Oleh: Pietra Widiadi & Dewi Arum Nawang Wungu
Mengukur sebuah budaya masyarakat, tak lepas dari dasar penghidupan keseharian, atau biasa dikenal dengan sustainable livelihood. Mengintip Malang dengan kaca mata perkopian, nampaknya boleh dibilang bahwa penghidupan sebagian masyarakatnya bertumpu pada komoditas kopi.
Cukup ada bukti kuat bahwa Malang, utamanya Kabupaten Malang, Jawa Timur adalah salah satu daerah penghasil kopi penting, meskipun mungkin tidak setara dengan sentra kopi utama Jawa Barat atau daerah‐daerah kopi terbesar. Kabupaten Malang tercatat sebagai daerah produsen kopi terbesar di Jawa Timur menurut data BPS, dengan produksi mencapai 13.673 ton.
Beberapa kecamatan di Malang yang dikenal sebagai penghasil kopi, dan ada bukti cukup kuat bahwa Malang, Jawa Timur adalah salah satu daerah penghasil kopi penting, meskipun mungkin tidak setara dengan sentra kopi utama Jawa Barat atau daerah‐daerah arabika terbesar.
Berikut data dan indikasi sejarahnya:
Bukti kontemporer: Malang sebagai daerah penghasil kopi. Kabupaten Malang tercatat sebagai daerah produsen kopi terbesar di Jawa Timur menurut data BPS, dengan produksi mencapai 13.673 ton dalam satu periode tertentu.
Ada beberapa kecamatan di Malang yang dikenal sebagai penghasil kopi, antara lain Dampit, Tirtoyudo, Wonosari, Sumbermanjing Wetan, Ampelgading, Donomulyo, Gedangan, Bantur.
Malang juga punya produk kopi khas bernama Kopi Amstirdam, yang merupakan singkatan dari empat kecamatan penghasil kopi di selatan Malang (Ampelgading, Sumbermanjing, Tirtoyudo, Dampit).
Di Malang juga terdapat estate kopi milik perusahaan perkebunan (PTPN) di Kebun Bangelan, Wonosari, Malang yang menghasilkan kopi jenis robusta untuk ekspor.
Ada juga perkebunan kopi lama di Malang yang diklaim berasal dari era kolonial: Kawisari Coffee Plantation dikatakan sebagai salah satu perkebunan kopi terbesar dan tertua yang dibangun sekitar tahun 1870.
Bukti sejarah: apakah Malang “pusat kopi” dalam konteks kolonial?
Dalam sejarah kopi kolonial Belanda di Nusantara, Jawa (terutama Jawa Barat / Priangan) sering disebut sebagai pusat utama produksi kopi, terutama arabika, di era VOC dan masa kultuurstelsel.
Belanda memperluas perkebunan kopi di berbagai bagian Jawa sesuai kebutuhan, sehingga daerah seperti Jawa Timur juga ikut ditanami kopi, terutama ketika beberapa tanaman arabika di Jawa Barat rusak penyakit karat daun (leaf rust) sehingga mereka mencari area baru.
Namun, dalam literatur kolonial yang banyak diakses, Malang jarang disebut sebagai pusat kopi utama di skala nasional seperti Priangan (Preanger) di Jawa Barat. Fokus utama dalam literatur klasik sering jatuh ke daerah dataran tinggi di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Fakta bahwa Malang tetap menjadi salah satu penghasil kopi penting di Jawa Timur, apalagi dengan sejarah perkebunan kolonial (misalnya Kawisari) menunjukkan bahwa meskipun bukan pusat nasional utama, secara regional Malang memang punya peran signifikan.
Kesimpulan
Jadi: Ya, Malang merupakan daerah penghasil kopi penting, baik di masa sekarang maupun dengan akar sejarah kolonial (ada perkebunan lama di sana).
Tapi menyebut Malang sebagai pusat kopi nasional kolonial agak berlebihan menurut bukti yang ada—daerah seperti Jawa Barat (Priangan) lebih sering menjadi rujukan pusat produksi kopi di masa kolonial.
Dalam konteks lokal Jawa Timur, Malang bisa dianggap sebagai salah satu pusat kopi di wilayah tersebut.
