Mengintip Padi Motif Punakawan Di Agro Techno Park Poncokusumo

Tanaman padi bermotif punakawan dan mural di Agro Techno Park Poncokusumo, Kabupaten Malang tampak dari atas. (ist)

BACAMALANG.COM – Agro Techno Park merupakan komplek terpadu yang dibangun sebagai sarana media edukasi pertanian pada masyarakat. Secara umum, pembangunannya dirancang untuk mengeksplorasi potensi mendukung perekonomian sehingga menjadi model desa mandiri terintegrasi. Selain itu, Agro Techno Park juga bisa ditargetkan untuk menjadi objek wisata baru.

Seperti yang dikembangkan PT Sangkar Garuda Sakti lewat pembangunan Agro Techno Park yang berlokasi di Jl. Raya Paras No.18, Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang ini. Pada lahan desa seluas 3 hektar ini sedang dibangun sejumlah wahana untuk edukasi pertanian, teknologi maupun seni budaya.

Pengelola wahana Vendy Penatas Priadi menuturkan, pembangunan taman agro ini merupakan perwujudan dari impian sejak tiga tahun lalu. “Sudah waktunya anak-anak muda di sini menyumbangkan untuk kampung halamannya sendiri, dan akhirnya di sini kami berusaha menyumbangkan ilmu kami,” ungkap Vendy saat ditemui di lokasi agro pada akhir pekan lalu.

Vendy mengaku bahwa ilmu di bidang teknologi manufaktur, khususnya untuk produksi dan penjualan yang dimilikinya membuat dirinya memberanikan untuk membuat agro park ini. “Namun sebelumnya saya berusaha mengedukasi anak-anak mulai jenjang SD, SMP dan SMK di bidang teknologi, yang ternyata membuahkan hasil, karena anak-anak madrasah ibtidaiyah (SD) yang kami bina dapat menjadi menjuarai kompetisi robotik di tingkat nasional,” ujarnya.

Vendy merasa bangga bahwa anak-anak di desanya ternyata berpotensi, apalagi robot dibuat 90 persen terbuat dari bahan bambu yang tentunya banyak dan mudah dijumpai di pedesaan. “Namun kembali lagi, semua tergantung kepada konsistensi pendamping atau pengasuhnya, yaitu kita sendiri,” ungkapnya.

Oleh karena itu Vendy segera mengumpulkan rekan-rekannya dari berbagai komunitas, mulai di bidang teknologi hingga seni budaya untuk bergerak bersama di bawah naungan perusahaan yang diberi nama Garuda Sangkar Sakti. “Kekayaan intelektual mereka ini harus dijadikan wadah yang berwujud wahana, kenapa wahana? karena kekayaan intelektual tersebut selain sebagai edukasi juga harus dikonversikan secara komersial,” jelas pria yang menjabat sebagai Wakil Direktur PT Garuda Sangkar Sakti ini.

Wahana tersebut nantinya juga di bidang manufaktur, yakni sejumlah pabrik, mulai pabrik makanan, pabrik pengolahan pakan ternak hingga pengolahan sampah.
“Sehingga dari pabrik-pabrik yang ada nantinya dapat memberi edukasi yang riil kepada UMKM, kalangan pesantren maupun dari warga pengangguran yang tidak berijazah,” paparnya.

Gagasan membuat agro techno park ini ternyata diberi lampu hijau oleh pemerintah desa setempat dengan adanya izin untuk mengelola lahan seluas 3 hektar di Jl. Raya Paras No.18, Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Pembangunannya secara fisik masih dalam tahap awal, namun sudah tampak gazebo unik dan petak-petak sawah dan kebun. “Nanti akan ada 9 tahapan program, yaitu informasi wisata, kultur budaya, teknologi, pelatihan UMKM, leadership dan manajemen, multimedia, digital marketing, bisnis dan keuangan serta pertanian tentunya,” urai Vendy.

Ia berharap agro techno park ini menjadi jujugan kalangan pengusaha dan wisatawan khususnya dari perkotaan yang ingin merasakan kehidupan desa, namun tetap dengan sentuhan teknologi, serta solusi perbaikan ekonomi di sektor Pertanian, Pemuda Kreatif & UMKM Jawa Timur. “Setidaknya juga bisa menjadi persinggahan bagi para wisatawan yang akan menuju ke Bromo lewat Poncokusumo,” tandasnya.

Anak-anak saat menari tradisonal sebagai salah satu sarana seni budaya di Agro Techno Park Poncokusumo, Kabupaten Malang, Minggu (9/1/2022). (ned)

Memilih Padi Sebagai Ikon

Sesuai namanya, maka agro tecno park ini adalah wahana teknologi berbasis pertanian. Vendy pun mulai berpikir untuk mencari ikon yang pas untuk taman ini.
“Akhirnya kami memilih padi, namun tentunya kurang menarik apabila yang ditampilkan adalah padi biasa, sehingga muncul ide untuk melakukan riset,” tuturnya.

Dari riset yang dilakukan selama dua tahun, ternyata bisa didapatkan padi dengan daun yang beraneka warna. Vendy pun kembali memutar otak untuk berkreasi dengan rekan-rekannya agar padi di sawahnya dapat tampil beda. Ia menggandeng Zainul Arifin, warga setempat yang gemar melakukan riset dan percobaan terkait padi ini. Zainul Arifin menjelaskan, bahwa warna-warni tersebut didapat dari persilangan bibit-bibit padi unggul yang ada.
“Kami lakukan percobaan secara intensif dengan persilangan, dan setelah ditanam, 7 bulan dihasilkan padi dengan daun warna merah dan hitam,” ujarnya.

Zainul menerangkan, selain warna padi yang sudah tumbuh di agro techno park ini pada dasarnya sama dengan padi umumnya. “Namun kalau dari rasa, kalau yang warna merah dan hitam orang Jawa bilang agak ‘sepo’ (tidak terlalu gurih) hingga cocok untuk penderita diabetes,” tukasnya.

Dikatakan Zainul, penelitian tentang padi ini akan terus dikembangkan, sehingga nanti para wisatawan bukan hanya bisa melihat indahnya warna-warni padi, namun juga bisa belajar bersama dan bertukar pikiran tentang budidaya pertanian. Perbedaan warna padi ini digunakan sebagai motif unik di petak atau sawah yang ada. Sekilas jika pengunjung berjalan di sisi sawah memang tidak terlalu terlihat, namun jika naik ke tingkat dua gazebo yang ada di dekatnya, maka akan nampak gambar tokoh punakawan Semar dan Petruk serta mural bentuk capung.

Direktur Utama PT Garuda Sangkar Sakti, Kusnadi menuturkan, motif atau gambar dari padi ini dibentuk dengan pola pada saat akan ditanam. “Memang akan lebih jelas jika dilihat dari atas menggunakan drone,” ujarnya.

Kusnadi menambahkan, selain Semar, Petruk dan mural, nanti petak-petak selanjutnya akan digarap tokoh punakawan lainnya, yakni Gareng dan Bagong.
Ia mengaku sengaja memilih karakter punakawan karena tertarik dari filososinya. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong sebenarnya adalah orang-orang istimewa namun mereka lebih memilih ikhlas hidup sebagai abdi. “Harapannya kami bisa seperti mereka para punakawan tersebut, warga desa yang ikhlas berbuat semampu dan sebisa kami,” pungkasnya.

Agro Techno Park di Poncokusumo ini masih dalam tahap pembangunan. Saat ini prosesnya baru dikerjakan 40 persen, dan diperkirakan baru rampung sekitar 4 bulan lagi. (ned)