BACAMALANG.COM — Beragam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi bagian penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat Desa Langlang, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Mulai dari usaha keripik, warung kuliner, rujak tradisional, hingga olahan kolang-kaling, para pelaku usaha terus mempertahankan usahanya dengan mengandalkan kualitas produk dan pelanggan setempat.
Dalam wawancara yang dilakukan pada 10 Agustus 2026, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang menggali kondisi, potensi, serta berbagai kendala yang dihadapi sejumlah pelaku UMKM lokal.
Wawancara tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mahasiswa dalam mengidentifikasi kebutuhan pendampingan usaha, mulai dari penguatan identitas usaha, pemasaran, pemetaan lokasi, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa setiap pelaku UMKM memiliki kondisi dan tingkat kesiapan digitalisasi yang berbeda. Sebagian pelaku usaha mulai terbuka terhadap penggunaan teknologi, sementara lainnya masih mempertahankan transaksi secara tunai karena faktor kebiasaan, keterbatasan tenaga kerja, maupun kekhawatiran terhadap meningkatnya jumlah pesanan.
Warung Sumber Pakis Suceng Mulai Terbuka terhadap Digitalisasi UMKM

Wawancara dengan Bapak Solikin selaku pemilik Warung Sumber Pakis Suceng. (ist)
Salah satu UMKM yang menjadi bagian dari wawancara adalah Warung Sumber Pakis Suceng yang dikelola Pak Solikin. Usaha tersebut berada di kawasan wisata kolam renang buatan di area Sumber Pakis Suceng dan sempat berhenti beroperasi selama kurang lebih empat tahun sebelum kembali berjalan.
Saat mahasiswa KKN menawarkan bantuan pembuatan QRIS sebagai fasilitas pembayaran, Pak Solikin memberikan respons positif. Ia menilai penggunaan teknologi merupakan bagian dari perkembangan zaman yang perlu diikuti.
“Nggak apa-apa. Soalnya itu kan fasilitas ya. Jadi kita sendiri juga… oke lah. Memang kita harus mengikuti zaman,” ujar Pak Solikin.
Selain QRIS, mahasiswa KKN juga menawarkan bantuan pembuatan banner dan logo usaha. Tawaran tersebut disambut baik oleh Pak Solikin.
«“Ya, terima kasih kalau begitu,” ungkapnya.»
Keripik Bangkiak Bu Nanik Tetap Mengandalkan Transaksi Tunai

Wawancara dengan Ibu Nanik selaku pemilik Keripik Bangkiak. (ist)
Berbeda dengan Pak Solikin, Bu Nanik, pemilik usaha Keripik Bangkiak, masih memilih menggunakan metode transaksi tunai.
Usaha yang berada di Dusun Langlang 1, Desa Langlang tersebut memproduksi keripik dengan karakteristik renyah dan tebal sesuai permintaan pelanggan.
Produksi hariannya berkisar 9–10 kilogram dengan harga Rp9.000 per kemasan 250 gram. Produk tersebut bahkan telah dipesan pelanggan dari kalangan karyawan pabrik maupun dari luar daerah.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan penggunaan QRIS, Bu Nanik menyatakan belum memiliki sistem pembayaran tersebut.
“Mboten, mboten gadhah kula. Kula namung cash mawon, nggih?” ujar Bu Nanik.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran jika promosi melalui media sosial justru membuat pesanan meningkat, sementara tenaga yang tersedia terbatas.
“Wedhi … engke nek nggawe pesenan uwaaakeh gak isa wis lali,” ungkapnya.
Keripik Singkong MHI Membutuhkan Petunjuk Arah

Wawancara dengan Ibu Husnul selaku pemilik Keripik Singkong MHI. (ist)
Usaha Keripik Singkong MHI yang dikelola Bu Husnul dan Pak Kholis juga menjadi salah satu UMKM yang diwawancarai. Usaha keluarga tersebut telah berkembang sejak era 1980-an dan mampu memproduksi rata-rata satu kuintal keripik singkong per hari.
Kendala utama yang dihadapi adalah lokasi produksi yang berada di dalam gang. Kondisi tersebut membuat pembeli maupun kurir terkadang kesulitan menemukan tempat produksi.
Mahasiswa KKN kemudian menawarkan bantuan berupa banner petunjuk arah yang dapat dipasang di bagian depan gang. Bu Husnul sebagai pemilik menyambut baik usulan tersebut.
“Sing penting ditandai petunjuk arah panah teng ngajeng gang. Dadi tiyang semerap lek produksine mlebet teng mriki, mboten nyasar teng wingking,” ungkap Bu Husnul.
Warung Rujak Mak Ning Siap Memperbarui Identitas Usaha

