BACAMALANG.COM – Kota Malang sudah dikenal sebagai Kota Wisata, khususnya wisata heritage dan kuliner. Salah satu yang cukup unik adalah Warung Lesehan Yogyakarta.
Bagaimana tidak unik, meski bernama Yogyakarta, warung ini bukanlah cabang dari warung yang berada di daerah istimewa tersebut.
Warung lesehan tersebut merupakan asli dari Malang, bahkan tidak punya cabang di Yogyakarta.
Hal ini diungkapkan owner dan pengelola Warung Lesehan Yogyakarta Albertus Yonathan saat ditemui BacaMalang.com di salah satu warungnya, yakni cabang Lembah Dieng belum lama ini.
“Awalnya orang tua saya merintis resto ayam goreng dengan nama Ayam Yogya di kawasan Jalan Retawu, Kota Malang pada tahun 1999,” ungkapnya, Selasa (19/3/2024).
Albert, sapaannya, menambahkan, nama Yogya ini sengaja mereka usung sebagai merek dagang, karena kecintaannya pada sebuah resto ayam goreng di kota tersebut yang sudah eksis sejak tahun 1960-an.

Suasana bersantap di Warung Lesehan Yogyakarta Cabang Lembah Dieng, Kalisongo, Malang, Selasa (19/3/2024). (Nedi Putra AW).
Orang tua Albert pun mencoba belajar membuat warung dengan skala kecil yang terinspirasi resep ayam goreng dengan ciri khas kremes tersebut.
“Kremesan adalah ide yang luar biasa di bidang kuliner, karena orang Indonesia merasa kurang kalau makan tanpa kerupuk, sehingga kremesan ini menjadi alternatif pengganti kerupuk yang nikmat disantap bersama nasi, ayam goreng dan sambal,” ujar penerus generasi kedua Warung Lesehan Yogyakarta ini.
Albert mengaku, pada awalnya rasa ayam goreng di warungnya tidak seperti yang diharapkan, karena sebagai penggemar ayam goreng legendaris di Yogya tersebut, ayahnya sangat hafal dengan cita rasanya.
“Tapi ayah saya terus belajar dan mencoba hingga akhirnya tercipta cita rasa yang dapat dinikmati seperti sekarang ini,” tukasnya.
Seiring waktu, usaha keluarga ini semakin berkembang, hingga akhirnya mereka dapat pindah dan membuka Warung Lesehan Yogyakarta di lahan yang lebih luas di Jalan Kendalsari Barat, kawasan Soekarno-Hatta (Soehat) pada tahun 2007 dan cabang kedua di Jalan Raya Lembah Dieng pada tahun 2014, serta cabang ketiga di Jalibar-Kepanjen yang baru dibuka pada akhir bulan Februari 2024 ini.
Cabang ketiga ini bahkan menjadi salah satu destinasi wisata kuliner terbesar di Kabupaten Malang yang berdiri di area seluas 6.500 meter persegi dengan kapasitas hingga 1.200 orang.

Albert Yonathan (paling kanan), salah satu Mitra Usaha GoFood sekaligus pemilik restoran Warung Lesehan Yogyakarta bersama Irvan Yonas (kiri), Senior Area Manager Gojek Malang; Head of Regional Corporate Affairs East Java, Bali, dan Nusa Tenggara Goto, Yondi Hartanto dalam sebuah acara di Warung Lesehan Yogyakarta Cabang Lembah Dieng Kalisongo, Malang, Selasa (19/3/2024). (Nedi Putra AW).
Berkembangnya usaha keluarga ini menjadi keunikan tersendiri pula, mengingat orang tuanya bukan dari kalangan kuliner.
“Ayah saya lulusan Teknik Sipil, dan saya mengikuti jejaknya di jurusan yang sama, karena awalnya kami kerja di bidang konstruksi,” ungkap alumnus UK Petra Surabaya ini.
Dikatakan Albert, warungnya juga menyediakan tim delivery untuk order online, hingga pada tahun 2018 bergabung dengan Gojek, sebuah platform on-demand, salah satunya di bidang transportasi makanan, dengan menjadi Mitra Usaha GoFood.
Namun seperti perputaran roda, sebuah usaha tentu ada pasang surutnya, salah satunya saat musibah kebakaran yang menimpa cabang Soehat pada tahun 2022 lalu.
