BACAMALANG.COM – Di tengah fluktuasi harga komoditas hortikultura, para petani jeruk di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, menikmati berkah panen raya. Salah satunya adalah Sugeng Supriyanto, seorang guru sekaligus petani asal Desa Tawangrejeni yang sukses meningkatkan penghasilannya dari kebun jeruk berukuran mungil milik mertuanya.
Lahan seluas 30 x 50 meter itu ditanami Jeruk Siam (Citrus Nobilis) dan mampu menghasilkan 50 kg hingga 1 kuintal setiap kali panen. Meski terbatas dari sisi luas, hasilnya tetap manis—secara harfiah dan ekonomi. Sugeng menuturkan bahwa kunci keberhasilan terletak pada ketelatenan pemupukan dan pemilihan waktu panen yang tepat.
“Ini panennya sudah ke-sekian kali. Sekarang lagi musim panen raya juga di banyak tempat,” ujarnya saat ditemui di tengah rindangnya kebun jeruknya.
Tidak hanya fokus bertani, Sugeng juga aktif sebagai guru Bahasa Jawa dan pengusaha travel carter mobil. Meski disibukkan berbagai peran, ia tetap serius dalam mengelola kebun jeruk. Bahkan, demi menghindari anjloknya harga di tingkat tengkulak, Sugeng memilih menjual langsung ke konsumen. Strategi ini terbukti meningkatkan margin keuntungan secara signifikan.
“Langsung jual ke pembeli jauh lebih menguntungkan. Kalau pakai perantara, marginnya tipis,” jelasnya.
Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam urusan pemasaran. Karena itu, Sugeng mendorong agar petani mulai memanfaatkan media sosial untuk promosi digital. “Jeruk lokal Turen itu punya rasa khas. Kalau dipromosikan dengan benar, bisa tembus ke luar daerah,” tambah pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris PMI Kecamatan Turen dan pengurus NU di tingkat desa.
Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Malang, produksi jeruk pada tahun 2022 mencapai 12.456 ton—naik 10 persen dari tahun sebelumnya. Fakta ini menjadi sinyal kuat bahwa budidaya jeruk memiliki prospek menjanjikan, termasuk bagi petani kecil dengan lahan terbatas.
“Jeruk masih menjanjikan. Bagi saya, panen raya bukan hanya soal hasil, tapi tentang rasa syukur dan kebanggaan menjadi petani,” pungkas Sugeng sumringah.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































