi lain dari Pak Zaenal, warga setempat sekaligus salah satu sumber pertama saya, bahwa Mbah Arifin ternyata sering dijenguk keluarganya, mulai dari adik, keponakan, hingga istrinya. Ini membuat saya terkejut, karena berarti ia sudah menikah. Lalu bagaimana dengan kisah menunggu kekasih yang selama ini beredar?” ujar Aji.
Temuan tersebut sempat membuat Aji berada dalam dilema, antara melanjutkan kisah ini dalam komik atau menghentikannya. Setelah berdiskusi dengan Agus Endra, Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Malang, Aji memutuskan tetap melanjutkan penulisan.
“Apalagi saya juga dekat dengan Prof. Peter Carey, sejarawan Inggris pakar sejarah Diponegoro, yang berpesan agar tetap mencari kebenaran meski itu tidak selalu menyenangkan,” tegasnya.
Aji kemudian memperoleh banyak informasi bahwa Mbah Arifin, yang dikenal pendiam, justru banyak bercerita kepada Zaenal. Ia berasal dari keluarga Tionghoa berada dan pernah memiliki pabrik terasi di Sidoarjo yang dikelola bersama istrinya. Namun, kebakaran pada awal 1980-an meludeskan usahanya.
“Sejak itu Mbah Arifin mengalami depresi dan gangguan kejiwaan, lalu pergi dari rumah tanpa pesan. Keluarganya sempat menemukan beliau di Pasuruan dan dirawat oleh istrinya, tetapi beberapa bulan kemudian kembali menghilang,” ungkap penulis buku Hidup Itu Indah tersebut.
Perjalanan Mbah Arifin kemudian berlanjut ke Malang. Ia kerap terlihat di kawasan alun-alun dan sekitar agen undian berhadiah porkas yang legal serta marak pada masa itu. Hal inilah yang memunculkan anggapan bahwa ia adalah pengusaha yang kalah judi, padahal sebenarnya hanya berjualan kertas prediksi nomor.
Julukan Gombloh melekat dari panggilan para pelanggannya. Hingga akhirnya ia menetap di sebuah toko perlengkapan bayi yang sudah tutup di Jalan Basuki Rahmad alias Kayutangan, yang kemudian menjadikannya legenda. Sang istri sempat berhasil menemukannya, namun Mbah Arifin menolak pulang.
“Istrinya akhirnya menyerah, tetapi meminta agar Mbah Arifin tetap di Kayutangan supaya mudah dicari, dan ia pun rutin menemuinya,” tambah Aji.
Melalui bukunya, Aji merasa perlu meluruskan hoaks tentang Mbah Arifin yang berkembang selama satu dekade terakhir. “Ini bukan soal siapa yang paling benar, tetapi inilah versi Mbah Arifin menurut saya. Bukan kisah penantian yang tak pasti, melainkan tentang cinta sejati seorang istri,” tandasnya.
Kisah ini bahkan menarik perhatian grup musik Coldiac yang mengajak Aji berkolaborasi dan mengangkatnya dalam video klip lagu berjudul Mendekat Menjauh.

Komikus Aji Prasetyo bersama Any Farida dan Muhammad Nasai usai diskusi buku bertajuk “Menggores Sudut Pandang – Rangkaian Kisah dalam Komik” di Sugaros Soulcoffee, di Jalan Watugong, Ketawanggede, Kota Malang, Minggu (11/1/2026) malam. (Nedi Putra AW)
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Any Farida, Lutvi Dianshori-pelukis mural Mbah Arifin-, serta pemerhati sejarah dan pariwisata Agung H. Buana. Agung yang saat itu berada di bawah Dinas Pariwisata Kota Malang menyebutkan bahwa kisah-kisah Mbah Arifin yang berkembang sebagai urban legend dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata kawasan Kayutangan.
“Namun dengan adanya temuan kisah terbaru ini, tentu akan kami informasikan kepada para pemandu lokal untuk meluruskan hoaks yang ada,” ujar ASN yang kini menjabat sebagai Lurah Ketawanggede tersebut.
Diskusi juga membahas kisah Mbah Djait, seorang serdadu pada masa pemberantasan PKI di Malang, dengan menghadirkan Muhammad Nasai, fotografer yang pernah menggelar pameran tentang keseharian korban peristiwa 1965 di Malang. Kisah ini menginspirasi Aji untuk menuangkannya dalam komik berjudul Kisah Tragis Para Serdadu.
“Intinya, sebuah kota atau tempat akan jauh lebih menarik jika kita mengangkat sisi manusianya,” pungkas Aji.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