Meski demikian Albert mengaku bahwa cobaan terbesar adalah masa pandemi Covid-19, yang menghantam hampir semua sektor perekonomian.
“Apalagi di bidang kuliner, dengan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM yang membuat orang tidak berani keluar rumah. Padahal ciri khas warung kami yang dilengkapi kolam ikan ini adalah untuk bersantap beramai-ramai sambil lesehan, karena mampu menampung ratusan pelanggan makan di tempat atau dine in bersama keluarga, kerabat atau koleganya,” bebernya.
Selain itu, PPKM juga membuat kunjungan wisatawan ke Kota Malang menjadi sangat terbatas, sehingga Albert memutar otak agar dapat tetap menjalankan bisnisnya.
Ia merasa armada deliverynya juga menjadi terbatas dengan banyaknya order secara online, sehingga ia benar-benar memaksimalkan order lewat aplikasi GoFood.
Diterangkan Albert, hadirnya platform GoFood maupun platform order online lainnya ini pada awalnya menimbulkan anggapan negatif, karena masyarakat belum terbiasa.
Banyak customer yang sempat protes karena selisih harga yang lumayan, terlebih warungnya sudah punya tim delivery yang gratis ongkos kirim.
“Ternyata lama-lama lewat GoFood inilah eksistensi warung semakin kuat tersebar ke masyarakat, sementara masalah selisih harga sejak awal mulai terbantu dengan subsidi dari banyaknya promo yang ada. Bahkan dalam beberapa kasus, memakai promo kadang bisa jauh lebih murah dibanding makan di tempat,” urainya.
Dipaparkan Albert, impact take away dan dine in saat ini bisa mencapai rasio 50:50, di mana kontribusi terbesar adalah dari aplikasi GoFood.
Ia menilai promosi dan marketing adalah faktor terpenting dalam bisnis kuliner, sehingga lebih baik memaksimalkannya dengan sedikit mengorbankan presentase profit.
Banyaknya promo yang dihadirkan juga bisa menghemat pengeluarannya dari sisi iklan, yang membuat Albert merasa bangga dapat menjadi salah satu Mitra Usaha GoFood, yang dirasa sangat membantu usahanya berkembang, khususnya saat melewati masa pandemi Covid-19.
“Saya sangat bersyukur dan tidak bisa membayangkan apakah masih survive atau tidak saat itu. Jadi dengan banyaknya order online lewat aplikasi ini, puji Tuhan saya tidak pernah mem-PHK para karyawan. Kami sangat terbantu seolah punya belasan driver, sehingga kami juga merasa sangat dekat dengan para driver. Di sini kita sediakan minum, bangku untuk beristirahat sambil menunggu serta charger untuk mereka, semuanya secara free,” tandasnya.
Reni, salah seorang customer yang sedang bersantap dalam acara berbuka puasa bersama teman-temannya di Warung Lesehan Yogyakarta cabang Lembah Dieng mengaku cukup sering order melalui GoFood ke cabang ini.
“Rumah saya di daerah Klayatan, Sukun, jadi kalau order ‘nyantol’nya dapatnya cabang di sini. Saya dan keluarga di rumah paling suka ayam bakarnya, mantap,” ungkap perempuan berhijab ini.
Terpisah, Head of Regional Corporate Affairs East Java, Bali, dan Nusa Tenggara Goto, Yondi Hartanto menambahkan, sejak awal Gojek berusaha untuk menghadirkan layanan yang memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, salah satunya di bidang layanan pengantaran makanan.
“Kami sebelumnya selalu mengadakan riset terhadap satu wilayah, karena program atau promo yang akan diluncurkan disesuaikan dengan karakter wilayah tersebut. Seperti Malang yang merupakan Kota Pendidikan dan wisata, akan berbeda dengan Surabaya meskipun jaraknya relatif dekat,” ujarnya.
Dikatakan Yondi, selama Ramadan dan Lebaran 1445 H ini, Gojek menghadirkan beragam layanan yang direkomendasikan oleh program #EmakHemat, serta berbagi berkah lewat beberapa program untuk Mitra Usaha GoFood dan juga Mitra Driver.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki



















































