BACAMALANG.COM – Pengenalan cita rasa khas dari produk-produk kopi di sekitar cagar biosfer penting dilakukan, untuk selanjutnya bersama-sama menjalankan konservasi dan keberlanjutan dalam sektor kopi. Hal ini karena tanaman kopi mempunyai peran penting menjaga keseimbangan ekologi di kawasan cagar biosfer di Jawa Timur.
Sebanyak 16 sampel kopi dipersiapkan dan diuji dalam kegiatan “Publik Cupping Kopi” yang diselenggarakan Universitas Brawijaya (UB) dengan menggandeng Kembang Galengan Banyuwangi, Bumi Kopi Malang, dan Sumber Wandhe coffee lab Jombang.
Setiap sampel kopi ini menawarkan karakteristik yang unik, mulai dari jenis kopi hingga metode pengolahan yang menciptakan variasi aroma dan rasa yang kaya. Sampel kopi tersebut mencakup berbagai jenis kopi, seperti Arabika, Robusta, Liberika, dan Excelsa, yang diolah dengan metode-metode khusus seperti fermentasi anaerobik dan co-fermentation untuk menghasilkan citarasa yang beragam.
Misalnya seperti jenis Arabica Mosto Black Tea menonjolkan aroma buah-buahan seperti Blueberry dan Stroberi dalam aroma keringnya, dengan aroma basah yang cenderung cokelat dan woody, serta cita rasa yang mengombinasikan Strawberry, Blueberry, dan sedikit sentuhan kayu. Di sisi lain, Kopi Liberika yang termasuk dalam sampel ini memperlihatkan aroma earthy dan kayu yang khas, dengan rasa yang tebal dan bold, menghadirkan nuansa nangka dan kayu manis yang kuat.
Selain itu, ada pula Excelsa Anaerobic 120H, yang memancarkan aroma eksotis serundeng, muscat grapes, dan green apple, dengan cita rasa buah-buahan tropis yang kuat, seperti ceri dan jeruk-jerukan, memberikan pengalaman minum kopi yang unik dan segar. Semua sampel ini menunjukkan betapa beragamnya karakter kopi dari Jawa Timur, khususnya dari dua cagar biosfer utama yaitu Bromo Tengger Semeru Arjuno dan Blambangan, yang masing-masing menyimpan keragaman alam dan ekologi yang turut mempengaruhi kualitas dan cita rasa kopi.
“Kegiatan seperti ini perlu didorong untuk mengenalkan cita rasa khas dari produk-produk kopi di sekitar cagar biosfer, terutama untuk kopi yang masih jarang dikenal seperti Liberika. Kopi Liberika itu punya pontensi yang baik terhadap kondisi perubahan iklim,” tutur Ketua DRPM Universitas Brawijaya Prof.Luchman Hakim.S.si, M.Agr.Sc, Ph.D.
Pihaknya berusaha mendukung penguatan kapasitas masyarakat dalam pemahaman dan penyelenggaraan agrowisata di wilayah cagar biosfer di Jawa Timur khususnya melalui pengembangan produk-produk unggulan, salah satunya kopi.
Acara ini dihadiri oleh para pegiat kopi, mahasiswa, petani, roaster, serta masyarakat umum, yang bersama-sama belajar tentang kekayaan kopi lokal yang tumbuh di wilayah konservasi ini.
Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menyampaikan pentingnya konservasi dan keberlanjutan dalam sektor kopi, mengingat peran penting tanaman kopi dalam menjaga keseimbangan ekologi di kawasan cagar biosfer di Jawa Timur.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga





















































