BACAMALANG.COM-Menguatnya intoleransi, konflik horizontal, sentimen kesukuan, hingga menyempitnya ruang dialog menunjukkan bahwa menjaga kebhinekaan tidak cukup melalui seremoni, tetapi membutuhkan komitmen bersama. Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 kali ini menjadi momentum merefleksikan kembali pentingnya merawat persatuan bangsa di tengah berbagai potensi perpecahan yang mengemuka akhir-akhir ini.
Berangkat dari pemikiran tersebut Program Doktoral Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Strategi Penguatan Nilai-Nilai Pancasila dan Cinta Tanah Air di Tengah Potensi Masyarakat Terbelah”, akhir pekan lalu di GKB IV Kampus 3 UMM.
FGD pada Sabtu (15/08/2026) tersebut menghadirkan tokoh lintas agama dan pemerhati sosial untuk membahas langkah konkret mencegah perpecahan sekaligus memperkuat persatuan. Para narasumber menekankan bahwa perbedaan semestinya menjadi modal sosial yang dirawat melalui toleransi, komunikasi terbuka, serta penghormatan terhadap kemanusiaan.
Salah satu narasumber, Pendeta David Tobing, Sekjen Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB), menilai kondisi masyarakat saat ini seperti rumput kering yang mudah terbakar. Terjadi fenomena main hakim sendiri, sentimen sukuisme, hingga intoleransi menunjukkan pentingnya upaya bersama menjaga persatuan dan mencegah konflik sejak dari akar rumput.

Pendeta David Tobing, Sekjen Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB), bersama Prof. Dr. Mufidah dari Perempuan Antar Umat Beragama (PAUB) saat paparan dalam (FGD) bertema “Strategi Penguatan Nilai-Nilai Pancasila dan Cinta Tanah Air di Tengah Potensi Masyarakat Terbelah”, yang digelar Program Doktoral Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhir pekan lalu di GKB IV Kampus 3 UMM. (ist)
“Indonesia hari-hari ini seperti taman rumput yang sedang kering, gampang sekali terbakar. Satu pemantik kecil saja sudah dapat membuat begitu banyak huru-hara dan ujung-ujungnya korban jiwa,” tegasnya.
Menurut David, momentum kemerdekaan harus menjadi kesempatan menghadirkan kabar baik di tengah masyarakat. Di sini, tokoh agama dan masyarakat diharapkan mampu menjadi jembatan yang memperkuat kebhinekaan sekaligus meredam provokasi yang berpotensi memecah persatuan.
“Apalagi dengan momen 17 Agustus ini, diharapkan kehadiran kita di tengah masyarakat bisa memberikan good news, kabar baik bahwa di Indonesia masih ada yang peduli akan kebhinekaan dan kemanusiaan,” lanjutnya.
FGD Doktoral Sosiologi UMM menegaskan bahwa merawat persatuan bangsa merupakan tanggung jawab bersama. Momentum kemerdekaan menjadi pengingat bahwa kebhinekaan perlu dijaga melalui toleransi, dialog lintas kelompok, kebebasan berpendapat, penghormatan terhadap kemanusiaan, dan keadilan sosial agar perbedaan tetap menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
Seperti disampaikan Prof. Dr. Mufidah dari Perempuan Antar Umat Beragama (PAUB), yang menyoroti keadilan sosial sebagai bagian penting dalam merawat persatuan. Menurutnya, rasa aman dan keadilan harus dirasakan seluruh masyarakat, termasuk kelompok rentan dan perempuan yang masih menghadapi kekerasan serta budaya patriarki.
“Di ulang tahun Indonesia yang ke-81, yang seharusnya sudah menjadi ‘mbah buyut’ dan sudah mapan, sudah tinggal lungguh nang pojokan sambil ‘mantuk-mantuk’, ternyata masih menangis. Indonesia pada saat ini adalah dari sakti menjadi sakit,” ungkapnya.
Ia menegaskan, persatuan sulit tumbuh apabila sebagian masyarakat masih merasa tidak aman, tidak didengar, atau tidak memperoleh keadilan. Karena itu, merawat kebhinekaan perlu berjalan beriringan dengan penguatan keadilan sosial.
Di sisi lain, Dr. George Da Silva dari Lembaga Analisis Politik dan Otonomi Daerah (LAPOLDA) menilai komunikasi publik dan ruang demokrasi turut menentukan kokohnya persatuan. Ia menyoroti komunikasi pejabat publik yang tidak konsisten serta pentingnya menjaga ruang kebebasan berpendapat agar masyarakat memiliki kanal yang sehat untuk menyampaikan kritik dan perbedaan.
“Potensi perpecahan adalah sumber dari dinamika internal ruwet yang diciptakan kita sendiri. Langkah-langkah ini dapat terhindar apabila kita menciptakan komunikasi yang terbuka, bukan dengan membatasi ruang diskusi masyarakat,” pungkas Dr. George.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