Wawancara dengan Mak Ning selaku pemilik Warung Rujak Mak Ning. (ist)
Warung Rujak Mak Ning merupakan salah satu kuliner tradisional yang telah bertahan sejak 2016. Warung tersebut menyediakan rujak manis, rujak ulek, dan kuliner tradisional lainnya bagi masyarakat sekitar.
Dalam wawancara pada 10 Agustus 2026, mahasiswa KKN menawarkan bantuan pembuatan banner baru karena banner yang digunakan sebelumnya mulai mengalami kerusakan.
Selain itu, mahasiswa juga menawarkan pemetaan lokasi melalui Google Maps serta dukungan promosi melalui media sosial.
Mak Ning menyambut baik tawaran tersebut.
“Purun, monggo… Warunge nika. Pancene wayahe rusak,” ujar Mak Ning.
Ketika ditawarkan bantuan promosi melalui media sosial, ia kembali memberikan persetujuan.
“Monggo, mboten nopo-nopo,” ungkapnya.
Kolang-Kaling Bu Triani Tetap Memilih Transaksi Tunai

Bu Triani masih memilih transaksi tunai. (ist)
Usaha olahan kolang-kaling milik Bu Triani juga menjadi bagian dari wawancara. Usaha tersebut telah dijalankan sejak 2011 dan membutuhkan ketelatenan dalam proses pengolahannya.
Dalam hal pembayaran, Bu Triani masih memilih transaksi tunai. Saat mahasiswa KKN menawarkan penggunaan QRIS, ia mengaku belum memahami sistem tersebut dan khawatir akan mengalami kebingungan saat melakukan transaksi dengan pelanggan.
«“Saya yang gak pernah paham seperti itu, Mas, maksudnya. Kalau orang beli ya langsung cash gitu aja,” ungkap Bu Triani.»
Meski demikian, Bu Triani tetap terbuka terhadap penguatan identitas usahanya dan menyetujui penggunaan nama “Kolang-Kaling Bu Triani”.
Mahasiswa KKN juga menawarkan pembuatan banner sebagai identitas usaha agar pelanggan dapat langsung mengetahui lokasi usahanya. Selain itu, mahasiswa menawarkan penandaan lokasi melalui Google Maps, yang juga diterima oleh Bu Triani.
Pendampingan Berdasarkan Kebutuhan Pelaku UMKM
Wawancara yang dilakukan pada 10 Agustus 2026 memperlihatkan bahwa digitalisasi UMKM tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang sama. Setiap pelaku usaha memiliki kebutuhan dan tingkat kesiapan yang berbeda.
Pak Solikin menunjukkan keterbukaan terhadap penggunaan QRIS, sementara Bu Nanik dan Bu Triani masih memilih transaksi tunai. Di sisi lain, Bu Husnul membutuhkan petunjuk arah menuju lokasi produksi, sedangkan Mak Ning menyambut baik bantuan pembaruan banner dan promosi usaha.
Kondisi tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa KKN-T UNIRA Malang untuk memberikan pendampingan sesuai dengan kebutuhan masing-masing UMKM.
Bentuk pendampingan yang ditawarkan meliputi pembuatan QRIS, banner, logo usaha, petunjuk arah, pemetaan lokasi, hingga dukungan promosi melalui media sosial.
Melalui kegiatan wawancara secara langsung, mahasiswa KKN tidak hanya melihat potensi produk UMKM, tetapi juga memahami berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha dalam mengembangkan bisnis di tengah era digitalisasi.
Pendampingan UMKM pun tidak semata-mata diarahkan untuk memaksa pelaku usaha mengikuti perkembangan teknologi. Sebaliknya, mahasiswa berupaya memberikan pilihan yang sesuai dengan kondisi, kebutuhan, dan kesiapan masing-masing pelaku usaha.
Dengan pendekatan tersebut, produk lokal dan kuliner tradisional di Desa Langlang diharapkan dapat terus berkembang sekaligus mempertahankan karakter dan kearifan lokal masyarakat. (*)





















































