BACAMALANG.COM – Universitas Ma Chung (UMC) Malang genap berusia 18 tahun pada 7 Juli 2025. Selama perjalanannya, universitas ini telah melahirkan banyak alumni berprestasi. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa asal-usul pendirian Universitas Ma Chung menyimpan sejarah panjang yang turut mewarnai perjalanan Kota Malang.
Dosen Universitas Ma Chung, Dr. Felik Sad Windu Wisnu Broto, SS, M.Hum., dalam penelitiannya menelusuri jejak sejarah UMC yang berakar dari sebuah sekolah menengah bernama Ma Chung, yang pernah berdiri di Malang. Dalam proses penelusuran tersebut, Felik mewawancarai sejumlah tokoh, salah satunya adalah K. Wongso Dihardjo, seorang mantan guru sekaligus saksi sejarah.
“Dulu memang ada sekolah Ma Chung yang beroperasi selama 20 tahun, dari 1946 hingga 1966. Pak Wongso adalah salah satu guru muda di sana yang turut mengalami langsung masa-masa penutupan sekolah itu,” ujar Felik kepada Bacamalang.com, pekan lalu.
Sekolah Ma Chung saat itu merupakan lembaga pendidikan tingkat menengah, yaitu SMP dan SMA. Uniknya, usai lulus SMA, Wongso langsung dipercaya untuk mengajar sebagai ‘lao tse’ (guru), meski usianya masih sangat muda.
Felik mengisahkan, saat pendudukan Jepang menimbulkan keresahan di Malang, seorang aktivis Tionghoa bernama Oe Ie Pan menggagas pendirian sekolah Ma Chung bersama rekan-rekannya pada 1946. Saat itu, sekolah dasar sudah cukup banyak, sehingga mereka langsung membuka sekolah menengah, mengingat satu-satunya sekolah menengah yang ada hanyalah Taman Harapan, yang sudah berdiri sejak masa kolonial.
Sebelumnya, Felik juga berdiskusi dengan sejarawan FX Domini BB Hera (akrab disapa Sisco), yang menyebut bahwa pasca kemerdekaan, terutama setelah peristiwa pertempuran di Surabaya, banyak aktivitas sosial-politik dipindahkan ke Malang. Para nasionalis progresif Tionghoa juga turut bermigrasi, termasuk tokoh seperti Siauw Giok Tjhan, mantan Menteri Urusan Peranakan di era Kabinet Amir Sjarifuddin. Sisco menegaskan bahwa komunitas Tionghoa di Malang telah memiliki basis pendidikan yang kuat, termasuk donatur, aktivis, dan konsep pendidikan inklusif.
“Pada masa itu, Ma Chung menjadi pelopor pendidikan komunitas Tionghoa di Malang. Bahkan, keberadaannya menjadi teladan sebelum munculnya sekolah-sekolah lain, seperti sekolah misi Katolik pada tahun 1951,” jelas Felik.
Nama aslinya “Malang Chung Hua Chung Hsueh” yang artinya Sekolah Menengah Tionghoa Malang, atau disebut juga sebagai “Ma Chung”. Mengenai fasilitas, awalnya sekolah Ma Chung tidak memiliki gedung tetap. Mereka berpindah-pindah di kawasan Pecinan Pasar Besar Malang, dengan proses pindahan dilakukan menggunakan pedati sapi. Pada awal 1950-an, barulah sekolah ini menempati gedung permanen yang kini menjadi SMAN 5 Malang di Jalan Tanimbar.
“Gedung itu tergolong mewah saat itu. Pembangunannya didukung oleh gerakan penggalangan dana yang dikenal dengan istilah ‘Ma Chung Rp 100’,” ungkap Felik, dosen Ma Chung sejak 2014.
Tak hanya SMAN 5, Gedung Kesenian Cendrawasih di Jalan Nusakambangan—kini dikenal sebagai Gedung Kesenian Gajayana—juga menjadi bagian dari sejarah Ma Chung. Pengamat sejarah Agung H. Buana menyebutkan, gedung tersebut dibangun oleh komunitas Tionghoa Ma Chung THHK dan difungsikan sebagai aula atau tempat pertemuan sekolah, yang kala itu juga sempat digunakan Presiden Soekarno untuk acara kenegaraan maupun pertunjukan seni dan penggalangan dana.

Dosen Ma Chung, Dr. Felik Sad Windu Wisnu Broto, SS, M.Hum, bersama salah satu panel dinding gedung rektorat yang menunjukkan dokumentasi sejarah Sekolah Ma Chung dengan kegiatan belajar mengajar di gedung yang saat ini menjadi SMAN 5 Kota Malang. (Nedi Putra AW)
Sayangnya, masa kejayaan sekolah Ma Chung berakhir pada tahun 1966, seiring dinamika politik nasional pasca 1965 yang sangat mempengaruhi kehidupan komunitas Tionghoa di Indonesia, termasuk Malang.
“Pak Wongso menceritakan bahwa sekolah terpaksa ditutup saat ujian caturwulan tengah berlangsung. Para guru yang tinggal di asrama sekolah pun segera meninggalkan tempat untuk menyelamatkan diri,” ujar Felik, yang juga mengajar di Prodi Manajemen.
Pasca penutupan, para alumni sekolah Ma Chung berpencar, bahkan hingga ke luar negeri. Baru pada September 2001, dalam sebuah reuni akbar di Kota Xiamen, Tiongkok, muncul ide mendirikan universitas sebagai bentuk kontribusi nyata kepada Indonesia, terutama setelah krisis moneter 1998.
“Para alumni menyadari bahwa reuni semata tak cukup. Maka dengan semangat ‘minum air ingat sumbernya’, tercetuslah pendirian Universitas Ma Chung, yang diresmikan pada 7 Juli 2007 oleh Yayasan Harapan Bangsa Sejahtera di kawasan Tidar, Malang,” jelas Felik.
Menyambut Dies Natalis ke-18, Universitas Ma Chung akan menggelar sejumlah kegiatan, termasuk pengukuhan dua Guru Besar baru pada Senin, 7 Juli 2025, serta Chinese Festival (ChiFest) Ma Chung, sebuah festival kuliner dan seni budaya yang tahun ini akan menghadirkan grup musik pop indie HiVi!.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































