BACAMALANG.COM – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB-UB) menerima kunjungan akademik dari Peking University, Tiongkok. Rombongan terdiri dari 12 mahasiswa, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Yong (Hardy) Xiang, Dekan Institute for Cultural Industries, selama sepekan di Malang, mulai Senin hingga Minggu (3-9/2/2025). Kunjungan tersebut berupa eksplorasi budaya, hingga observasi langsung ke berbagai kampung tematik di Malang Raya yang menjadi contoh nyata pengembangan industri kreatif berbasis budaya. Kampung Kajoetangan Heritage atau Kampung Heritage Kayutangan tentunya menjadi salah satu destinasi wajib, seperti tampak dalam kunjungan mereka, Rabu (5/2/2025).
Terjadi sebuah pemandangan menarik pada sore hari tersebut. Rombongan, yang didampingi Iink, salah satu warga setempat dan sejarawan FX Domini BB Hera tersebut, sempat bercengkerama dengan seorang Oma Peranakan Tionghoa. Mereka, para mahasiswa/mahasiswi pasca sarjana Fakultas Industri Budaya Universitas Peking di Beijing ini asyik terlibat percakapan dalam bahasa Mandarin, meski Oma tersebut masih menggunakan bahasa Mandarin lawas. Beberapa catatan menyebutkan bahwa Malang sejak dulu juga menjadi tujuan bagi warga Tionghoa, termasuk kawasan Kayutangan, yang sejak sejak masa kolonial berkembang menjadi pintu gerbang memasuki pusat kota.

Mahasiswi Peking University, Tiongkok saat bercengkerama dalam bahasa Mandarin dengan Oma , seorang warga Kayutangan Heritage Kota Malang (baju hijau), Rabu (5/2/2025). (ist)
Sejarawan FX Domini Hera menyampaikan, fenomena percakapan ini sebenarnya tidak terlalu mengherankan mengingat dari sejarahnya memang warga Tionghoa yang bermukim di kampung Kayutangan juga ikut berperan penting di negeri ini, selain warga pribumi dan Arab. “Menteri Urusan Peranakan Kedua RI, Siauw Giok Tjhan dikabarkan pernah tinggal di sini,” ungkapnya.
Sebagai informasi Siauw pernah menjadi Menteri Negara Urusan Peranakan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II, anggota BP KNIP, anggota DPR RIS, anggota DPRS (1950-1956). Sejarawan yang biasa disapa Sisco ini menambahkan, bahwa Menteri Urusan Peranakan Tionghoa Pertama ROI adalah Mr. Tan Po Gian, sementara yang Kedua, yakni Siauw Giok Tjhan ini sempat tinggal di Kayutangan pada masa revolusi. Siauw Giok Tjhan sendiri lahir di Kampung Kapasan Surabaya, suatu kawasan yang mayoritas penduduknya adalah warga keturunan Tionghoa.
“Dia terlibat dalam mobilisasi para pemuda Tionghoa dalam Revolusi Indonesia bersama Go Gien Tjwan, dimana kelak keduanya jadi pimpinan Baperki dan menginisiasi Universitas Res Publica, Angkatan Muda Tionghoa (AMT) saat Perang Kemerdekaan di Malang,” papar Sisco.
Dosen luar biasa di Universitas Ciputra ini menambahkan, bahwa Giok Tjhan sempat terlibat dalam Sidang BP KNIP 1947 yang legendaris tersebut.
Setelah menyempatkan menikmati minuman sore di salah satu rumah warga setempat yang sudah disulap menjadi warung kopi berkonsep vintage, Prof. Dr. Yong Xiang sangat antusias menggali informasi tentang Kampung Kayutangan dalam diskusi dengan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat yang diwakili Ketua Pokdarwis Kayutangan Mila Kurniawati bersama dua anggotanya. Cukup banyak dan detail yang ditanyakan Prof. Yong, mulai asal-usul sebutan kayutangan itu sendiri, bagaimana sistem kepariwisataan yang dijalankan, UMKM yang ada, hingga peran pemerintah daerah.
Sisco menilai kunjungan akademisi Peking University, Tiongkok ini penting dalam pertukaran budaya bagi FIB UB. “Peking University, Tiongkok ini adalah kampus tersohor, yang didirikan ayah dari Kaisar Pu Yi di penghujung abad XIX,” ucap Sisco.
Sebelummnya rombongan berkunjung ke Soendari Batik & Art, salah satu galeri yang mengembangkan industri kreatif batik khas Malang. Rombongan mahasiswa ini juga bertandang ke Kampung Budaya Polowijen (KBP). Mereka merasakan pengalaman budaya secara langsung, seperti belajar praktik cethik geni di tungku sekaligus mengenal pawon tradisional, sambil merasakan nikmatnya makanan khas tradisional Malang, serta mewarnai topeng Malangan sebagai bagian dari pengenalan karakter topeng khas Malang.

Para Mahasiswi Peking University, Tiongkok ikut menari bersama di Kampung Budaya Polowijen, Rabu (5/2/2025). (ist)
Penggagas Kampung Budaya Polowijen Ki Demang menyampaikan, bahwa budaya sesungguhnya dapat menjadi episentrum dari industri dan ekonomi kreatif.
“Sebuah seni pertunjukan itu pasti menggerakkan kuliner, fashion, foto videografi, desain grafis, kriya dan lainnya, sehingga kunjungan FIB UB membawa rombongan dari Peking University ke KBP ini menjadi momen penting, karena di KBP memang sedang merintis co-working space ekonomi kreatif,” tandas pria bernama asli Isa Wahyudi ini.
Pewarta : Nedi Putra AW



















































