BACAMALANG.COM – Saat ini, mengangkat potensi suatu daerah harus dijalankan dengan menggunakan berbagai sumber daya, terutama teknologi.
Seperti yang dilakukan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Program Pengembangan Pemberdayaan Desa (P3D) Universitas Brawijaya (UB) di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
Mereka mencoba menggali potensi masyarakat lewat batik untuk menciptakan mata pencaharian baru dan mewujudkan masyarakat berbudaya lingkungan. Salah satu kegiatan uniknya adalah menggelar peragaan busana atau fashion show di aula Kantor Kepala Desa Tawangsari yang berada di ketinggian ± 1.000 – 2.500 mdpl, Senin (15/11/2021).
Aula tersebut disulap menjadi catwalk yang cantik meski didesain sederhana. Cukup dengan balutan kain kuning keemasan sebagai latar belakang, serta gelaran karpet dan deretan kursi penonton di kiri dan kanannya.
Para model yang terdiri dari mahasiwa UB, Putri Brawijaya, Duta Budaya dan Museum Kota Malang serta pemuda-pemudi Desa Tawangsari berjalan memeragakan berbagai motif batik hasil karya komunitas desa setempat. Meski demikian, suasana tak ubahnya seperti catwalk yang biasa digelar. Panitia menyiapkan tata lampu yang memadai untuk pengambilan gambar maupun video, serta tata suara yang cukup mumpuni walaupun dengan peralatan standar.
Penonton yang terdiri dari para ibu, perangkat desa serta undangan dari dinas terkait tampak antusias serta selalu mengarahkan kamera ponselnya kepada setiap model yang sedang beraksi.
Ketua tim Herlin Sri Wahyuni menjelaskan, Desa Tawangsari di Pujon ini dipilih sebagai lokasi pemberdayaan masyarakat karena merupakan salah satu desa 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal).
“Padahal setelah kami terjun ke sini, mereka memiliki banyak aspek potensi, baik sumber daya alam maupun manusia, hanya belum optimal dalam memanfaatkan potensi tersebut,” ujarnya kepada bacamalang.com saat ditemui di sela kegiatan, Senin (15/11/2021).
Herlin menambahkan, kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Eksekutif Mahasiswa (EM UB) tersebut mencoba membantu masyarakat Desa Tawangsari secara komprehensif menggali potensi lewat produksi batik yang disebut batik “Djojo De Sari” atau Jaya Desa Tawangsari.
“Sebelum kegiatan fashion ini, kami sudah berupaya membantu dengan berbagai aspek, mulai pendampingan produksi dan pemasarannya, branding produk, pembuatan batik cap, serta pengelolaan limbah batik agar tidak mencemari lingkungan sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan dalam mewujudkan masyarakat Desa Tawangsari berbudaya lingkungan atau menerapkan gaya hidup nol sampah atau zero waste life,” papar Herlin.
Mahasiswa Fakultas Hukum Angkatan 2019 ini mengatakan, kegiatan loka karya berupa fashion show ini sengaja digelar secara offline dan disiarkan langsung lewat media sosial agar tersebar luas sebagai bentuk memperkenalkan atau memamerkan produk batik Desa Tawangsari lewat hasil program pengabdian dilakukan dia bersama timnya.
“Tujuan utama kami adalah menjadikan Desa Tawangsari ini sebagai desa percontohan atau desa mandiri yang bisa dilihat desa lainnya serta menjadikan batik sebagai mata pencaharian baru bagi warganya yang mayoritas adalah petani dan peternak,” urai dia.
Herlin menjelaskan, pengembangan batik ini tetap dengan mengusung kearifan lokal desa setempat, yang diterapkan dalam motif batik yang dibuat. “Desa Tawangsari termasuk salah satu produsen tomat, wortel serta banyak ternak sapi untuk produksi susu, sehingga motifnya pun mengambil dari potensi yang ada sebagai ciri khas daerah,” tuturnya.
Kepala Desa Tawangsari Miftahul Anwar mengapresiasi kegiatan loka karya mahasiswa UB lewat fashion show batik “Djojo De Sari” ini.
“Saya berharap ibu-ibu PKK maupun kader yang berminat membatik segera bergabung ke komunitas agar produksi batik di desa ini bisa kontinyu,” ujarnya.
Oleh karena itu Miftahul Anwar juga berharap partisipasi semua pihak agar pengembangan dan pendampingan ini dapat berkelanjutan, tidak terhenti di satu titik saja.
Penanggungjawab kegiatan P3D untuk mahasiswa Dr. Agus Susilo, S.Pt., MP., IPM.,ASEAN Eng mengatakan, fokus tahun ini adalah di pemasaran produk, setelah sebelumnya para mahasiswa sudah melakukan pembinaan dan pendampingan hingga terbentuknya komunitas batik di desa Tawangsari.
P3D merupakan pengembangan lanjutan dari kegiatan Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) terpilih yang sudah dilaksanakan tahun sebelumnya. “Pada dasarnya mereka sudah melakukan penguatan juga kepada para karang taruna, agar apa yang sudah dibina bersama tidak putus sampai di sini,”ujarnya.
Wakil Dekan III Fakultas Peternakan UB ini berharap program ini tetap berlanjut, khususnya dengan pendampingan dari pihak UB terkait kerjasama dengan Desa Tawangsari di bidang lainnya. (ned)





















































