Menilik Potensi dan Peluang Replikasi Wisata Kopi Luwak ala Bali Pulina di Malang - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

KULWIS · 11 Agu 2024 17:24 WIB ·

Menilik Potensi dan Peluang Replikasi Wisata Kopi Luwak ala Bali Pulina di Malang


 Ny. Jero, salah seorang pekerja di Bali Pulina saat porses sangrai kopi luwak secara tradisional. (Nedi Putra AW). Perbesar

Ny. Jero, salah seorang pekerja di Bali Pulina saat porses sangrai kopi luwak secara tradisional. (Nedi Putra AW).

BACAMALANG.COM – Sebagai destinasi wisata utama di Indonesia, Pulau Bali selalu menawarkan beragam sensasi bagi para pengunjungnya. Salah satunya di bidang kuliner seperti kopi. Adalah Bali Pulina, yang berlokasi di Utara Ubud, tepatnya di Pujung Kelod, Tegallang, Gianyar.
Destinasi wisata ini menghadirkan pengalaman unik, dimana para pengunjung atau wisatawan dapat melihat secara langsung, bagaimana satwa luwak tersebut menghasilkan biji kopi terbaik yang akhirnya disebut kopi luwak.

Selain itu, pengunjung dapat pula melihat dan terlibat langsung proses sangrai, menumbuk hingga mengayak biji kopi dalam nuansa tradisional. Seperti diungkapkan Ny. Jero, salah seorang pekerja yang bekerja di bagian demo/display proses sangrai kopi tersebut.

“Luwak hanya mau makan biji pilihan. Kemudian, biji kopi yang keluar bersama kotoran luwak dibersihkan, dicuci pakai air panas 2 sampai 3 kali, dibilas baru setelah itu dijemur,” urainya kepada BacaMalang.com di lokasi wisata tersebut pertengahan pekan lalu.

Jero menambahkan, proses penjemuran dilakukan selama kurang lebih seminggu, tergantung intensitas terik sinar matahari. Kemudian biji-biji kopi tersebut baru dikupas dan bisa disangrai.

“Secara tradisional pakai kayu bakar seperti ini, lama sangrainya sekitar 45 menit untuk setiap satu kilo biji kopi. Kalau pakai mesin tentunya bisa lebih cepat lagi,” tukas wanita yang sudah 10 tahun bertugas di Bali Pulina ini.

Seorang wisatawan mancanegara mengamati luwak dengan biji kopi yang disiapkan sebagai makanannya dalam kandang di tempat wisata Bali Pulina, yang berlokasi di Utara Ubud, tepatnya di Pujung Kelod, Tegallang, Gianyar, Bali, belum lama ini. (Nedi Putra AW)

Setelah sangrai selesai, biji kopi tersebut ditumbuk agar halus dan selanjutnya diayak, dimana hasil ayakan tersebut sudah bearoma dan siap untuk diseduh.

Bagi pengunjung, pihak Bali Pulina juga menyiapkan tester kopi luwak ini maupun produk non kopi lainnya yang sudah dipersiapkan penampilannya sesuai gambar di menu. Selain dapat memesan minuman sesuai keinginanan ditemani kudapan ringan sambil menikmati pemandangan hijau yang menyegarkan, pengunjung, baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara dapat membeli aneka produknya yang sudah tersedia pula di toko yang ada di area Bali Pulina tersebut.

Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang Biger Adzanna Maghribi menanggapi model kopi luwak seperti Bali Pulina ini sebenarnya berpotensi untuk direplikasi sebagai obyek wisata di Malang, khususnya yang berhawa dingin, seperti Batu, maupun kawasan pegunungan antara lain lereng Gunung Kawi dan Arjuno yang cocok untuk perkebunan kopi.

Data BPS 2023 menyebutkan, Kabupaten Malang merupakan daerah produsen kopi terbesar di Jawa Timur dengan jumlah sebanyak 13.673 ton, dengan kopi yang paling terkenal adalah kopi ‘Amstirdam’, singkatan dari beberapa perkebunan kopi yang meliputi Kecamatan Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit.