Kalau kamu mau, aku bisa mencoba mencari peta perkebunan kopi kolonial yang menunjukkan letak estate‐estate kopi di Jawa Timur (termasuk Malang) dan membandingkannya dengan Gayo.
Mau aku cari itu? yaitu Kawisari Coffee Plantation dikatakan sebagai salah satu perkebunan kopi terbesar dan tertua yang dibangun sekitar tahun 1870.
Dalam sejarah kopi masa Hindia-Belanda di Jawa (terutama Jawa Barat / Priangan) sering disebut sebagai pusat utama produksi kopi, terutama arabika, yang dikembangkan sejak era VOC dan masa kultuurstelsel. Belanda memperluas perkebunan kopi di berbagai bagian Jawa sesuai kebutuhan, sehingga daerah seperti Jawa Timur juga ikut ditanami kopi.
Dalam literatur era Hindia Belanda yang banyak diakses, Malang jarang disebut sebagai pusat kopi utama di skala nasional seperti Priangan (Preanger) di Jawa Barat.
Namun Malang tetap menjadi salah satu penghasil kopi penting di Jawa Timur, apalagi dengan sejarah perkebunan era Hindia-Belanda, misalnya Kawisari, Bagelen menunjukkan bahwa meskipun bukan pusat nasional utama, secara regional Malang memang punya peran signifikan.
Malang masih pantas disebut daerah penghasil kopi. Namun menyebut Malang sebagai pusat kopi agak berlebihan. Termasuk kalau membandingkan dengan Dataran Tinggi Gayo, atau menyebut Takengon.
Budaya kopi, adalah penghidupan
Perjalanan ke Takengon beberapa waktu ini, mengagetkanku bahwa Malang sebagai basis kopi, tak bisa dibandingkan dengan Dataran Tinggi Gayo, terutama kota Takengon. Meskipun kalau membandingkan kafe yang menyajikan kopi, Malang bisalah disamakan dengan Takengon. Meski kafe kopi di Malang belum tentu menyajikan kopi asli, seperti di Takengon.
Menyebut kopi sebagai budaya, bukanlah berlebihan untuk Takengon. Tapi menyebut Malang yang memiliki budaya kopi, kok berlebihan. Di Takengon, agak sulit menemukan kopi-kopian, untuk menyebutkan kopi Esen. Di Malang, banyak kafe menyediakan kopi esen, dari pada kopi beneran.
Mengatakan kopi sebagai budaya, menempatkan kopi, komoditi kopi sebagai penggerak kehidupan. Dengan jumlah kecamatan hampir 50 di Malang Raya, hanya sekitar 10 kecamatan yang bertumpu pada sektor pertanian komoditi kopi. Maka bisa saja disebut, bukan basis pertanian komoditi kopi. Ini beda dengan kabupaten di Dataran Tinggi Gayo, yang nyaris bisa disebut kopi adalah kehidupan. Kopi adalah budaya masyarakat.
Setiap jengkal kehidupan tak lepas dari kopi, sektor lapangan kerja bertumpu pada kopi, dari hulu sampai hilir. Pendapatan anak muda di perkopian, bisa sampai Rp 2.5 juta untuk posisi barista. Bila dihitung, bisalah Takengon disebut kota seribu kafe kopi, sepeti Lamongan kota seribu pesantren.
Di Malang sulit disebutkan. Apakah yang bertumbuh pada sektor pendapatan di Malang? Kabupaten tentu basisnya pertanian, tapi sektor komoditi yang ditawarkan adalah sawit, oleh Bupatinya. Sedangkan komoditi kopi, nampak tidak diurus. Pencurian kopi di tegalan juga marak, harga kopi petik, Cherry juga rendah dan prosesing dilakukan namun tidak langsung berujung pada konsumen penikmat kopi. Terbesar kopi di Malang, masuk pada pabrik pengepakan kopi. Menjadi kopi saset.
