BACAMALANG.COM — Warga Nahdliyin Malang Raya menggelar doa bersama dan Wirid Sapta Wikrama sebagai ikhtiar spiritual menjelang Muktamar NU ke-35 di Tambak Beras, Jombang. Kegiatan ini dilaksanakan Sabtu, (15/8/2026) pukul 19.30 WIB di Pondok Darul Quran Almaghfurlah KH. Musta’in Syamsuri, Watu Gede, Singosari, Kabupaten Malang.
Acara ini melibatkan unsur struktural, kultural, Lesbumi NU, hingga masyarakat adat Malang Raya. Inisiatif tersebut digagas oleh Joglo Singo Alit sebagai bentuk kecintaan kepada Nahdlatul Ulama sebagai Darul Wikoyah atau rumah perlindungan bagi jamaah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdhiyah di Nusantara.
Tokoh masyarakat adat Malang Raya Ki Ardhi Purboantono mengatakan, ritual ini merupakan cara warga Nahdliyin menitipkan harapan agar Muktamar berjalan dengan damai.
“Kami menyatukan Banyu Sudana dari berbagai mata air di Malang Raya sebagai simbol penyatuan niat dan doa. Harapannya Muktamar NU ke-35 berjalan adem, ayem, tentrem, gembira, dan penuh barokah,” ujar Ki Ardhi, bacamalang, Minggu (16/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan ritual Banyu Sudana atau penyatuan mata air. Air dikumpulkan dari berbagai sumber mata air di Malang Raya, kemudian didoakan bersama melalui Wirid Sapta Wikrama untuk selanjutnya ditebarkan di wilayah pelaksanaan Muktamar.
Ki Ardhi menjelaskan penyatuan mata air memiliki makna filosofis yang dalam.
“Air itu panguripan, sumber kehidupan. Sifatnya selalu mengalir dari atas ke bawah, mengajari kita untuk menghormati yang sepuh dan menyayangi yang muda. Ini laku para wali dan leluhur Nusantara untuk merawat kedamaian,” jelasnya.
Tradisi menyatukan air dan tanah juga merupakan laku spiritual yang telah dilestarikan para wali dan leluhur Nusantara. Tradisi ini kerap dilakukan dalam momen penting kebangsaan sebagai sarana konsolidasi batin.
Melalui ikhtiar ini, warga Nahdliyin Malang Raya berharap Muktamar NU ke-35 di Jombang berlangsung tanpa ada gesekan yang tidak perlu. Doa yang dipanjatkan juga menguatkan prinsip melu handarbeni, melu hangrungkebi, mulat sarira hangrasa wani.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