“Memang ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian sebelumnya, selain modal usaha, utamanya ada kebiasaan yang berbeda antara masyarakat Bali dengan Jawa, khususnya Malang. Kopi Luwak di Bali Pulina ini salah satu tempat yang kerap didatangi orang asing dengan budaya yang berbeda, yang tentunya akan berdampak secara sosial. Kita tahu kalau masyarakat Bali pada dasarnya sudah terbuka kepada orang asing karena sumber pemasukan utamanya memang dari sektor pariwisata, sehingga turis akan merasa nyaman,” bebernya.

Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang Biger Adzanna Maghribi (kiri), saat mencoba kopi luwak maupun produk non kopi lainnya Bali Pulina.(Nedi Putra AW)

Namun Biger menegaskan, bahwa potensi untuk itu tetap terbuka untuk Malang. Dari sisi literasi keuangan, menurut dia, siapapun yang menjadi pengusaha harus paham setiap fitur produk industri keuangan. Dikatakan pria yang hobi diving ini, produk keuangan ada segmentasinya masing-masing, tidak sama rasa sama rata.

“Pengusaha harus paham fitur-fitur tersebut, seperti pinjaman jangka pendek, menengah atau panjanga mana yang akan diambil, kemudian produk keuangan apa yang digunakan. Kami dari OJK melihat banyak yang ahli dalam berbisnis tapi lupa dalam manajemen keuangannya,” ujar pria yang dikukuhan sebagai Kepala OJK Malang pada 1 Juli 2024 lalu ini.

Peluang bisnis seperti kopi luwak Bali Pulina di Malang ini masih terbuka, karena Biger juga melihat bahwa bisnis yang segmented akan tetap punya market atau pasar.

“Contohnya waktu saya ke Jepang, ada coffee shop Indonesia yang menyediakan kopi Indonesia yang cukup terkenal di Tokyo. Jadi untuk Malang tetap bisa diupayakan dengan tempat-tempat yang udara dan iklim yang menunjang pertumbuhan kopi seperti yang disebutkan tadi yakni Batu, maupun lereng-lereng gunung Kawi maupun Arjuno. Jadi saya tegaskan bahwa bisnis seperti ini segmented tapi ada marketnya,” urai dia.

Biger juga berharap pengusaha terus berinovasi dengan perubahan. Ia membandingkan tampilan Bali Pulina yang dinamis mengikuti perkembangan masa.

“Kebetulan saya cukup sering ke sini, jadi ada beberapa perubahan dari sebelumnya, seperti tiket masuk gratis dimana sebelumnya berbayar, serta display luwak sehingga kita tahu proses bagaimana kopi itu dimakan sampai hadir di cangkir kita,” pungkas mantan Staf Khusus Dewan Komisioner OJK ini.

Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 218 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Grand Whiz Hotel Trawas Hadirkan “Haven June Staycation”, Kombinasi Pegunungan Asri, Fasilitas Ramah Keluarga, dan Aktivitas Anak yang Menarik

18 Juni 2026 - 20:20 WIB

Taste of Asia, Promo All You Can Eat Persembahan Atria Hotel Malang di Akhir Pekan

11 Juni 2026 - 15:57 WIB

Lan Hua Chinese Restaurant Malang Sajikan Dragon Boat Family Set, Hadirkan Momen Bersantap Intim Bertiga

9 Juni 2026 - 13:56 WIB

Disparbud Gandeng Penggerak Konservasi Perkuat Ekowisata dan Eduwisata Pesisir Malang Selatan

7 Juni 2026 - 09:26 WIB

Ngopi di Bangunan Kolonial Belanda, 7 Cafe Batu Tawarkan Sensasi Berbeda dengan Harga Ramah Kantong

31 Mei 2026 - 19:45 WIB

Libur Panjang, 3.500 Wisatawan Padati Mikutopia: Wahana Mega Disco Jadi Favorit Pemacu Adrenalin

31 Mei 2026 - 15:58 WIB

Trending di KULWIS

©Hak Cipta Dilindungi !