Menengok Takengon
Di dataran tinggi Gayo, Takengon, kopi tumbuh sebagai nadi ekonomi dan kebanggaan kolektif. Namun di balik barisan tegakan hijau itu, ada sosok-sosok perempuan yang memikul sebagian besar beban kerja, dari awal musim tanam hingga panen. Mereka menyemai biji, menyiangi gulma, memangkas dahan, memetik buah merah satu per satu, menjemur, hingga menyeleksi biji yang layak jual.
Meski begitu, posisi mereka dalam sistem produksi kopi masih tersembunyi di balik nama-nama laki-laki yang tercatat sebagai kepala keluarga dan pemilik lahan. Dalam struktur administrasi pertanian, perempuan kerap disebut “membantu,” padahal kontribusinya bersifat penuh dan berkesinambungan. Ketika harga kopi turun atau cuaca ekstrem mengancam panen, perempuan jugalah yang mencari jalan keluar yang menjual hasil kebun sampingan, mengolah kopi sangrai, atau menambah pendapatan lewat usaha kecil di sekitar rumah.
Dari sudut pandang gender dan sosial inklusi, ketimpangan ini menunjukkan bahwa kerja perempuan belum diakui secara formal, meski menjadi fondasi penghidupan rumah tangga. Akses terhadap pelatihan, modal, dan bantuan teknis masih lebih banyak dinikmati laki-laki, sementara beban ganda, yakni produksi dan reproduksi yang terus menempel pada perempuan. Namun, di tengah keterbatasan itu, muncul ruang-ruang baru yang dibangun oleh inisiatif mereka sendiri: kelompok dampingan, koperasi kecil, dan jaringan informal yang memperkuat solidaritas antar petani perempuan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan penghidupan di Takengon tidak cukup diukur dari produktivitas lahan, tetapi juga dari pengakuan terhadap aktor yang merawatnya. Program bantuan bibit dan pelindung kopi di banyak desa seperti Cemparam Jaya di Mesidah kerap gagal berkelanjutan karena tidak menyentuh ranah sosial: siapa yang benar-benar merawat tanaman setelah bibit ditanam? Dalam banyak kasus, jawabannya adalah perempuan—mereka yang paling dekat dengan tanah, tetapi paling jauh dari pengambilan keputusan.
Bagi perempuan Gayo, menanam kopi bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan memperpanjang nafas kehidupan. Mereka menyebut tanah sebagai inong, ibu yang memberi makan dan tempat berpijak. Dalam pandangan ini, keberlanjutan berarti keseimbangan antara menjaga bumi, menghidupi keluarga, dan mempertahankan martabat kerja.
Jika arah pembangunan ingin benar-benar berkelanjutan, maka suara perempuan di tanah kopi harus ditempatkan bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai pusat dari strategi penghidupan itu sendiri.
Malang, kopi dan kenangan
Berkaca dari Takengon, Malang kota dan Kabupaten dan juga Batu, lebih bergerak pada sektor jasa dan industri pinggiran yang berorientasi jasa. 3 daerah ini tidak bertumpu pada sektor pertanian-perkebunan yang menjadi tumpuan hidup masyarakat. Apel mulai pergi dari Batu dan Poncokusumo, jeruk berkembang di Dau dan Wagir dengan menggusur kopi.
Padahal kopi secara sporadis hampir ada di semua kecamatan tapi tak pernah terlihat dibangun. Dibongkar ganti komoditi jelas nampak. Misalnya di kawasan Malang Selatan yang didesak-desak berubah ke sawit. Kopi tak nampak idola meski saat ini harga kopi cukup meningkat.
Dampit cukup terkenal tapi mutunya mulai diragukan. Bertumpunya adalah pedagang kopi pasar kopi dan toko kopi. Bagaimana perkebunan kopi, tanda tanya besar. Budaya yang bertumpu pada penghidupan sehari-hari yang berkembang juga memiliki variasi yang besar.
*) Pietra Widiadi, founder Pendopo Kembangkopi, di dusun Ngemplak, desa Sumbersuko, Wagir
*) Dewi Arum Nawang Wungu, founder Kelas Bertumbuh, Malang
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis


























































