BACAMALANG.COM – Kota Malang memiliki seorang tokoh sastrawan perempuan yang dikenal luas, Ratna Indraswari Ibrahim. Ia adalah seorang feminis, penulis cerpen dan novel yang karyanya banyak mengangkat isu perempuan dan kejiwaan. Lahir pada 24 April 1949 sebagai anak kelima dari sepuluh bersaudara dalam keluarga Minang perantauan, Ratna tinggal di Jalan Diponegoro No. 3, Klojen, Kota Malang. Rumahnya menjadi tempat berkumpul para seniman dan budayawan hingga ia wafat pada 28 Maret 2011.
Meski telah tiada, rumah tersebut dihidupkan kembali dengan nama Rumah Budaya Ratna (RBR) pada Sabtu, 24 Agustus 2024. Tepat setahun setelah peluncurannya, RBR merayakan ulang tahun pertamanya melalui acara bertajuk Lembar Pertama Rumah Budaya Ratna. Acara ini bukan sekadar perayaan, melainkan ruang bersama untuk menikmati literasi, budaya, dan kreativitas. Kegiatan yang digelar meliputi Bedah Buku Lemah Tanjung karya Ratna Indraswari Ibrahim, pertunjukan musik, sesi Open Mic untuk puisi, musik, dan cerita, serta Booth Komunitas & Budaya.
Benny Ibrahim, adik bungsu Ratna sekaligus pengelola RBR, mengungkapkan rasa bahagianya atas terselenggaranya acara ini. “Awalnya, membuka RBR adalah bentuk amanah untuk meneruskan cita-cita almarhumah Mbak Ratna agar tetap berkontribusi dalam perkembangan seni dan sastra di Malang. Saya memberi kebebasan dan membuka ruang seluas-luasnya untuk berkesenian di segala bidang—sastra, teater, musik, dan lainnya,” ujarnya kepada BacaMalang.com.

Alyya Humaira, salah satu anggota RBR Production (berjaket, kiri), bercengkerama di Rumah Budaya Ratna. (Nedi Putra AW)
Di awal berdirinya, tantangan terbesar RBR adalah menarik minat generasi milenial dan Gen-Z. Dua bulan pertama, RBR masih sepi dan didominasi oleh seniman serta budayawan senior. Namun, memasuki bulan ketiga, bangunan berarsitektur kuno ini mulai menarik perhatian anak muda, terutama melalui kegiatan yang melibatkan siswa sekolah dan bedah buku bersama penulis muda. Media sosial menjadi jembatan penting dalam memperluas jangkauan RBR.
“Anak-anak Gen-Z ini ingin selalu update. Mereka membuat konten tentang RBR di media sosial dan merasa tempat ini adalah ‘safe space’. Di sini mereka bebas membaca, nongkrong, atau sekadar selfie. Tapi saya tetap pastikan mereka membaca, meski hanya 20 persen, sisanya nongkrong,” kata Benny.
Hari demi hari, jumlah pengunjung meningkat. Dari daftar buku tamu, rata-rata 20 orang hadir setiap hari. Dalam sebulan bisa mencapai 600 orang, dan selama 10 bulan, sekitar 6.000 orang telah mengunjungi RBR. “Saya anggap ini bagus. Meski motivasi saya untuk meliterasi mereka mungkin hanya nol koma sekian persen, tapi sudah mengena,” tambahnya.
Interaksi antar pengunjung pun berkembang. Anak-anak muda membentuk komunitas bernama RBR Production, yang menjadi panitia acara Lembar Pertama. Benny bersyukur, ikon Ratna Indraswari mampu menarik perhatian generasi muda. Mereka mulai penasaran akan sosok Ratna, kiprahnya, dan karya-karyanya. Poster, buku, dan nukilan berita di RBR memperkenalkan Ratna lebih jauh. Wanita yang mengalami kelumpuhan akibat rachitis ini sempat kuliah di Universitas Brawijaya Malang, membuat pengunjung dari UB merasa bangga.
“Sebagai pengelola, saya dan Pak Abdul Malik hanya mengarahkan. Mereka sudah bisa browsing atau melihat konten di media sosial,” ujar Benny. Ke depan, RBR akan mengusung konsep edukatif di bidang sastra, lukis, teater, dan seni budaya lainnya, termasuk acara Kamisan sebagai ajang unjuk talenta.

Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Djoko Saryono, didampingi Benny Ibrahim, menyimak koleksi buku Rumah Budaya Ratna (Nedi Putra AW)
Alyya Humaira, anggota RBR Production, mengaku tidak kesulitan berkomunikasi dengan anggota lain meski berlatar belakang berbeda. “Kami memang berbeda-beda, tapi punya ketertarikan yang sama. RBR adalah ruang komunitas yang menampung potensi anak muda. Saya senang di sini, terutama karena suasana kekeluargaan yang saya rasakan. Obrolan bisa terjadi antar generasi tanpa kesan menggurui,” ujar perempuan yang akrab disapa Yahu.
Yahu juga aktif sebagai Tarot Reader Globinisme di RBR dan merasa nyaman berkiprah karena sosok Benny yang gaul. Sebagai panitia Lembar Pertama, alumnus Sastra Inggris FIB UB ini menyadari pentingnya komunikasi lintas generasi. “Kami berharap tetap saling menyayangi sebagai keluarga dan siap untuk event-event RBR selanjutnya,” tandasnya.
Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang (UM), Djoko Saryono, menilai Ratna Indraswari Ibrahim berhasil menciptakan komunitas epistemik—himpunan orang-orang dengan latar belakang, profesi, dan minat berbeda, namun percaya bahwa pemikiran adalah kaki kehidupan untuk menerobos hidup itu sendiri.
“Warisan Ratna melalui RBR ini membentuk komunitas epistemik yang kuat. Ia menjadi wadah yang bangkit dari tidur panjang, dihidupkan kembali dengan berbagai variasi,” ujarnya. Djoko berharap komunitas ini mampu mendorong perubahan sosial, intelektual, dan pola pikir. “Apapun rupa, asal, dan profesinya, di sini semua percaya bahwa pikiran punya kaki sendiri untuk berjalan ke tempat-tempat yang cocok dengannya,” pungkas kurator Balai Bahasa Jawa Timur itu.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga




















































